FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS:

July 28, 2009

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS:

Kasus di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja

 

Oleh Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

 

ABSTRAKSI

 

Arus urbanisasi ke Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal sehingga menimbulkan salah satu masalah yaitu terjadinya gelandangan dan pengemis.

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya. Faktor internal meliputi : (i) kemiskinan; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan; (vi) sikap mental. Sedangkan faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

            Oleh karena itu, pemecahan masalahnya harus mencakup dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi daerah tujuan. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara membuka pekerjaan di desa. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

ABSTRACTS

 

Urbanization has been rapidly increased to the cities, such as Denpasar, Gianyar, Tabanan and Singaraja. In the other hand, the job opportunities in the cited cities  have not fully fitted those who urbanize, thus bring them to be beggar.  

 

The research pointed out that there are some reasons of being beggar, namely internal and external factors. These factors could be partially and mutually influenced the beggar. Internal factors consist of (i) poverty; (ii) age; (iii) formal education; (iv) permittance of their parents; (v) low life skill; and (vi) attitude. Meanwhile, the external factors are : (i) hydrologic conditions; (ii) bad agricultural conditions; (iii) poor infrastructures; (iv) limited access to information and capital; and (v) permisiveness of urban people; and (vi) weaknesess of handling.

 

            The alternative solutions should be comprehensively paid attention to the two aspects, namely the village condition and destination cities conditions. It is principally that the solutions should be able to protect them leaving their village to look for job in the cities by opening job opportunities in the village itself. Meanwhile, the beggars in the cities should be handled by making them have no chance to gain money as beggar.

 

 

 

I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Hakekatnya, pembangunan ekonomi di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan peluang berusaha, meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat serta meningkatkan hubungan antar daerah. Secara konsepsional, pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan  bermuara pada manusia sebagai insan yang harus dibangun kehidupannya dan sekaligus merupakan sumberdaya pembangunan yang harus terus ditingkatkan kualitas dan kemampuannya untuk mengangkat harkat dan martabatnya (Chambers, 1983).

 

Kota Denpasar dan kota-kota lainnya di Bali tumbuh juga secara baik dan bahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Salah satu persoalan yang muncul adalah kesenjangan atau ketimpangan yang semakin besar dalam pembagian pendapatan antara berbagai golongan pendapatan, antara daerah perkotaan dan pedesaan. Ini berarti juga bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat belum berhasil untuk menanggulangi masalah kemiskinan, seperti pengangguran dan masalah sosial-ekonomi lainnya, seperti gelandangan dan pengemis.

           

Tetapi, arus urbanisasi, khususnya yang menuju Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Kota Denpasar yang sebagai Ibukota Provinsi Bali menjadi daerah yang “subur” bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal. Apalagi mereka yang melakukan urbanisasi tidak memiliki keterampilan tertentu yang dibutuhkan dan sengaja untuk melakukan kegiatan sebagai gelandangan dan pengemis.

 

Akibatnya, mereka yang dengan sengaja untuk menjadi gelandangan dan pengemis (Gepeng) di kota-kota seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja akan semakin menjadi ”sosok” yang sangat tidak dibutuhkan karena dirasakan mengganggu ketertiban dan keamanan di jalanan termasuk dibeberapa permukiman. Secara umum, mereka yang menjadi Gepeng di ke empat kota seperti yang disebutkan di atas hampir seluruhnya berasal dari Dusun Munti Gunung di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Oleh karena itu, pada penelitian ini juga akan melihat faktor-faktor apa yang menyebabkan mereka menjadi Gepeng?

 

 

1.2 Tujuan Penelitian

 

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi berbagai masalah atau faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai Gepeng baik yang ditemui di daerah asal maupun di daerah tujuan (kota-kota). Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengatasi masalah Gepeng yang ada di kota-kota, seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja.

 

 

II KERANGKA DASAR TEORI

 

2.1 Pengertian Gelandangan dan Pengemis

 

Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum. Sedangkan, pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. (Anon., 1980). Humaidi, (2003) menyatakan bahwa gelandangan berasal dari kata gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana).

 

Menurut Muthalib dan Sudjarwo (dalam IqBali, 2005) diberikan tiga gambaran umum gelandangan, yaitu (1) sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh masyaratnya, (2) orang yang disingkirkan dari kehidupan khalayak ramai, dan (3) orang yang berpola hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan. Ali, dkk., (1990) juga menggambarkan mata pencaharian gelandangan di Kartasura seperti pemulung, peminta-minta, tukang semir sepatu, tukang becak, penjaja makanan, dan pengamen.

 

Harth (1973) mengemukakan bahwa dari kesempatan memperoleh penghasilan yang sah, pengemis dan gelandangan termasuk pekerja sektor informal. Sementara itu, Breman (1980) mengusulkan agar dibedakan tiga kelompok pekerja dalam analisis terhadap kelas sosial di kota, yaitu (1) kelompok yang berusaha sendiri dengan modal dan memiliki ketrampilan; (2) kelompok buruh pada usaha kecil dan kelompok yang berusaha sendiri dengan modal sangat sedikit atau bahkan tanpa modal; dan (3) kelompok miskin yang kegiatannya mirip gelandangan dan pengemis.

 

Sementara itu Alkostar (1984) dalam penelitiannya tentang kehidupan gelandangan melihat bahwa terjadinya gelandangan dan pengemis dapat dibedakan menjadi dua faktor penyebab, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat-sifat malas, tidak mau bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama dan letak geografis.

 

2.2 Kemiskinan

 

Hall dan Midgley (2004), menyatakan kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kondisi  deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi  di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat. Juga, kemiskinan didefenisikan sebagai  ketidaksamaan  kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial (Friedmann, 1979).

 

Kemiskinan merupakan suatu ketidaksanggupan seseorang untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan keperluan-keperluan materialnya (Oscar, dalam Suparlan, 1984). Dalam proses dinamikanya, budaya kemiskinan ini selanjutnya menjadi kondisi yang memperkuat kemiskinan itu sendiri. Keadaan tersebut di atas memberikan indikasi bahwa kemiskinan merupakan penyebab dan sekaligus dampak, dimana masing-masing faktor penyebab sekaligus dampak untuk dan dari faktor-faktor lainnya atau penyebab sirkuler (Rajab, 1996). Sementara itu, Harris (1984) mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan karena keterbatasan faktor-faktor geografis (daerahnya terpencil atau terisolasi, dan terbatasanya prasarana dan sarana), ekologi (keadaan sumber daya tanah/lahan, dan air serta cuaca yang tidak mendukung), teknologi (kesederhanaan sistem teknologi untuk berproduksi), dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan tingkat penghasilannya. Chambers (1983) mengemukakan bahwa sebenarnya orang-orang miskin tidaklah malas, fatalistik, boros, dungu dan bodoh, tetapi mereka sebenarnya adalah pekerja keras, cerdik dan ulet. Argumennya dilandasi bahwa mereka memiliki sifat-sifat tersebut karena untuk dapat mempertahankan hidupnya dan melepaskan diri dari belenggu rantai kemiskinan.

 

 

III METODE PENELITIAN 

 

3.1 Lokasi Penelitian

 

Lokasi penelitian ini adalah di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja, dimana pemilihan lokasi ini dilakukan secara “purposive sampling” yaitu pemilihan lokasi atau obyek penelitian secara sengaja dengan beberapa pertimbangan tertentu. Salah satu pertimbangan dipilihnya lokasi penelitian tersebut adalah di kota-kota tersebut memiliki jumlah Gepeng yang cukup besar dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang ada di lima kabupaten lainnya yang  ada di Provinsi Bali (berdasarkan survai awal peneliti dkk. 2007).

 

 

3.2 Populasi dan Responden

 

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Gepeng yang tersebar di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja dimana jumlahnya tidak tercatat karena adanya mobilitas yang tinggi. Guna memudahkan analisis dan memperhatikan keterbatasan waktu, tenaga dan dana yang tersedia, sampel yang ditentukan adalah sebanyak 74 orang yang dipilih secara “incidental sampling” yaitu memberikan sejumlah sampel pada masing-masing kota, dengan rincian sebagai berikut.

