HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN PENGETAHUAN PETANI MENGENAI FERMENTASI BIJI KAKAO:

HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN PENGETAHUAN PETANI MENGENAI FERMENTASI BIJI KAKAO:

Kasus di Subak-abian Asagan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan

 

Oleh Gede Sedana

Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

 

ABSTRACTS

 

            Cocoa is one of the prime comodities in Indonesia including in Bali and Tabanan district. Development of cocoa industry has good potential in supporting the growth of rural development. The production of cocoa beans in Indonesia has been increased, but the quality is very low, such as non-fermented, not proper moisture, high variance of cocoa beans size, high acidity and unqualified taste. The objectives of this research are to know farmers’ attitude and  knowledge, and correlation between their attitude and knowledge, and to describe the reasons of farmers who have not conducted fermentation yet of cocoa beans.

 

            The research was purposively done in Subak-abian Asagan, Sub-district of Selemadeg Timur, Tabanan district. Samples selected were 50 farmers by using simple random sampling. Data were collected by employing quetionaire, interview, observation and documentation. The analysis employed in this research was chi square.

 

            The results of this research pointed out that farmers’ attitude toward cocoa beans fermentation were agreed with the average score 72,50% and its interval was between 62,40% to 89, 40%. Farmers’ knowledge about cocoa beans fermentation were relatively high, 78,20%, in which its interval was between 51,20% to 86,40%. Based on the Chi Square Analysis, there was significant relationship between farmers’ attitude and knowlegde toward cocoa beans fermentation. Some reasons that caused farmers have not done yet the fermentation were nonsignificant prices between fermented cocoa beans and nonfermented one, take longer time, limited equipment for fermentation, get easier to sell non-fermented beans, and lack of farm capital.

 

ABSTRAKSI

 

Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang utama Indonesia termasuk di Provinsi Bali dan Kabupaten Tabanan. Potensi pengembangan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan pembangunan di perdesaan. Produksi biji kakao di Indonesia terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan masih beragam  seperti:   kurang terfermentasi; tidak cukup kering;  ukuran biji tidak seragam;    keasaman tinggi; dan cita rasa sangat beragam seperti terjadi juga di Kabupaten Tabanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap dan pengetahuan petani serta hubungannya mengenai fermentasi biji kakao, dan mengetahui alasan-alasan petani belum melakukan fermentasi.

 

Penelitian ini dilakukan di Subak-abian Asagan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan yang dipilih secara purposif. Jumlah sampel yang diambil secara “simple random sampling” adalah sebanyak 50 petani. Data dikumpulkan dengan teknik kuesioner, wawancara, observasi dan dokumentasi, dimana selanjutnya dianalisis dengan Khi Kuadrat.

 

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi adalah tergolong setuju dengan rata-rata pencapaian skornya sebesar 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%.  Tingkat pengetahuan petani mengenai pengolahan biji kakao secara fermentasi tergolong tinggi yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %.  Berdasarkan pada analisis Khi Kuadrat diperoleh bahwa terdapat hubungan yang nyata antara sikap dengan pengetahuan petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi.  Beberapa alasan yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi adalah perbedaan harga yang tidak signifikan antara biji kakao yang fermentasi dengan yang tidak fermentasi, membutuhkan waktu yang lama, keterbatasan prasarana pengolahan, mudahnya menjual biji kakao asalan dan lemahnya modal usahatani.

 


I. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

Kakao di Indonesia merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang memiliki peranan cukup penting bagi perekonomian nasional secara keseluruhan (Goenadi, dkk., 2005). Beberapa peranan komoditas kakao di antaranya adalah sebagai berikut: (i) sebagai penyedia lapangan kerja bagi warga masyarakat khususnya di perdesaan, (ii) sumber pendapatan dan menambah devisa negara dari hasil non-Migas, dan (iii) mendorong pertumbuhan perekonomian wilayah dan pengembangan agroindustri baik yang sektor hulu maupun hilir.

 

Lebih lanjut Goenadi, dkk., (2005) menyebutkan juga bahwa kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending, sehingga dari sisi kualitas kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia,  dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor selain memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, potensi pengembangan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan adalah sangat terbuka. Produksi biji kakao di Indonesia terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan masih beragam  seperti:   kurang terfermentasi; tidak cukup kering;  ukuran biji tidak seragam;  kadar kulit tingi;  keasaman tinggi; dan cita rasa sangat beragam.

 

Kondisi tersebut di atas disebabkan karena agribisnis kakao di Indonesia termasuk di Bali masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao.