1. Kota Denpasar sebanyak   27 orang

2. Kota Gianyar sebanyak  16 orang

3. Kota Tabanan sebanyak  15 orang

4. Kota Singaraja sebanyak  16  orang

 

Selain itu, dilakukan wawancara terhadap responden lainnya yang bersentuhan dengan kegiatan GEPENG, seperti Instansi Pemerintah yang terkait, pengguna jalan tempat GEPENG beroperasi, warga masyarakat di daerah operasi GEPENG, sehubungan dengan masalah yang dihadapinya.

 

3.3 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data 

 

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosial, ekonomi, demografi dan teknis dan data lainnya dari sampel yang berkenaan dengan tujuan penelitian ini. Misalnya mengenai umur, lama pendidikan formal, jenis kelamin, saat memulai menjadi Gepeng, dsb.  Sedangkan data sekunder mencakup kondisi geografis, demografis daerah asal, daerah tujuan Gepeng, dan informasi lainnya yang mendukung tujuan penelitian ini.

Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi langsung dan dokumentasi.

 

3.4 Analisis Data 

           

Data yang terkumpul lebih dahulu ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel. Analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan menginterprestasikan sesuai dengan tujuan penelitian.

 

IV. PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS

Berdasarkan pada hasil survai dan pengamatan langsung di lokasi penelitian, yaitu  di empat kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja), serta observasi di lokasi daerah asal, yaitu Munti Gunung dan sekitarnya, diperoleh beberapa faktor penyebab terjadinya Gelandangan dan Pengemis (Gepeng). Beberapa faktor penyebab tersebut di antaranya ádalah  faktor yang ada di internal individu dan keluarga Gepeng, internal masyarakat, dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya.

 

4.1 Faktor Internal  

 

Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut diuraikan secara ringkas berikut ini.

 

4.1.1 Kemiskinan Individu dan Keluarga  

 

Melalui penelitian yang dilakukan ternyata kemiskinan individu termasuk salah satu faktor yang menentukan terjadinya kegiatan menggelandang dan mengemis. Kondisi ini tercermin dari informasi yang diperoleh bahwa rata-rata penguasaan lahan Gepeng dan keluarganya adalah relatif sempit, yaitu 38,23 are, dengan interval antara 20-60 are. Terbatasnya penguasaan lahan diperburuk lagi oleh kondisi lahan yang tandus, kritis dan kurangnya ketersediaan air, kecuali saat musim hujan mengakibatkan mereka tidak dapat mengusahakan lahannya sepanjang tahun. Oleh karena itu, pada saat musim kemarau Gepeng dan keluarganya mencari penghasilan ke kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) hanya untu memenuhi kebutuhan yang paling mendasar, yaitu kebutuhan pangan.

 

Dengan demikian, kesulitan memperoleh penghasilan dari lahan pertanian yang dikuasainya mendorong mereka untuk meninggalkan desanya dan terpaksa harus mencari penghasilan dengan cara-cara yang mudah dan tanpa memerlukan ketrampilan, yaitu menjadi Gepeng.

4.1.2 Umur

            Ternyata faktor umur memberikan pengaruh yang cukup signifikan, dimana sebagian terbesar (sekitar 74,32 %) dari gelandangan dan pengemis yang ditemui adalah berusia yang masih sangat muda, yaitu kurang dari 13 tahun. Berdasarkan pada wawancara dengan mereka diketahui bahwa faktor umur yang masih muda ini memberikan peluang bagi mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis karena tiadanya memikirkan rasa malu yang terlalu kuat. Bahkan mereka (anak-anak) terlihat riang berlari-lari dan bercanda dengan temannya saat menggepeng. Kondisi ini sangat berbeda atau berbanding terbalik dengan mereka yang telah menginjak usia remaja. Hal ini, tercermin dari hasil penelitian bahwa Gepeng yang berusia antara 15 – 40 tahun tidak ditemukan di empat kota yang menjadi lokasi studi. Hal yang menarik juga terlihat dari penelitian ini, yaitu tidak ditemukannya Gepeng yang berusia  15-40 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa laki-laki yang sudah dewasa sudah merasa tidak pantas lagi menjadi Gepeng karena malu. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa mereka yang berusia remaja telah beralih fungsi pekerjaan menjadi buruh, kuli, pembantu rumah tangga, tukang, termasuk buruh tani, khususnya pada musim-musim panen cengkeh di Kabupaten Buleleng.

            Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan juga bahwa kaum perempuan berumur lebih dari 40 tahun sepertinya memberikan peluang yang lebih besar untuk memperoleh ”belas kasihan” dari penduduk kota. Kondisi tersebut sangat wajar jika dikaji lebih lanjut dimana mereka akan mendapat beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut: (i) calon pemberi uang akan iba melihat seorang ibu dengan anak kecil yang digendongnya; (ii) uang yang diperoleh akan lebih banyak, selain terkadang mereka diberikan juga makanan, khususnya untuk anak yang digendongnya.

4.1.3 Pendidikan Formal

Berkenaan dengan faktor umur tersebut di atas, ternyata faktor pendidikan juga turut mempengaruhi responden untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis. Pada tingkat umur yang masih terkategori anak-anak, semestinya mereka sedang mengikuti kegiatan pendidikan formal di sekolah. Namun, mereka memilih menjadi Gepeng dibandingkan bersekolah karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk kebutuhan sekolah sebagai akibat dari kemiskinan orang tua. Tidak berpendidikannya responden menyebabkan mereka tidak memperoleh pengetahuan atau pemahaman tentang budi pekerti, agama dan ilmu pengetahuan lainnya yang mampu menggugah hati mereka untuk tidak melakukan kegiatan sebagai Gepeng.

4.1. 4 Ijin Orang Tua

            Seluruh anak-anak yang melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka telah mendapat ijin dari orang tuanya dan bahkan disuruh oleh orang tuanya. Melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di desa, alasan tersebut di atas juga dibenarkan mengingat kondisi sosial ekonomi orang tua anak-anak yang menjadi Gepeng di dusun tergolong sangat miskin. Sehingga pada musim kemarau, mereka ”terpaksa” membiarkan anaknya dan ”menyuruh” anaknya untuk ikut mencari penghasilan guna membantu memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

4.1.5 Rendahnya Ketrampilan

            Hasil wawancara terhadap seluruh Gepeng yang beroperasi di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja tidak memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kondisi ini sangat wajar terjadi karena sebagian terbesar dari mereka adalah masih berusia yang belia atau muda. Semestinya mereka sedang menikmati kegiatan akademik atau di dunia pendidikan. Sementara mereka yang tergolong umur relatif lebih tua dan berjenis kelamin perempuan sejak muda tidak pernah memperoleh pendidikan ketrampilan di desa. Oleh karena itu, kegiatan menggelandang dan mengemis adalah pilihan yang paling gampang untuk dilaksanakan guna memperoleh penghasilan secara mudah. Tetapi menurut mereka, mengemis itu terkadang agak sulit untuk memperoleh uang karena harus berkeliling dan mencoba serta mencoba untuk meinta-minta, dimana tidak semua calon pemberi sedekah langsung memberikannya, dan bahkan tidak memperdulikannya.

4.1.6 Sikap Mental

            Kondisi ini terjadi karena di pikiran para Gepeng muncul kecendrungan bahwa pekerjaan yang dilakukannya tersebut adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, selayaknya pekerjaan lain yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan. Ketiadaan sumber-sumber penghasilan dan keterbatasan penguasaan prasarana dan sarana produktif, serta terbatasnya ketrampilan menyebabkan mereka menjadikan mengemis sebagai suatu pekerjaan. Atau dengan kata lain, mereka mengatakan juga bahwa tiada jalan lain selain mengemis untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.  

Selain itu, sikap mental yang malas ini juga didorong oleh lemahnya kontrol warga masyarakat lainnya atau adanya kesan permisif terhadap kegiatan menggelandang dan mengemis yang dilakukan oleh warga karena keadaan ekonomi mereka yang sangat terbatas. Sementara di sisi lain, belum dimilikinya solusi yang tepat dalam jangka pendek bagi mereka yang menjadi Gepeng. Keadaan yang demikian ini juga turut memunculkan dan sedikit menjaga adanya budaya mengemis yang terjadi.