 

Sentra kakao di Bali adalah di Kabupaten Tabanan dan Jembrana, dimana kakao juga merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan selain kopi, cengkeh dan kelapa. Kebijaksanaan Dinas Perkebunan terhadap pengembangan kakao adalah mencakup beberapa hal, yaitu: (i) peningkatan produktivitas; (ii) peningkatan mutu olahan dan mendorong proporsi kakao fermentasi; (iii) mendorong tumbuhnya usaha diversifikasi produk menuju produk yang lebih hilir; (iv) mendorong pemanfaatn limbah dan tumbuhnya pola integrasi; (v) penguatan kelembagaan dan SDM; dan (vi) pemantapan dan memperluas akses pasar.

 

 Dewasa ini, perkembangan kakao di Bali cukup pesat, khususnya pada sentra-sentra pengembangan yaitu di di Kabupaten Tabanan dan Jembrana. Perkembangan produksi kakao di Provinsi Bali belum diikuti oleh adanya perbaikan mutu biji kakao sehingga biji kakao yang dihasilkan masih bermutu rendah. Akibatnya adalah harga yang diterima petani masih relatif rendah jika dibandingkan dengan harga di daerah lain seperti Sulawesi, apalagi dibandingkan dengan harga terminal dunia (Sedana, 2008).  Mutu biji kakao yang rendah ini disebabkan oleh cara pengolahan yang masih sederhana, yaitu langsung dijemur dan tidak memeperhatikan kualitas biji yang akan dijual baik kadar air, keasaman, warna, jamur, dan lain sebagainya. Selain itu, para petani belum sepenuhnya melakukan fermentasi secara baik padahal fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao.  Proses fermentasi ini memiliki tujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp dan mematikan biji; memperbaiki dan membentuk citarasa coklat yang enak dan menyenangkan, serta mengurangi rasa sepat dan pahit pada biji (Putra, 2008). 

 

Guna mewujudkan pencapaian tujuan terhadap biji kakao fermentasi, Pemerintah Provinsi Bali telah menginstruksikan kepada Bupati se Bali, instansi terkait, para pengusaha, pedagang pengumpul, pedagang antar pulau, pengurus asosiasi petani kakao indonesia, pengurus subak-abian yang mengusahakan kakao untuk melakukan pengolahan dan pemasaran kakao secara fermentasi. Instruksi ini dituangkan melalui Instruksi Gubernur Nomor 1 tahun 2008 mengenai Pengolahan dan Pemasaran kakao secara Fermentasi (Anon., 2008a). Namun, belum banyak subak-abian yang melakukan fermentasi kakao karena berbagai alasannya. Salah satu subak-abian yang belum melakukan fermentasi padahal telah memperoleh penyuluhan mengenai teknologinya adalah Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Oleh karena itu, penelitian mengenai aspek sosial yang berkenaan dengan pengolahan kakao secara fermentasi perlu dilakukan.

 

1.2 Rumusan Masalah

           

Memperhatikan Latar Belakang Masalah yang disebut di atas, yaitu belum banyak subak-abian yang melakukan pengolahan kakao secara fermentasi, maka masalah yangd irumuskan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah karakteristik petani kakao di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan?;
  2. Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan sikap petani mengenai proses fermentasi biji kakao di Subak-abian Asagan?;
  3. Bagaimanakah hubungan antara pengetahuan dengan sikap petani dengan tingkat pengetahuannya mengenai proses fermentasi biji kakao?; dan
  4. Alasan-alasan apakah yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi akkao?

 

1.3 Tujuan Penelitian

           

Sejalan dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani mengenai proses fermentasi biji kakao di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan;
  2. Untuk mengetahui sikap petani terhadap proses pengolahan kakao melalui fermentasi;
  3. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap petani dengan tingkat pengetahuannya mengenai proses fermentasi biji kakao; dan
  4. Untuk menggambarkan alasan petani belum melakukan fermentasi kako.

 

 

 

1.4 Manfaat Penelitian

 

            Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang memiliki manfaat ganda, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Pada sisi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi input penting bagi pemerintah (pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten) yang hendak mengambil kebijakan yang berkenaan dengan perbaikan kualitas biji kakao melalui proses proses fermentasi. Sementara dari sisi teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan khasanah pengetahuan mengenai aspek sosial petani yang melakukan pengolahan fermentasi terhadap biji kakaonya yang dikaitkan dengan karakteristiknya.

 

II. KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Pengetahuan Petani

 

Pengetahuan merupakan salah satu komponen prilaku petani yang turut menjadi faktor dalam adopsi inovasi. Tingkat pengetahuan petani mempengaruhi petani dalam mengadopsi teknologi baru dan kelanggengan usahataninya. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa dalam mengadopsi pembaharuan atau perubahan, petani memerlukan pengetahuan mengenai aspek teoritis dan pengetahuan praktis. Sebagai salah satu aspek dari prilaku, pengetahuan merupakan suatu kemampuan individu (petani) untuk mengingat-ingat segala  materi yang dipelajari dan kemampuan untuk mengembangkan intelegensi (Soedijanto, 1978).

 

Ancok (dalam Saefudin, 1989) menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan tahap awal terjadinya persepsi yang kemudian melahirkan sikap dan pada gilirannya melahirkan perbuatan atau tindakan.  Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal, akan mendorong terjadinya perubahan perilaku pada diri individu, dimana pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan seseorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya.  Adanya niat yang sungguh-sungguh untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya dapat menentukan apakah kegiatan itu betul-betul dilakukan. Mar’at (1984) mengatakan bahwa pengetahuan memiliki peranan dalam memunculkan sikap dan persepsi seseorang terhadap suatu objek tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya.

 

2.2 Sikap Petani

 

Soediyanto (1978) menyebutkan bahwa sikap petani diartikan sebagai suatu kecenderungan petani untuk bertindak, seperti tidak berprasangka terhadap hal-hal yang belum dikenal, ingin mencoba sesuatu yang baru, mau bergotong royong secara swadaya. Sikap (“attitude”) adalah suatu kecendrungan yang agak stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu didalam situasi tertentu. Senada dengan pendapat tersebut Sarwono (1976) juga menyebutkan bahwa sikap merupakan suatu kesiapan individu untuk mengambil tindakan secara tertentu terhadap objek tertentu yang sedang dihadapinya. Sikap juga diartikan sebagai suatu pandangan atau sikap perasaan, dimana sikap itu diikuti oleh kecenderungan untuk bersikap sesuai dengan objek itu sendiri (Gerungan, 1986).

 

Disebutkan bahwa sikap positif akan terjadi apabila terdapat suatu kecendrungan untuk menerima perilaku yang dianjurkan, dan sebaliknya sikap negatif terjadi jika terdapat kecendrungan yang menolak terhadap suatu objek tertentu. Diantara sikap yang positif dan negatif tersebut terdapat sikap yang ragu-ragu (Nuraini dan Sudarta, 1991).

 

2.3 Fermentasi Kakao

 

Fermentasi kakao merupakan salah satu tahapan penting dalam pasca-panen kakao yaitu sebagai perlakuan pada biji kakao basah untuk memperoleh cita rasa khas cokelat dan memperoleh mutu biji kakao yang baik karena melalui fermentasi biji akan dapat dengan mudah terjadinya pelepasan zat lendir dari permukaan kulit biji dan membentuk cita rasa khas cokelat serta mengurangi rasa pahit dan sepat yang ada dalam biji kakao sehingga menghasilkan biji dengan mutu dan aroma yang baik, serta warna coklat cerah dan bersih (Anon., 2004). 

Wahyudi, dkk., (2008) mengatakan bahwa selama proses berlangsungnya fermentasi biji kakao akan mengalami beberapa perubahan pada aspek fisik, kimia, dan biologi. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi meliputi perubahan pada pulp, kulit biji dan kotiledon (bagian dalam biji). Selain itu, fermentasi yang dilakukan kurang lama akan menghasilkan biji dengan lebih banyak berwarna ungu serta memiliki cita rasa pahit dan sepat yang dominan pada produk akhirnya. Sebaliknya, waktu fermentasi yang berlebihan akan menghasilkan biji dengan warna cokelat gelap, cita rasa kurang, kondisi fisik jauh lebih gelap dari pada hasil fermentasi normal, dan terjadi perubahan pembusukan yang ditandai dengan adanya bau tidak enak pada massa biji. Pada fermentasi yang sempurna terhadap biji kakao akan sangat menentukan citarasa biji kakao dan produk olahannya, selain karena diperoleh dari buah yang masak dan sehat serta proses pengeringan yang baik. Yang dimaksudkan dengan fermentasi sempurna adalah proses fermentasi yang dilakukan selama 5 hari sesuai dengan penelitian Sime-Cadbury (Putra, 2008).