4.2 Faktor Eksternal/Lingkungan

Pada penelitian ini, faktor lingkungan yang dimaksudkan adalah beberapa faktor yang berada di sekeliling atau sekitar responden baik yang di daerah asal maupun di daerah tujuan. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

4.2.1 Kondisi Hidrologis

 

Mempersoalkan kondisi hidrologis di Dusun Munti Gunung, sepertinya tidak dapat dilepaskan juga dari kondisi yang sama di desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Kubu, dimana faktor air merupakan faktor utama sebagai pembatas dalam aktivitas warga. Hanya beberapa wilayah yang berada di dekat pesisir yang dapat memperoleh air sepanjang tahun karena pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum telah membangun sumur-sumur bor dan dilengkapi dengan prasarananya, seperti mesin pompa dan instalasi pipa-pipa.

 

Secara alamiah Dusun Munti Gunung termasuk daerah yang sangat gersang dan tandus sebagai akibat dari keterbatasan ketersediaan air. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena fakta membuktikan curah hujan yang rendah dan musim kemarau yang panjang. Pada musim ini, mereka yang tergolong miskin sangat kesulitan untuk memperoleh air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi inilah yang kemudian mendorong bagi warga masyarakat yang miskin dengan ”terpaksa” harus keluar dari dusunnya untuk mencari penghasilan karena pada periode musim kemarau tersebut mereka tidak dapat melakukan aktivitas ekonomis. Perlu diketahui juga bahwa, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah pertanian. 

 

4.2.2 Kondisi Pertanian

  

Secara topografis, Dusun Munti Gunung memiliki kondisi yang kurang mendukung jika dihubungkan dengan pengelolaan usahatani atau pembangunan pertanian (termasuk ternak) di lahan kering. Topografinya adalah berbukit atau bergunung ditambah dengan ketiadaan teknologi budidaya pertanian menjadikan penduduk termasuk Gepeng dan keluarganya tidak mampu mengelola lahannya. Apalagi keadaan hidrologisnya sangat tidak mendukung untuk kegiatan pertanian.

 

Penguasaan teknologi pertanian yang terbatas sangat memperparah pengelolaan usahatani di desa. Mereka umumnya menanam tanaman palawija (kacang-kacangan dan umbi-umbian) yang tidak memerlukan banyak air irigasi. Pengunaan bibit, pemupupukan termasuk penanganan hama dan penyakit dapat dikatakan sangat rendah kualitasnya sehingga produktivitas yang dihasilkan juga menjadi rendah. Kondisi yang demikian inilah selanjutnya mengakibatkan mereka memperoleh penghasilan/pendapatan yang rendah, sementara kebutuhan hidup keluarga Gepeng termasuk penduduk lainnya semakin tinggi. Oleh karena itu, terbatasnya sumber dan besarnya pendapatan mendorong mereka untuk keluar dari dusun guna mencari penghasilan di kota.

 

4.2.3 Kondisi Prasarana Fisik

 

Keadaan topografis Dusun Munti Gunung yang berbukit dan secara geografis termasuk terisolasi mengakibatkan pembangunan prasarana fisik seperti jalan, pasar, sekolah, air bersih adalah sangat terbatas. Prasarana transportasi sebagai salah satu prasarana yang pokok, seperti  jalan darat baik yang menghubungkan antar dusun maupun di dalam dusun relatif belum bagus, yaitu sebagian besar merupakan jalan yang tidak beraspal atau merupakan jalan “geladag” (yang hanya diperkeras) atau jalan tanah. Seperti telah disebutkan di depan bahwa sebesar 70 % dari panjang jalan sekitar 18,50 km jalan yang ada di wilayah Dusun Munti Gunung merupakan jalan tanah. Rendahnya kualitas jalan menyebabkan terjadinya inefisiensi di dalam kegiatan transportasi sehingga mengakibatkan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan ekonomis menjadi relatif rendah. Penghasilan yang kecil ini tampaknya juga mendorong mereka meninggalkan dusunnya untuk mencari pekerjaan di luar desa, seperti menggelandang dan mengemis.

 

Prasarana lainnya yang terbatas adalah prasarana air bersih, dimana mereka hanya membangun bak-bak penampungan air yang disebut dengan cubang baik yang dikelola secara kolektif selain secara individual yang berfungsi untuk menampung air hujan. Sebagai penduduk di bawah garis kemiskinan di desa, mereka tertarik mendapatkan uang di kota. ”Kota sebagai tempat mengadu nasib dianggap sebagai faktor penarik hijrahnya orang dari desa ke kota.

 

4.2.4 Terbatasnya Akses Informasi dan Modal Usaha

 

Warga Dusun Munti Gunung memiliki keterbatasan di dalam mengakses informasi baik yang berkenaan dengan berbagai aspek ekonomi produktif, sosial maupun aspek lainnya. Keterbatasan dalam mengakses informasi ini juga diperparah oleh keterbatasan pemilikan prasarana media, seperti televisi, koran dan lain sebagainya. Ternyata, keterbatasan ini diakibatkan juga oleh belum masuknya jaringan listrik secara meluas di Dusun Munti Gunung.

 

Akses lainnya yang sulit untuk diperoleh adalah modal usaha. Kesulitan ini diakibatkan karena perolehan modal usaha memerlukan berberapa syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh warga dusun, termausk keluarga Gepeng. Syarat utama yang dibutuhkan adalah adanya agunan yang berupa sertifikat tanah. Warga dusun dan keluarga Gepeng tidak berani menyerahkan sertifikat tanahnya sebagai agunan karena mereka tidak mau mengambil resko terburuk, yaitu tanahnya disita jika usahanya tidak berhasil.

 

4.2.5 Kondisi Permisif di Kota Tujuan

 

Sikap permisif masyarakat di Kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) terlihat dari adanya sikap yang memberi bila ada Gepeng yang mendekatinya, baik yang ke rumah, di pinggir jalan, di warung dan lain sebagainya. Rasa kasihan, kepedulian dan berbagi antar sesama umat yang merupakan ajaran moralitas mengakibatkan warga kota memberikan sedekahnya kepada Gepeng. Sementara di sisi lain, pandangan tersebut dimanfaatkannya secara baik guna terus berlaku dengan cara menunjukkan kondisi yang layak untuk mendapatkan rasa welas asih. Selain itu, sikap permisif masih terlihat juga dari dibiarkannya Gepeng melintasi wilayah-wilayah tertentu, seperti di sekitar rumahnya atau di tempat umum. Hasil survai dan observasi menunjukkan juga bahwa terdapat kesulitan bagi warga untuk melarangnya karena mereka hanya melintas. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa warga tidak memiliki hak atau kewajiban untuk menegur apalagi menangkap Gepeng. 

 

4.2.6 Kelemahan Penanganan Gepeng di Kota

 

Walaupun pemerintah di (Kota Denapasar, Kabupaten Gianyar, Tabanan dan Buleleng) telah berupaya secara maksimal di dalam menangani Gepeng di wilayahnya masing-masing, namun hasilnya belum maksimal. Kondisi ini terlihat dari adanya Gepeng yang telah ditangkap dan dikembalikan ke desa akan selalu balik kembali untuk melakukan kegiatannya. Malahan selain ditangkap, Gepeng juga dibina, tetapi ternyata setelah dipulangkan mereka balik kembali. Oleh karena itu, terlihat bahwa penanganan Gepeng belum efektif. Selain itu, meskipun pemerintah seperti di Kota Denpasar telah memasang spanduk yang berisikan agar warga tidak memberikan sedekah kepada Gepeng, namun tetap saja terjadi pemberian sedekah kepada Gepeng.

 

 Upaya yang menimbulkan efek jera  pada Gepeng belum terwujud secara baik, sehingga para Gepeng akan kembali dna kembali lagi setelah tertangkap dan dipulangkan.

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan seperti yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bebrapa hal, di antaranya adalah sebagai berikut

  1. Beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal, yaitu  individu dan keluarga Gepeng serta masyarakat , dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya;
  2. Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut ádalah : (i) kemiskinan individu dan keluarga; yang mencakup penguasaan lahan yang terbatas dan tidak produktif, keterbatasan penguasaan aset produktif, keterbatasan penguasaan modal usaha; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan (“life skill”) untuk kegiatan produktif; (vi) sikap mental; dan
  3. Faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

5.2 Saran dan Rekomendasi

 

            Penanganan masalah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) di Bali tidak dapat dilepaskan dari penanganan kemiskinan itu sendiri, terutama jika dilihat dari sudut pandang daerah asal Gepeng. Memang, kemiskinan bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kegiatan menggelandangan dan mengemis tetapi bisa juga menjadi akar penyebab. Oleh karena itu, beberapa alternatif pemecahan masalah yang berkenaan dengan penanganan Gepeng dapat ditinjau dari dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi di luar daerah asal. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara mengemis. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan (di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja). Gepeng yang beroperasi di empat kota tersebut “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Marpuji, dkk. (1990). “Gelandangan di Kertasura”. Surakarta: Monografi 3 Lembaga Penelitian Universitas Muhamadiyah.