Berdasarkan pada pengalaman petani kakao, pengolahan fermentasi masih enggan dilakukan karena beberapa alasan seperti adanya pedagang pengumpul yang membeli bibi kakao asalan (non-fermentasi), harga biji kakao fermentasi dan non-fermentasi tidak berbeda secara signifikan, pengolahan secara fermentasi merepotkan, keterbatasan prasarana fermentasi (Anon., 2003).     

 

Proses fermentasi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yaitu fermentasi dengan kotak kayu fermentasi dan fermentasi dengan keranjang bambu (Anon., 2008b). Pada proses fermentasi yang menggunakan kotak kayu, pada awalnya biji kakao basah dimasukkan ke dalam peti pertama (tingkat atas) sampai pada ketinggian 40 cm. Permukaan kakao kemudian ditutup dengan karung goni atau daun pisang selama 48 jam (2 hari). Selanjutnya, dilakukan proses pembalikan dan pengadukan biji kakao dengan cara memindahkannya ke peti kedua. Setelah 4-5 hari, biji kakao dikeluarkan dari peti fermentasi dan siap untuk proses selanjutnya, yaitu pengeringan. Proses fermentasi yang menggunakan kotak-kotak kayu inilah yang diterapkan oleh Subak-abian Asagan. 

 

III. METODE PENELITIAN

 

 

3.1. Pemilihan Lokasi Penelitian 

 

            Penelitian ini dilakukan di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Penentuan lokasi ini dilakukan secara ”purposive sampling” atau secara sengaja sebagai lokasi penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

1.   Lokasi Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan  menjadi salah satu binaan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan di dalam pengembangan kakao melalui pengolahan fermentasi;

2.   Secara teknis yaitu agroklimat, pengembangan kakao di wilayah Subak-abian Asagan sangat mendukung sehingga terdapat potensi yang tinggi untuk pengembangannya; dan

3.    Petani-petani di wilayah Subak-abian Asagan belum melakukan fermentasi secara baik dan bahkan tidak ada yang melakukan secara khusus.

 

3.2.  Populasi dan Pemilihan Petani Sampel

 

Pada penelitian ini, populasinya adalah seluruh petani di Subak-abian Asagan yang mengusahakan tanaman kakao yang berjumlah sebanyak  79 KK petani. Berkenaan dengan adanya keterbatasan dana, waktu dan tenaga pada peneliti, maka pada penelitian ini dilakukan teknik sampling untuk memperoleh sampel, sehingga tidak seluruh unit populasi dijadikan sebagai unit penelitian. Oleh karena itu, sebanyak 50 orang diambil sebagai sampel dengan menggunakan teknik “simple random sampling” yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana.

 

3.3. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data 

 

            Terdapat dua jenis data yang diperlukan pada penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun bersifat kuantitatif. Secara umum, pengumpulan data primer dilakukan dengan metode survai yaitu dengan melakukan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau dokumentasi/inventarisasi subak, dan dari buku-buku/laporan-laporan penelitian dan sebagainya yang berkenaan dengan penelitian ini. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, survai, observasi langsung dan dokumentasi (Hadi, 1984).

 

3.4. Metode Pengukuran Variabel

 

Pada penelitian ini, variabel-variabel yang diukur dalam kaitannya dengan tujuan ini adalah variabel sosial, yaitu variabel tingkat sikap, pengetahuan yang berkenaan dengan pengolahan biji kakao secara fermentasi. Skor data sikap dan pengetahuan petani terhadap pengolahan kakao secara fermentasi diukur dengan menggunakan teknik skala likert (Newcomb, et.al., 1978). Skala ini terbentuk dalam lima alternatif jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan. Masing-masing skor tersebut menggambarkan derajat responden terhadap pertanyaan yang diajukan dan skor tersebut dinyatakan dalam bilangan bulat yaitu 1,2,3,4, dan 5 untuk setiap jawaban pertanyaan. Berdasarkan nilai pencapaian skor tersebut dan kategori skornya, sikap petani dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu dari sikap sangat setuju sampai dengan sikap yang sangat tidak setuju. Secara lebih rinci dapat dijelaskan seperti pada Tabel 1. Demikian juga halnya dengan pengukuran variabel pengetahuan. Skor tertinggi diberikan nilai lima terhadap jawaban yang sangat diharapkan dan terendah (1) untuk jawaban yang sangat tidak diharapkan.

 

Tabel 1. Kategori sikap dan pengetahuan berdasarkan persentase pencapaian skor

 

No Kategori sikap % ase Skor Kategori pengetahuan
1 Sangat setuju > 84 – 100 Sangat tinggi
2 Setuju > 68 – 84 Tinggi
3 Ragus-ragu > 52 – 68 Sedang
4 Tidak setuju > 36 – 52 Rendah
5 Sangat tidak setuju    20 < 36 Sangat rendah

 

 

3.5. Analisis Data

 

            Seluruh data yang terkumpul selanjutnya ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel, seperti sikap dan pengetahuan petani. Metode analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dan analisis statistika. Metode deskriptif yang dimaksudkan adalah metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan memberikan interprestasinya sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Sedangkan metode analisis statistika dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara sikap petani dengan pengetahuan. Sesuai dengan tujuan penelitian, metode analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis ”chi square” atau khi kwadrat dengan formula sebagai berikut:

X2 =

 

Keterangan:                 n                      = jumlah sampel

                                    a b, c, d           = frekwensi tabel 2 x 2, seperti pada tabel

             (Djarwanto, 1982).

                        

Tabel 2. Tabel 2 x 2 dengan derajatbebas 1 antara 2 variabel, yaitu dengan koreksi yates

 

 

Variabel I

Vaiabel I

Jumlah

Variabel II

a

b

(a + b)

Variabel II

c

d

(c +d)

Jumlah

(a + c)

(b + d)

n

 

            Penggunaan formulasi dilakukan karena terdapat nilai frekwensi pada satu sel atau lebih yang kurang dari 10 atai dikenal dengan “chi square” dengan koreksi yates. Hipotesis yang dipakai adalah:

Ho = tidak ada hubungannya antara ke dua variabel yang diteliti.

Ha = ada hubungan antara kedua variabel yang diteliti.

 

            Nilai “chi square” hitung (yang diperoleh)selanjutnya dibandingkan dengan nilai x2 tabel dengan probalititas lima persen. Adapun kriteria pengambilan keputusan terhadap kedua nilai tersebut adalah sebagai berikut:

Ho. diterima apabila nilai x2 hitung lebih kecil atau sama dengan nilai x2 tabel.

Ho. ditolak apabila nilai x2 hitung lebih besar daripada nilai x2 tabel.

 

 

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Gambaran Umum Lokasi Penelitian

 

Subak-abian Asagan terletak di Dusun Pondok Kelod Desa gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Secara teknis, pengembangan kakao di wilayah subak-abian ini sangat cocok yaitu dengan ketinggian 0-600 m dpl. Rata-rata temperatur udara yang dibutuhkan untuk tanaman kakao juga mendukung yaitu temperatur  rata-rata bulanan 24 0C – 29 0C, serta  curah hujan antara 1500-2000 mm/th. Selain itu, kondisi fisik tanahnya adalah  gembur dengan pH antara 6-7,5. Kelembaban udara dan sinar matahari merupakan faktor yang juga perlu diperhatikan dan dapat diatur dengan pemangkasan tanaman pelindung dan tanaman kakaonya sendiri.

 

Luas keseluruhan Subak-abian Asagan adalah 41,75 ha dengan luasan tanaman kakao adalah mencapai 25 ha. Selain tanaman kakao yang diusahakan, para petani anggota Subak-abian Asagan juga menanam tanaman kelapa yang sekaligus sebagai tanaman pelindung, selain tanaman lainnya seperti pisang, cengkeh, vanili, dan kopi. Tanaman kakao merupakan tanaman utama bagi petani, yaitu sebagai sumber penghasilan pokok selain dari usahatani lainnya termasuk ternak sapi dan babi.

 

4.2  Karakteristik Petani Sampel

 

Pada penelitian ini, karakteristik sampel yang diukur adalah tingkat umur, lama pendidikan formal, besar anggota keluarga, luas garapan, umur tanaman, banyaknya pohon yang ditanam, produktivitas dan status petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata umur petani sampel adalah 43,26 tahun dengan interval antara 26 tahun sampai dengan 61 tahun, seperti ditunjukkan pada Tabel 3. Kondisi ini mengindikasikan bahwa rata-rata umur petani sampel berada pada usia produktif (15-64 tahun).