 

Alkotsar, Artidjo (1984). Advokasi Anak Jalanan”. Jakarta: Rajawali.

 

Anonimus (1980). “Peraturan Pemerintah No. 31/1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Jakarta.

 

Breeman, Jan C (1980). “The Informal Sector in Research, Theory and Practice Comparative Asian Studies”. Rotterdam: Program Publication No. III.

 

Chambers, Robert, (1983). “Rural Development: Putting the Last First”.

 

Friedmann, John. (1979). “Urban Poverty in Latin America, Some Theoretical Considerations”. Upsala: Development Dialogue, Vol. I

 

Hart, Keith (1973). “ Informal Income Opportunities and Urban Employment in Ghana”. Journal of Modern Africana Studies.

 

Humaidy, M.Ali Al (?). “Pergeseran Budaya Mengemis di Masyarakat Desa Pragaan Daya Sumenep Madura”. Pamekasan: STAIN.

 

Iqbali, Saptono. (2005). “Gelandangan-Pengemis (GEPENG) di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem”. Denpasar: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Udayana.

 

Rajab, Budi, (1996). “Persoalan Kemiskinan dalam orientasi Kebijaksanaan Pembangunan”, Bandung: Majalah  Ilmiah PDP Unpad Prakarsa

 

Suparlan, Parsudi (1984). “Gelandangan: Sebuah Konsekuensi Perkembangan Kota, dalam Gelandangan pandangan Ilmu Sosial”. Jakarta: LP3ES.

 

 

 

 

 

 

 

 
Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

Fakultas Pertanian Univ. Dwijendra Denpasar

Ir.      Sosek Fak. Pertanian UNUD, 1987

M.Sc.Social Development, Dept. of

          Sociology and Anthropology,

          Ateneo de Manila Univ. 1994

MMA. Manajemen Agribisnis

          Pascasarjana UNUD, 2006

 

 

 

 

 

 

 

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS:

Kasus di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja

 

Oleh Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

 

ABSTRAKSI

 

Arus urbanisasi ke Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal sehingga menimbulkan salah satu masalah yaitu terjadinya gelandangan dan pengemis.

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya. Faktor internal meliputi : (i) kemiskinan; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan; (vi) sikap mental. Sedangkan faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

            Oleh karena itu, pemecahan masalahnya harus mencakup dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi daerah tujuan. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara membuka pekerjaan di desa. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

ABSTRACTS

 

Urbanization has been rapidly increased to the cities, such as Denpasar, Gianyar, Tabanan and Singaraja. In the other hand, the job opportunities in the cited cities  have not fully fitted those who urbanize, thus bring them to be beggar.  

 

The research pointed out that there are some reasons of being beggar, namely internal and external factors. These factors could be partially and mutually influenced the beggar. Internal factors consist of (i) poverty; (ii) age; (iii) formal education; (iv) permittance of their parents; (v) low life skill; and (vi) attitude. Meanwhile, the external factors are : (i) hydrologic conditions; (ii) bad agricultural conditions; (iii) poor infrastructures; (iv) limited access to information and capital; and (v) permisiveness of urban people; and (vi) weaknesess of handling.

 

            The alternative solutions should be comprehensively paid attention to the two aspects, namely the village condition and destination cities conditions. It is principally that the solutions should be able to protect them leaving their village to look for job in the cities by opening job opportunities in the village itself. Meanwhile, the beggars in the cities should be handled by making them have no chance to gain money as beggar.

 

 

 

I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Hakekatnya, pembangunan ekonomi di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan peluang berusaha, meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat serta meningkatkan hubungan antar daerah. Secara konsepsional, pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan  bermuara pada manusia sebagai insan yang harus dibangun kehidupannya dan sekaligus merupakan sumberdaya pembangunan yang harus terus ditingkatkan kualitas dan kemampuannya untuk mengangkat harkat dan martabatnya (Chambers, 1983).

 

Kota Denpasar dan kota-kota lainnya di Bali tumbuh juga secara baik dan bahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Salah satu persoalan yang muncul adalah kesenjangan atau ketimpangan yang semakin besar dalam pembagian pendapatan antara berbagai golongan pendapatan, antara daerah perkotaan dan pedesaan. Ini berarti juga bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat belum berhasil untuk menanggulangi masalah kemiskinan, seperti pengangguran dan masalah sosial-ekonomi lainnya, seperti gelandangan dan pengemis.

           

Tetapi, arus urbanisasi, khususnya yang menuju Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Kota Denpasar yang sebagai Ibukota Provinsi Bali menjadi daerah yang “subur” bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal. Apalagi mereka yang melakukan urbanisasi tidak memiliki keterampilan tertentu yang dibutuhkan dan sengaja untuk melakukan kegiatan sebagai gelandangan dan pengemis.

 

Akibatnya, mereka yang dengan sengaja untuk menjadi gelandangan dan pengemis (Gepeng) di kota-kota seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja akan semakin menjadi ”sosok” yang sangat tidak dibutuhkan karena dirasakan mengganggu ketertiban dan keamanan di jalanan termasuk dibeberapa permukiman. Secara umum, mereka yang menjadi Gepeng di ke empat kota seperti yang disebutkan di atas hampir seluruhnya berasal dari Dusun Munti Gunung di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Oleh karena itu, pada penelitian ini juga akan melihat faktor-faktor apa yang menyebabkan mereka menjadi Gepeng?

 

 

1.2 Tujuan Penelitian

 

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi berbagai masalah atau faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai Gepeng baik yang ditemui di daerah asal maupun di daerah tujuan (kota-kota). Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengatasi masalah Gepeng yang ada di kota-kota, seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja.

 

 

II KERANGKA DASAR TEORI

 

2.1 Pengertian Gelandangan dan Pengemis

 

Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum. Sedangkan, pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. (Anon., 1980). Humaidi, (2003) menyatakan bahwa gelandangan berasal dari kata gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana).

 

Menurut Muthalib dan Sudjarwo (dalam IqBali, 2005) diberikan tiga gambaran umum gelandangan, yaitu (1) sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh masyaratnya, (2) orang yang disingkirkan dari kehidupan khalayak ramai, dan (3) orang yang berpola hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan. Ali, dkk., (1990) juga menggambarkan mata pencaharian gelandangan di Kartasura seperti pemulung, peminta-minta, tukang semir sepatu, tukang becak, penjaja makanan, dan pengamen.

 

Harth (1973) mengemukakan bahwa dari kesempatan memperoleh penghasilan yang sah, pengemis dan gelandangan termasuk pekerja sektor informal. Sementara itu, Breman (1980) mengusulkan agar dibedakan tiga kelompok pekerja dalam analisis terhadap kelas sosial di kota, yaitu (1) kelompok yang berusaha sendiri dengan modal dan memiliki ketrampilan; (2) kelompok buruh pada usaha kecil dan kelompok yang berusaha sendiri dengan modal sangat sedikit atau bahkan tanpa modal; dan (3) kelompok miskin yang kegiatannya mirip gelandangan dan pengemis.

 

Sementara itu Alkostar (1984) dalam penelitiannya tentang kehidupan gelandangan melihat bahwa terjadinya gelandangan dan pengemis dapat dibedakan menjadi dua faktor penyebab, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat-sifat malas, tidak mau bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama dan letak geografis.

 

2.2 Kemiskinan

 

Hall dan Midgley (2004), menyatakan kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kondisi  deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi  di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat. Juga, kemiskinan didefenisikan sebagai  ketidaksamaan  kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial (Friedmann, 1979).