 

Tabel 3. Karakteristik petani sampel

 

No Item Rata-rata Interval
1 Umur (tahun)

43,26

26-61

2 Lama pendidikan formal (tahun)

10,20

3-12

3 Besar anggota keluarga (orang)

4,58

3-7

4 Luas garapan (ha)

0,50

0,3-1,2

5 Banyaknya pohon

156

40-600

6 Umur tanaman (th)

14,15

12-20

7 Produktivtas (ton/ha)

500,80

340-650

   

Frekuensi

Prosentase

8 Status petani

  1. Pemilik penggarap
  2. Penyakap

 

46

4

 

92

8

            Sumber: Olahan data primer, 2008

 

 

            Rata-rata lama pendidikan formal petani sampel anggota Subak-abian Asagan adalah 10,20 tahun, dengan kisaran antara 3 tahun sampai dengan 12 tahun. Hal ini berarti bahwa pendidikan formal petani sampel adalah setara dengan tingkat SMP (sekolah Menengah Pertama). Hasil penelitian menunjukkan juga bahwa tidaka da petani sampel yang pernah mengikuti pendidikan pada tingkat perguruan tinggi atau yang sederajat.

 

            Rata-rata besar anggota keluarga petani sampel adalah 4,58 orang dengan kisaran antara 3 orang sampai dengan 7 orang. Berdasarkan pada data yang diperoleh, angka ketergantungan (“dependency ratio”) dalam keluarga petani sampel adalah sebesar 1,2. Ini berarti bahwa dari 100 orang yang berada pada usia produktif menanggung sejumlah     120 orang yang berada pada usia tidak produktif (kurang dari 15 tahun dan lebih dari 65 tahun).

 

            Luas penguasaan lahan yang digarap petani sampel rata-ratanya adalah 0,50 ha dengan kisaran luas antara 0,30 ha sampai dengan 1,20 ha. Luasan lahan yag dikuasai petani menunjukkan bahwa garapan petani untuk mengelola usahatani kakao termasuk relatif sempit, sehingga jumlah tanaman yang dikembangkan masih dibawah jumlah tanaman yang optimum, yaitu sekitar 1.200 pohon/ha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar petani sampel (92 %) merupakan petani pemilik penggarap, dan sebanyak 8% adalah petani penyakap.

 

            Rata-rata jumlah pohon yang ditanam petani sampel adalah tergolong sedikit yaitu 156 pohon per 0,50 ha dengan interval antara 40 pohon sampai dengan 600 pohon. Sedikit jumlah tanaman kakao yang diusahakan disebabkan karena petani juga menanam jenis tanaman lainnya, seperti kelapa, pisang dan cengkeh. Pola diversifikasi usahatani dilakukan petani di atas lahan yang relatif sempit. Tujuannya adalah untuk memperoleh hasil sepanjang tahun dari berbagai jenis tanaman yang disuahakan, jika dibandingkan dengan pengusahaan yang monokultur.

 

            Rata-rato produktivitas kakao yang dihasilkan petani adalah relatif rendah yaitu sekitar 500,8 kg/ha. Rendahnya produktivitas ini disebabkan karena pengusahaan tanaman kakao belum mengaplikasikan teknologi budidaya yang baik (“Good Agricultural Practices”). Hasil penelitian yang mendalam menunjukkan bahwa kondisi ini diakibatkan karena keterbatasan modal usahatani yang dimiliki petani untuk membeli sarana produksi, selain belum dilakukannya teknologi PsPSP (Panen Sering, Pemupukan, Sanitasi dan Pemangkasan) secara baik.

             

4.3  Sikap Petani terhadap Fermentasi Biji Kakao

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa rata-rata pencapaian skor petani sampel terhadap sikapnya adalah 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%. Ini berarti bahwa sikap petani berada pada kategori setuju. Secara lebih rinci, distribusi frekuensi petani berdasarkan pada sikapnya terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi dapat dilihat pada Tabel 4.

 

Tabel 4. Distribusi frekuensi petani berdasarkan sikapnya

 

No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Sangat setuju

8

16

2 Setuju

36

72

3 Ragu-ragu

6

12

4 Tidak setuju

0

0

5 Sangat tidak setuju

0

0

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

Data yang ditunjukan pada Tabel 4 diatas menggambarkan bahwa tidak ada petani sampel yang memiliki sikap tidak setujua dan sangat tidak setuju, meskipun terlihat ada 12 % petani sampel yang mengatakan ragu-ragu terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi. Beberapa komponen yang diukur pada sikap petani ini meliputi manfaat ekonomis fermentasi biji kakao, teknologi fermentasi biji kakao dan prasarana dan sarana pengolahan, mutu biji fermentasi, serta  pemasaran biji kakao fermentasi. Satu hal yang menarik pada penelitian ini adalah adanya sikap petani yang setuju atau positif terhadap fermentasi biji kakao tetapi mereka masih belum melakukan fermentasi secara maksimal.

 

4.4 Pengetahuan Petani terhadap Fermentasi Biji Kakao

 

            Berdasarkan pada hasil survai, diperoleh bahwa rata-rata tingkat pengetahuan petani mengenai fermentasi biji kakao adalah tergolong tinggi, yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %. Seperti halnya pada variabel sikap, komponen yang diukur pada pengetahuan petani ini adalah juga meliputi manfaat ekonomis fermentasi biji kakao, teknologi fermentasi biji kakao dan prasarana dan sarana pengolahan, mutu biji fermentasi, serta  pemasaran biji kakao fermentasi. Secara lebih rinci, distribusi frekuensi petani yang didasarkan pada tingkat pengetahuannya dapat dilihat pada Tabel 5.

 

Tabel 4. Distribusi frekuensi petani berdasarkan pengetahuannya

 

No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Sangat tinggi

6

12

2 Tinggi

28

56

3 Sedang

12

24

4 Rendah

4

8

5 Sangat rendah

0

0

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

            Memperhatikan data yang ditampilkan pada Tabel 5 di atas, terlihat bahwa sebagian besar petani yaitu 56 % memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan hanya sebesar 12 % petani sampel yang memiliki pengetahuan sangat tinggi. Terlihat pula bahwa sebanyak 32 % petani sampel memiliki tingkat pengetahuan yang sedang dan rendah, dan ternyata tidak ada petani yang memiliki tingkat pengethauan sangat rendah. Kondisi ini tampak wajar terjadi karena pemerintah melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan dan Dinas Perkebunan Provinsi Bali sering melakukan penyuluhan mengenai fermentasi dan sekaligus memperkenalkan beberapa eksporter kepada para petani. Selain itu, lembaga AMARTA yang dibiayai oleh USAID secara intensif memberikan pelatihan-pelatihan mengenai teknologi budidaya dan paska-panen untuk komoditas kakao sejak tahun 2007.

 

4.5 Hubungan antara Sikap dan Pengetahuan Petani

 

            Berdasarkan pada hasil penelitian dapat dilakukan analisis statistika yaitu menggunakan Uji Khi Kuadrat terhadap variabel sikap dan pengetahuan. Dengan menggunakan formulasi seperti disebutkan di Bab III, dapat dianalisa hubungan antara sikap dengan pengetahuan melalui data frekuensi yang ditujukkan pada Tabel 6.

 

 

            Tabel 6 Frekuensi petani dalam setiap kategori sikap dan pengetahuan

Variabel

Sikap

Jumlah

Pengetahuan

< 72,50

> 72,50

< 78,20

6

12

18

> 78,20

4

28

32

Jumlah

10

40

50

 

Berdasarkan dengan rumus Khi Kuadrat, diperoleh bahwa :

X2 =

 

            50(6×28 – 12×4)625

     =  ———————————

            10 x 40 x 18 x 32

 

      =   16,28

 

Jika dibandingkan antara X2 hitung yang besarnya 16,28 dengan nilai X2 tabel 5 % yaitu sebesar 3,841, maka nilai Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan yang nyata antara variabel sikap dengan pengetahuan petani mengenai pengolahn biji kakao secara fermentasi. Kondisi ini mendukung pendapat Ancok (dalam Saefudin, 1989) bahwa pengetahuan merupakan tahap awal terjadinya persepsi yang kemudian melahirkan sikap dan pada gilirannya melahirkan perbuatan atau tindakan. Meskipun pada penelitian ini belum ditemukan tindakan petani untuk melakukan fermentasi. Tentunya hal ini dapat diterangkan dengan melihat beberapa alasannya.

 

4.6 Alasan Petani Belum Melakukan Fermentasi

 

            Berdasarkan pada survai yang dilakukan, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan petani sampel belum melakukan fermentasi meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuannya tingi dan sikapnya positif terhadap fermentasi biji kakao. Beberapa alasan yang diungkapkan petani sampel adalah seperti yang disajikan pada Tabel 7.

 

            Tabel 7. Alasan-alasan petani (utama) tidak melakukan fermentasi biji kakao

 

No Alasan Frekuensi Prosentase
1 Perbedaan harga yang tidak signifikan

10

20

2 Membutuhkan waktu yang lama

10

20

3 Keterbatasan prasarana pengolahan

8

16

4 Mudahnya menjual biji kakao asalan

16

32

5 Lemahnya modal usahatani

6

12

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

            Berdasarkan pada data yang disajikan pada Tabel 7 terlihat bahwa alasan utama yang paling banyak diungkapkan oleh petani adalah karena mudahnya menjual biji kakao dalam bentuk asalan, yaitu diungkapkan oleh 32 % petani sampel. Perlu dicatat, sebenarnya alasan-alasan yang dimiliki oleh setiap petani adalah lebih dari satu alasan. Ini berarti bahwa terdapat beberapa alasan yang saling terkait antara satu alasan dengan alasan yang lainnya.