 

Kemiskinan merupakan suatu ketidaksanggupan seseorang untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan keperluan-keperluan materialnya (Oscar, dalam Suparlan, 1984). Dalam proses dinamikanya, budaya kemiskinan ini selanjutnya menjadi kondisi yang memperkuat kemiskinan itu sendiri. Keadaan tersebut di atas memberikan indikasi bahwa kemiskinan merupakan penyebab dan sekaligus dampak, dimana masing-masing faktor penyebab sekaligus dampak untuk dan dari faktor-faktor lainnya atau penyebab sirkuler (Rajab, 1996). Sementara itu, Harris (1984) mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan karena keterbatasan faktor-faktor geografis (daerahnya terpencil atau terisolasi, dan terbatasanya prasarana dan sarana), ekologi (keadaan sumber daya tanah/lahan, dan air serta cuaca yang tidak mendukung), teknologi (kesederhanaan sistem teknologi untuk berproduksi), dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan tingkat penghasilannya. Chambers (1983) mengemukakan bahwa sebenarnya orang-orang miskin tidaklah malas, fatalistik, boros, dungu dan bodoh, tetapi mereka sebenarnya adalah pekerja keras, cerdik dan ulet. Argumennya dilandasi bahwa mereka memiliki sifat-sifat tersebut karena untuk dapat mempertahankan hidupnya dan melepaskan diri dari belenggu rantai kemiskinan.

 

 

III METODE PENELITIAN

 

3.1 Lokasi Penelitian

 

Lokasi penelitian ini adalah di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja, dimana pemilihan lokasi ini dilakukan secara “purposive sampling” yaitu pemilihan lokasi atau obyek penelitian secara sengaja dengan beberapa pertimbangan tertentu. Salah satu pertimbangan dipilihnya lokasi penelitian tersebut adalah di kota-kota tersebut memiliki jumlah Gepeng yang cukup besar dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang ada di lima kabupaten lainnya yang  ada di Provinsi Bali (berdasarkan survai awal peneliti dkk. 2007).

 

 

3.2 Populasi dan Responden

 

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Gepeng yang tersebar di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja dimana jumlahnya tidak tercatat karena adanya mobilitas yang tinggi. Guna memudahkan analisis dan memperhatikan keterbatasan waktu, tenaga dan dana yang tersedia, sampel yang ditentukan adalah sebanyak 74 orang yang dipilih secara “incidental sampling” yaitu memberikan sejumlah sampel pada masing-masing kota, dengan rincian sebagai berikut.

1. Kota Denpasar sebanyak   27 orang

2. Kota Gianyar sebanyak  16 orang

3. Kota Tabanan sebanyak  15 orang

4. Kota Singaraja sebanyak  16  orang

 

Selain itu, dilakukan wawancara terhadap responden lainnya yang bersentuhan dengan kegiatan GEPENG, seperti Instansi Pemerintah yang terkait, pengguna jalan tempat GEPENG beroperasi, warga masyarakat di daerah operasi GEPENG, sehubungan dengan masalah yang dihadapinya.

 

3.3 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

 

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosial, ekonomi, demografi dan teknis dan data lainnya dari sampel yang berkenaan dengan tujuan penelitian ini. Misalnya mengenai umur, lama pendidikan formal, jenis kelamin, saat memulai menjadi Gepeng, dsb.  Sedangkan data sekunder mencakup kondisi geografis, demografis daerah asal, daerah tujuan Gepeng, dan informasi lainnya yang mendukung tujuan penelitian ini.

Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi langsung dan dokumentasi.

 

3.4 Analisis Data

           

Data yang terkumpul lebih dahulu ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel. Analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan menginterprestasikan sesuai dengan tujuan penelitian.

 

IV. PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS

Berdasarkan pada hasil survai dan pengamatan langsung di lokasi penelitian, yaitu  di empat kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja), serta observasi di lokasi daerah asal, yaitu Munti Gunung dan sekitarnya, diperoleh beberapa faktor penyebab terjadinya Gelandangan dan Pengemis (Gepeng). Beberapa faktor penyebab tersebut di antaranya ádalah  faktor yang ada di internal individu dan keluarga Gepeng, internal masyarakat, dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya.

 

4.1 Faktor Internal

 

Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut diuraikan secara ringkas berikut ini.

 

4.1.1 Kemiskinan Individu dan Keluarga  

 

Melalui penelitian yang dilakukan ternyata kemiskinan individu termasuk salah satu faktor yang menentukan terjadinya kegiatan menggelandang dan mengemis. Kondisi ini tercermin dari informasi yang diperoleh bahwa rata-rata penguasaan lahan Gepeng dan keluarganya adalah relatif sempit, yaitu 38,23 are, dengan interval antara 20-60 are. Terbatasnya penguasaan lahan diperburuk lagi oleh kondisi lahan yang tandus, kritis dan kurangnya ketersediaan air, kecuali saat musim hujan mengakibatkan mereka tidak dapat mengusahakan lahannya sepanjang tahun. Oleh karena itu, pada saat musim kemarau Gepeng dan keluarganya mencari penghasilan ke kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) hanya untu memenuhi kebutuhan yang paling mendasar, yaitu kebutuhan pangan.

 

Dengan demikian, kesulitan memperoleh penghasilan dari lahan pertanian yang dikuasainya mendorong mereka untuk meninggalkan desanya dan terpaksa harus mencari penghasilan dengan cara-cara yang mudah dan tanpa memerlukan ketrampilan, yaitu menjadi Gepeng.

4.1.2 Umur

            Ternyata faktor umur memberikan pengaruh yang cukup signifikan, dimana sebagian terbesar (sekitar 74,32 %) dari gelandangan dan pengemis yang ditemui adalah berusia yang masih sangat muda, yaitu kurang dari 13 tahun. Berdasarkan pada wawancara dengan mereka diketahui bahwa faktor umur yang masih muda ini memberikan peluang bagi mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis karena tiadanya memikirkan rasa malu yang terlalu kuat. Bahkan mereka (anak-anak) terlihat riang berlari-lari dan bercanda dengan temannya saat menggepeng. Kondisi ini sangat berbeda atau berbanding terbalik dengan mereka yang telah menginjak usia remaja. Hal ini, tercermin dari hasil penelitian bahwa Gepeng yang berusia antara 15 – 40 tahun tidak ditemukan di empat kota yang menjadi lokasi studi. Hal yang menarik juga terlihat dari penelitian ini, yaitu tidak ditemukannya Gepeng yang berusia  15-40 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa laki-laki yang sudah dewasa sudah merasa tidak pantas lagi menjadi Gepeng karena malu. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa mereka yang berusia remaja telah beralih fungsi pekerjaan menjadi buruh, kuli, pembantu rumah tangga, tukang, termasuk buruh tani, khususnya pada musim-musim panen cengkeh di Kabupaten Buleleng.

            Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan juga bahwa kaum perempuan berumur lebih dari 40 tahun sepertinya memberikan peluang yang lebih besar untuk memperoleh ”belas kasihan” dari penduduk kota. Kondisi tersebut sangat wajar jika dikaji lebih lanjut dimana mereka akan mendapat beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut: (i) calon pemberi uang akan iba melihat seorang ibu dengan anak kecil yang digendongnya; (ii) uang yang diperoleh akan lebih banyak, selain terkadang mereka diberikan juga makanan, khususnya untuk anak yang digendongnya.

4.1.3 Pendidikan Formal

Berkenaan dengan faktor umur tersebut di atas, ternyata faktor pendidikan juga turut mempengaruhi responden untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis. Pada tingkat umur yang masih terkategori anak-anak, semestinya mereka sedang mengikuti kegiatan pendidikan formal di sekolah. Namun, mereka memilih menjadi Gepeng dibandingkan bersekolah karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk kebutuhan sekolah sebagai akibat dari kemiskinan orang tua. Tidak berpendidikannya responden menyebabkan mereka tidak memperoleh pengetahuan atau pemahaman tentang budi pekerti, agama dan ilmu pengetahuan lainnya yang mampu menggugah hati mereka untuk tidak melakukan kegiatan sebagai Gepeng.

4.1. 4 Ijin Orang Tua

            Seluruh anak-anak yang melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka telah mendapat ijin dari orang tuanya dan bahkan disuruh oleh orang tuanya. Melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di desa, alasan tersebut di atas juga dibenarkan mengingat kondisi sosial ekonomi orang tua anak-anak yang menjadi Gepeng di dusun tergolong sangat miskin. Sehingga pada musim kemarau, mereka ”terpaksa” membiarkan anaknya dan ”menyuruh” anaknya untuk ikut mencari penghasilan guna membantu memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

4.1.5 Rendahnya Ketrampilan

            Hasil wawancara terhadap seluruh Gepeng yang beroperasi di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja tidak memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kondisi ini sangat wajar terjadi karena sebagian terbesar dari mereka adalah masih berusia yang belia atau muda. Semestinya mereka sedang menikmati kegiatan akademik atau di dunia pendidikan. Sementara mereka yang tergolong umur relatif lebih tua dan berjenis kelamin perempuan sejak muda tidak pernah memperoleh pendidikan ketrampilan di desa. Oleh karena itu, kegiatan menggelandang dan mengemis adalah pilihan yang paling gampang untuk dilaksanakan guna memperoleh penghasilan secara mudah. Tetapi menurut mereka, mengemis itu terkadang agak sulit untuk memperoleh uang karena harus berkeliling dan mencoba serta mencoba untuk meinta-minta, dimana tidak semua calon pemberi sedekah langsung memberikannya, dan bahkan tidak memperdulikannya.

4.1.6 Sikap Mental

            Kondisi ini terjadi karena di pikiran para Gepeng muncul kecendrungan bahwa pekerjaan yang dilakukannya tersebut adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, selayaknya pekerjaan lain yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan. Ketiadaan sumber-sumber penghasilan dan keterbatasan penguasaan prasarana dan sarana produktif, serta terbatasnya ketrampilan menyebabkan mereka menjadikan mengemis sebagai suatu pekerjaan. Atau dengan kata lain, mereka mengatakan juga bahwa tiada jalan lain selain mengemis untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.  

Selain itu, sikap mental yang malas ini juga didorong oleh lemahnya kontrol warga masyarakat lainnya atau adanya kesan permisif terhadap kegiatan menggelandang dan mengemis yang dilakukan oleh warga karena keadaan ekonomi mereka yang sangat terbatas. Sementara di sisi lain, belum dimilikinya solusi yang tepat dalam jangka pendek bagi mereka yang menjadi Gepeng. Keadaan yang demikian ini juga turut memunculkan dan sedikit menjaga adanya budaya mengemis yang terjadi.

4.2 Faktor Eksternal/Lingkungan

Pada penelitian ini, faktor lingkungan yang dimaksudkan adalah beberapa faktor yang berada di sekeliling atau sekitar responden baik yang di daerah asal maupun di daerah tujuan. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

4.2.1 Kondisi Hidrologis

 

Mempersoalkan kondisi hidrologis di Dusun Munti Gunung, sepertinya tidak dapat dilepaskan juga dari kondisi yang sama di desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Kubu, dimana faktor air merupakan faktor utama sebagai pembatas dalam aktivitas warga. Hanya beberapa wilayah yang berada di dekat pesisir yang dapat memperoleh air sepanjang tahun karena pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum telah membangun sumur-sumur bor dan dilengkapi dengan prasarananya, seperti mesin pompa dan instalasi pipa-pipa.

 

Secara alamiah Dusun Munti Gunung termasuk daerah yang sangat gersang dan tandus sebagai akibat dari keterbatasan ketersediaan air. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena fakta membuktikan curah hujan yang rendah dan musim kemarau yang panjang. Pada musim ini, mereka yang tergolong miskin sangat kesulitan untuk memperoleh air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi inilah yang kemudian mendorong bagi warga masyarakat yang miskin dengan ”terpaksa” harus keluar dari dusunnya untuk mencari penghasilan karena pada periode musim kemarau tersebut mereka tidak dapat melakukan aktivitas ekonomis. Perlu diketahui juga bahwa, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah pertanian. 

 

4.2.2 Kondisi Pertanian

 

Secara topografis, Dusun Munti Gunung memiliki kondisi yang kurang mendukung jika dihubungkan dengan pengelolaan usahatani atau pembangunan pertanian (termasuk ternak) di lahan kering. Topografinya adalah berbukit atau bergunung ditambah dengan ketiadaan teknologi budidaya pertanian menjadikan penduduk termasuk Gepeng dan keluarganya tidak mampu mengelola lahannya. Apalagi keadaan hidrologisnya sangat tidak mendukung untuk kegiatan pertanian.

 

Penguasaan teknologi pertanian yang terbatas sangat memperparah pengelolaan usahatani di desa. Mereka umumnya menanam tanaman palawija (kacang-kacangan dan umbi-umbian) yang tidak memerlukan banyak air irigasi. Pengunaan bibit, pemupupukan termasuk penanganan hama dan penyakit dapat dikatakan sangat rendah kualitasnya sehingga produktivitas yang dihasilkan juga menjadi rendah. Kondisi yang demikian inilah selanjutnya mengakibatkan mereka memperoleh penghasilan/pendapatan yang rendah, sementara kebutuhan hidup keluarga Gepeng termasuk penduduk lainnya semakin tinggi. Oleh karena itu, terbatasnya sumber dan besarnya pendapatan mendorong mereka untuk keluar dari dusun guna mencari penghasilan di kota.

 

4.2.3 Kondisi Prasarana Fisik

 

Keadaan topografis Dusun Munti Gunung yang berbukit dan secara geografis termasuk terisolasi mengakibatkan pembangunan prasarana fisik seperti jalan, pasar, sekolah, air bersih adalah sangat terbatas. Prasarana transportasi sebagai salah satu prasarana yang pokok, seperti  jalan darat baik yang menghubungkan antar dusun maupun di dalam dusun relatif belum bagus, yaitu sebagian besar merupakan jalan yang tidak beraspal atau merupakan jalan “geladag” (yang hanya diperkeras) atau jalan tanah. Seperti telah disebutkan di depan bahwa sebesar 70 % dari panjang jalan sekitar 18,50 km jalan yang ada di wilayah Dusun Munti Gunung merupakan jalan tanah. Rendahnya kualitas jalan menyebabkan terjadinya inefisiensi di dalam kegiatan transportasi sehingga mengakibatkan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan ekonomis menjadi relatif rendah. Penghasilan yang kecil ini tampaknya juga mendorong mereka meninggalkan dusunnya untuk mencari pekerjaan di luar desa, seperti menggelandang dan mengemis.

 

Prasarana lainnya yang terbatas adalah prasarana air bersih, dimana mereka hanya membangun bak-bak penampungan air yang disebut dengan cubang baik yang dikelola secara kolektif selain secara individual yang berfungsi untuk menampung air hujan. Sebagai penduduk di bawah garis kemiskinan di desa, mereka tertarik mendapatkan uang di kota. ”Kota sebagai tempat mengadu nasib dianggap sebagai faktor penarik hijrahnya orang dari desa ke kota.

 

4.2.4 Terbatasnya Akses Informasi dan Modal Usaha

 

Warga Dusun Munti Gunung memiliki keterbatasan di dalam mengakses informasi baik yang berkenaan dengan berbagai aspek ekonomi produktif, sosial maupun aspek lainnya. Keterbatasan dalam mengakses informasi ini juga diperparah oleh keterbatasan pemilikan prasarana media, seperti televisi, koran dan lain sebagainya. Ternyata, keterbatasan ini diakibatkan juga oleh belum masuknya jaringan listrik secara meluas di Dusun Munti Gunung.

 

Akses lainnya yang sulit untuk diperoleh adalah modal usaha. Kesulitan ini diakibatkan karena perolehan modal usaha memerlukan berberapa syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh warga dusun, termausk keluarga Gepeng. Syarat utama yang dibutuhkan adalah adanya agunan yang berupa sertifikat tanah. Warga dusun dan keluarga Gepeng tidak berani menyerahkan sertifikat tanahnya sebagai agunan karena mereka tidak mau mengambil resko terburuk, yaitu tanahnya disita jika usahanya tidak berhasil.

 

4.2.5 Kondisi Permisif di Kota Tujuan

 

Sikap permisif masyarakat di Kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) terlihat dari adanya sikap yang memberi bila ada Gepeng yang mendekatinya, baik yang ke rumah, di pinggir jalan, di warung dan lain sebagainya. Rasa kasihan, kepedulian dan berbagi antar sesama umat yang merupakan ajaran moralitas mengakibatkan warga kota memberikan sedekahnya kepada Gepeng. Sementara di sisi lain, pandangan tersebut dimanfaatkannya secara baik guna terus berlaku dengan cara menunjukkan kondisi yang layak untuk mendapatkan rasa welas asih. Selain itu, sikap permisif masih terlihat juga dari dibiarkannya Gepeng melintasi wilayah-wilayah tertentu, seperti di sekitar rumahnya atau di tempat umum. Hasil survai dan observasi menunjukkan juga bahwa terdapat kesulitan bagi warga untuk melarangnya karena mereka hanya melintas. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa warga tidak memiliki hak atau kewajiban untuk menegur apalagi menangkap Gepeng. 

 

4.2.6 Kelemahan Penanganan Gepeng di Kota

 

Walaupun pemerintah di (Kota Denapasar, Kabupaten Gianyar, Tabanan dan Buleleng) telah berupaya secara maksimal di dalam menangani Gepeng di wilayahnya masing-masing, namun hasilnya belum maksimal. Kondisi ini terlihat dari adanya Gepeng yang telah ditangkap dan dikembalikan ke desa akan selalu balik kembali untuk melakukan kegiatannya. Malahan selain ditangkap, Gepeng juga dibina, tetapi ternyata setelah dipulangkan mereka balik kembali. Oleh karena itu, terlihat bahwa penanganan Gepeng belum efektif. Selain itu, meskipun pemerintah seperti di Kota Denpasar telah memasang spanduk yang berisikan agar warga tidak memberikan sedekah kepada Gepeng, namun tetap saja terjadi pemberian sedekah kepada Gepeng.

 

 Upaya yang menimbulkan efek jera  pada Gepeng belum terwujud secara baik, sehingga para Gepeng akan kembali dna kembali lagi setelah tertangkap dan dipulangkan.

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan seperti yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bebrapa hal, di antaranya adalah sebagai berikut

  1. Beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal, yaitu  individu dan keluarga Gepeng serta masyarakat , dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya;
  2. Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut ádalah : (i) kemiskinan individu dan keluarga; yang mencakup penguasaan lahan yang terbatas dan tidak produktif, keterbatasan penguasaan aset produktif, keterbatasan penguasaan modal usaha; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan (“life skill”) untuk kegiatan produktif; (vi) sikap mental; dan
  3. Faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

5.2 Saran dan Rekomendasi

 

            Penanganan masalah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) di Bali tidak dapat dilepaskan dari penanganan kemiskinan itu sendiri, terutama jika dilihat dari sudut pandang daerah asal Gepeng. Memang, kemiskinan bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kegiatan menggelandangan dan mengemis tetapi bisa juga menjadi akar penyebab. Oleh karena itu, beberapa alternatif pemecahan masalah yang berkenaan dengan penanganan Gepeng dapat ditinjau dari dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi di luar daerah asal. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara mengemis. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan (di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja). Gepeng yang beroperasi di empat kota tersebut “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Marpuji, dkk. (1990). “Gelandangan di Kertasura”. Surakarta: Monografi 3 Lembaga Penelitian Universitas Muhamadiyah.

 

Alkotsar, Artidjo (1984). Advokasi Anak Jalanan”. Jakarta: Rajawali.

 

Anonimus (1980). “Peraturan Pemerintah No. 31/1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Jakarta.

 

Breeman, Jan C (1980). “The Informal Sector in Research, Theory and Practice Comparative Asian Studies”. Rotterdam: Program Publication No. III.

 

Chambers, Robert, (1983). “Rural Development: Putting the Last First”.

 

Friedmann, John. (1979). “Urban Poverty in Latin America, Some Theoretical Considerations”. Upsala: Development Dialogue, Vol. I

 

Hart, Keith (1973). “ Informal Income Opportunities and Urban Employment in Ghana”. Journal of Modern Africana Studies.

 

Humaidy, M.Ali Al (?). “Pergeseran Budaya Mengemis di Masyarakat Desa Pragaan Daya Sumenep Madura”. Pamekasan: STAIN.

 

Iqbali, Saptono. (2005). “Gelandangan-Pengemis (GEPENG) di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem”. Denpasar: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Udayana.

 

Rajab, Budi, (1996). “Persoalan Kemiskinan dalam orientasi Kebijaksanaan Pembangunan”, Bandung: Majalah  Ilmiah PDP Unpad Prakarsa

 

Suparlan, Parsudi (1984). “Gelandangan: Sebuah Konsekuensi Perkembangan Kota, dalam Gelandangan pandangan Ilmu Sosial”. Jakarta: LP3ES.

 

 

 

 

 

 

 

 
Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

Fakultas Pertanian Univ. Dwijendra Denpasar

Ir.      Sosek Fak. Pertanian UNUD, 1987

M.Sc.Social Development, Dept. of

          Sociology and Anthropology,

          Ateneo de Manila Univ. 1994

MMA. Manajemen Agribisnis

          Pascasarjana UNUD, 2006

 

 

 

 

 

 

 

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS:

Kasus di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja

 

Oleh Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

 

ABSTRAKSI

 

Arus urbanisasi ke Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal sehingga menimbulkan salah satu masalah yaitu terjadinya gelandangan dan pengemis.

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya. Faktor internal meliputi : (i) kemiskinan; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan; (vi) sikap mental. Sedangkan faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

            Oleh karena itu, pemecahan masalahnya harus mencakup dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi daerah tujuan. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara membuka pekerjaan di desa. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

ABSTRACTS

 

Urbanization has been rapidly increased to the cities, such as Denpasar, Gianyar, Tabanan and Singaraja. In the other hand, the job opportunities in the cited cities  have not fully fitted those who urbanize, thus bring them to be beggar.  

 

The research pointed out that there are some reasons of being beggar, namely internal and external factors. These factors could be partially and mutually influenced the beggar. Internal factors consist of (i) poverty; (ii) age; (iii) formal education; (iv) permittance of their parents; (v) low life skill; and (vi) attitude. Meanwhile, the external factors are : (i) hydrologic conditions; (ii) bad agricultural conditions; (iii) poor infrastructures; (iv) limited access to information and capital; and (v) permisiveness of urban people; and (vi) weaknesess of handling.

 

            The alternative solutions should be comprehensively paid attention to the two aspects, namely the village condition and destination cities conditions. It is principally that the solutions should be able to protect them leaving their village to look for job in the cities by opening job opportunities in the village itself. Meanwhile, the beggars in the cities should be handled by making them have no chance to gain money as beggar.

 

 

 

I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Hakekatnya, pembangunan ekonomi di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan peluang berusaha, meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat serta meningkatkan hubungan antar daerah. Secara konsepsional, pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan  bermuara pada manusia sebagai insan yang harus dibangun kehidupannya dan sekaligus merupakan sumberdaya pembangunan yang harus terus ditingkatkan kualitas dan kemampuannya untuk mengangkat harkat dan martabatnya (Chambers, 1983).

 

Kota Denpasar dan kota-kota lainnya di Bali tumbuh juga secara baik dan bahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Salah satu persoalan yang muncul adalah kesenjangan atau ketimpangan yang semakin besar dalam pembagian pendapatan antara berbagai golongan pendapatan, antara daerah perkotaan dan pedesaan. Ini berarti juga bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat belum berhasil untuk menanggulangi masalah kemiskinan, seperti pengangguran dan masalah sosial-ekonomi lainnya, seperti gelandangan dan pengemis.

           

Tetapi, arus urbanisasi, khususnya yang menuju Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Kota Denpasar yang sebagai Ibukota Provinsi Bali menjadi daerah yang “subur” bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal. Apalagi mereka yang melakukan urbanisasi tidak memiliki keterampilan tertentu yang dibutuhkan dan sengaja untuk melakukan kegiatan sebagai gelandangan dan pengemis.

 

Akibatnya, mereka yang dengan sengaja untuk menjadi gelandangan dan pengemis (Gepeng) di kota-kota seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja akan semakin menjadi ”sosok” yang sangat tidak dibutuhkan karena dirasakan mengganggu ketertiban dan keamanan di jalanan termasuk dibeberapa permukiman. Secara umum, mereka yang menjadi Gepeng di ke empat kota seperti yang disebutkan di atas hampir seluruhnya berasal dari Dusun Munti Gunung di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Oleh karena itu, pada penelitian ini juga akan melihat faktor-faktor apa yang menyebabkan mereka menjadi Gepeng?

 

 

1.2 Tujuan Penelitian

 

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi berbagai masalah atau faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai Gepeng baik yang ditemui di daerah asal maupun di daerah tujuan (kota-kota). Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengatasi masalah Gepeng yang ada di kota-kota, seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja.

 

 

II KERANGKA DASAR TEORI

 

2.1 Pengertian Gelandangan dan Pengemis

 

Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum. Sedangkan, pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. (Anon., 1980). Humaidi, (2003) menyatakan bahwa gelandangan berasal dari kata gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana).

 

Menurut Muthalib dan Sudjarwo (dalam IqBali, 2005) diberikan tiga gambaran umum gelandangan, yaitu (1) sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh masyaratnya, (2) orang yang disingkirkan dari kehidupan khalayak ramai, dan (3) orang yang berpola hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan. Ali, dkk., (1990) juga menggambarkan mata pencaharian gelandangan di Kartasura seperti pemulung, peminta-minta, tukang semir sepatu, tukang becak, penjaja makanan, dan pengamen.

 

Harth (1973) mengemukakan bahwa dari kesempatan memperoleh penghasilan yang sah, pengemis dan gelandangan termasuk pekerja sektor informal. Sementara itu, Breman (1980) mengusulkan agar dibedakan tiga kelompok pekerja dalam analisis terhadap kelas sosial di kota, yaitu (1) kelompok yang berusaha sendiri dengan modal dan memiliki ketrampilan; (2) kelompok buruh pada usaha kecil dan kelompok yang berusaha sendiri dengan modal sangat sedikit atau bahkan tanpa modal; dan (3) kelompok miskin yang kegiatannya mirip gelandangan dan pengemis.

 

Sementara itu Alkostar (1984) dalam penelitiannya tentang kehidupan gelandangan melihat bahwa terjadinya gelandangan dan pengemis dapat dibedakan menjadi dua faktor penyebab, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat-sifat malas, tidak mau bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama dan letak geografis.

 

2.2 Kemiskinan

 

Hall dan Midgley (2004), menyatakan kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kondisi  deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi  di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat. Juga, kemiskinan didefenisikan sebagai  ketidaksamaan  kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial (Friedmann, 1979).

 

Kemiskinan merupakan suatu ketidaksanggupan seseorang untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan keperluan-keperluan materialnya (Oscar, dalam Suparlan, 1984). Dalam proses dinamikanya, budaya kemiskinan ini selanjutnya menjadi kondisi yang memperkuat kemiskinan itu sendiri. Keadaan tersebut di atas memberikan indikasi bahwa kemiskinan merupakan penyebab dan sekaligus dampak, dimana masing-masing faktor penyebab sekaligus dampak untuk dan dari faktor-faktor lainnya atau penyebab sirkuler (Rajab, 1996). Sementara itu, Harris (1984) mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan karena keterbatasan faktor-faktor geografis (daerahnya terpencil atau terisolasi, dan terbatasanya prasarana dan sarana), ekologi (keadaan sumber daya tanah/lahan, dan air serta cuaca yang tidak mendukung), teknologi (kesederhanaan sistem teknologi untuk berproduksi), dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan tingkat penghasilannya. Chambers (1983) mengemukakan bahwa sebenarnya orang-orang miskin tidaklah malas, fatalistik, boros, dungu dan bodoh, tetapi mereka sebenarnya adalah pekerja keras, cerdik dan ulet. Argumennya dilandasi bahwa mereka memiliki sifat-sifat tersebut karena untuk dapat mempertahankan hidupnya dan melepaskan diri dari belenggu rantai kemiskinan.

 

 

III METODE PENELITIAN

 

3.1 Lokasi Penelitian

 

Lokasi penelitian ini adalah di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja, dimana pemilihan lokasi ini dilakukan secara “purposive sampling” yaitu pemilihan lokasi atau obyek penelitian secara sengaja dengan beberapa pertimbangan tertentu. Salah satu pertimbangan dipilihnya lokasi penelitian tersebut adalah di kota-kota tersebut memiliki jumlah Gepeng yang cukup besar dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang ada di lima kabupaten lainnya yang  ada di Provinsi Bali (berdasarkan survai awal peneliti dkk. 2007).

 

 

3.2 Populasi dan Responden

 

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Gepeng yang tersebar di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja dimana jumlahnya tidak tercatat karena adanya mobilitas yang tinggi. Guna memudahkan analisis dan memperhatikan keterbatasan waktu, tenaga dan dana yang tersedia, sampel yang ditentukan adalah sebanyak 74 orang yang dipilih secara “incidental sampling” yaitu memberikan sejumlah sampel pada masing-masing kota, dengan rincian sebagai berikut.

1. Kota Denpasar sebanyak   27 orang

2. Kota Gianyar sebanyak  16 orang

3. Kota Tabanan sebanyak  15 orang

4. Kota Singaraja sebanyak  16  orang

 

Selain itu, dilakukan wawancara terhadap responden lainnya yang bersentuhan dengan kegiatan GEPENG, seperti Instansi Pemerintah yang terkait, pengguna jalan tempat GEPENG beroperasi, warga masyarakat di daerah operasi GEPENG, sehubungan dengan masalah yang dihadapinya.

 

3.3 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

 

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosial, ekonomi, demografi dan teknis dan data lainnya dari sampel yang berkenaan dengan tujuan penelitian ini. Misalnya mengenai umur, lama pendidikan formal, jenis kelamin, saat memulai menjadi Gepeng, dsb.  Sedangkan data sekunder mencakup kondisi geografis, demografis daerah asal, daerah tujuan Gepeng, dan informasi lainnya yang mendukung tujuan penelitian ini.

Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi langsung dan dokumentasi.

 

3.4 Analisis Data

           

Data yang terkumpul lebih dahulu ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel. Analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan menginterprestasikan sesuai dengan tujuan penelitian.

 

IV. PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS

Berdasarkan pada hasil survai dan pengamatan langsung di lokasi penelitian, yaitu  di empat kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja), serta observasi di lokasi daerah asal, yaitu Munti Gunung dan sekitarnya, diperoleh beberapa faktor penyebab terjadinya Gelandangan dan Pengemis (Gepeng). Beberapa faktor penyebab tersebut di antaranya ádalah  faktor yang ada di internal individu dan keluarga Gepeng, internal masyarakat, dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya.

 

4.1 Faktor Internal

 

Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut diuraikan secara ringkas berikut ini.

 

4.1.1 Kemiskinan Individu dan Keluarga  

 

Melalui penelitian yang dilakukan ternyata kemiskinan individu termasuk salah satu faktor yang menentukan terjadinya kegiatan menggelandang dan mengemis. Kondisi ini tercermin dari informasi yang diperoleh bahwa rata-rata penguasaan lahan Gepeng dan keluarganya adalah relatif sempit, yaitu 38,23 are, dengan interval antara 20-60 are. Terbatasnya penguasaan lahan diperburuk lagi oleh kondisi lahan yang tandus, kritis dan kurangnya ketersediaan air, kecuali saat musim hujan mengakibatkan mereka tidak dapat mengusahakan lahannya sepanjang tahun. Oleh karena itu, pada saat musim kemarau Gepeng dan keluarganya mencari penghasilan ke kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) hanya untu memenuhi kebutuhan yang paling mendasar, yaitu kebutuhan pangan.

 

Dengan demikian, kesulitan memperoleh penghasilan dari lahan pertanian yang dikuasainya mendorong mereka untuk meninggalkan desanya dan terpaksa harus mencari penghasilan dengan cara-cara yang mudah dan tanpa memerlukan ketrampilan, yaitu menjadi Gepeng.

4.1.2 Umur

            Ternyata faktor umur memberikan pengaruh yang cukup signifikan, dimana sebagian terbesar (sekitar 74,32 %) dari gelandangan dan pengemis yang ditemui adalah berusia yang masih sangat muda, yaitu kurang dari 13 tahun. Berdasarkan pada wawancara dengan mereka diketahui bahwa faktor umur yang masih muda ini memberikan peluang bagi mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis karena tiadanya memikirkan rasa malu yang terlalu kuat. Bahkan mereka (anak-anak) terlihat riang berlari-lari dan bercanda dengan temannya saat menggepeng. Kondisi ini sangat berbeda atau berbanding terbalik dengan mereka yang telah menginjak usia remaja. Hal ini, tercermin dari hasil penelitian bahwa Gepeng yang berusia antara 15 – 40 tahun tidak ditemukan di empat kota yang menjadi lokasi studi. Hal yang menarik juga terlihat dari penelitian ini, yaitu tidak ditemukannya Gepeng yang berusia  15-40 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa laki-laki