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

 

            Memperhatikan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu sebagai berikut.

1. Sikap petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi adalah tergolong setuju dengan rata-rata pencapaian skornya sebesar 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%.

2. Tingkat pengetahuan petani mengenai pengolahan biji kakao secara fermentasi tergolong tinggi yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %.

3. Berdasarkan pada analisis Khi Kuadrat diperoleh bahwa terdapat hubungan yang nyata antara sikap dengan pengetahuan petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi.

4. Beberapa alasan yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi adalah perbedaan harga yang tidak signifikan antara biji kakao yang fermentasi dengan yang tidak fermentasi, membutuhkan waktu yang lama, keterbatasan prasarana pengolahan, mudahnya menjual biji kakao asalan dan lemahnya modal usahatani.

 

5.2 Saran

 

            Berdasarkan pada simpulan diatas dapat disarankan kepada pemerintah khususnya Dinas Perkebunan Provinsi Bali dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan agar memberikan bantuan prasarana pengolahan secara fermentasi yang diikuti dengan kegiatan lainnya seperti penyediaan modal usaha serta penyuluhan-penyuluhan mengenai kualitas biji kakao yang berstandar internasional guna dapat memperoleh harga yang lebih tinggi. Oleh karena itu, terlihat adanya perbedaan yang nyata antara harga biji kakao yang fermentasi dengan tidak fermentasi (asalan).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimus (2003). “Tak Mau Repot dengan Fermentasi”. Kompas, 16 Juni 2003. Jakarta.

Anonimus. 2004. ”Standard Prosedur Operasional Kakao Penanganan Biji Kakao di Tingkat Petani”.  Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian.

Anonimus. 2008a. ”Instruksi Gubernur Bali, Nomor 1 tahun 2008 tentang Pengolahan dan Pemasaran Kakao secara Fermentasi”.

Anonimus. 2008b. ”Fermentasi pada Kakao”. http://www.primatani.litbang.deptan.go.id

Djarwanto. 1982. “Statistik Non Paramertrik”, Jogjakarta : BPFE.

 

Gerungan. 1986. “Psikologi Sosial”. Bandung: PT. Erosco Bandung.

 

Goenadi, Didiek, John Bako Baon, Herman dan A.Purwoto (2005). “Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao Di Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

 

Hadi, Sutrisno. 1984.  “ Metode  Statistik “, Jakarta Gunung Agung. 1982.

 

Mar’at. 1984. “Sikap Manusia, Perubahan serta Pengukurannya:. Jakarta: Ghalia Indonesia.

 

Newcomb, Tuner, Converse. 1978. “Psikologi Sosial”. Terjemahan Team Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: CV. Diponegoro.

 

Nuraini, Ni Ketut dan Sudarta, Wayan, 1991. Perilaku Petani Terhadap Pemakaian Insektisida dalam Pengendalian Hama Tanaman Padi di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali. Denpasar: Universitas Udayana.

 

Putra, Adetiya Prananda. 2008. “Fermentasi Biji Kakao”. Http://adetiyapolije.wordpress.com/2008/04/08/fermentasi-biji-kakao.

 

Sedana, Gede. 2008. ”Meningkatkan Daya Saing Usahati Kakao”. Makalah yang disampaikan pada Workshop “Regulations and Policies for the Improvement of Tabanan Cacao Competitiveness”, Tabanan, Bali, 23 May 2008

 

Singarimbun, Masri, Sofian Effendi. 1982. “Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.

 

Soedijanto, 1978. “Beberapa Konsep Proses Belajar dan Implikasinya. Bogor: Institut Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian Ciawi.

 

Saefudin, Azwar. 1989. Sikap Manusia Teori dan Pengalaman. Liberty, Yogyakarta.

 

Wahyudi T, TR Panggabean, Pujiyanto (2008). “Kakao: manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir”. Jakarta: PT. Niaga Swadaya.

 

 

RIWAYAT HIDUP

 

Dilahirkan di Singaraja pada tanggal 1 Desember 1964. Memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana pada tahun 1987. Gelar M.Sc. diperoleh pada Department of Sociology and Anthropology, Ateneo de Manila University pada tahun 1994. Selanjutnya pada tahun 2006 memeperoleh gelar MMA pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Pascasarjana Universitas Udayana.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: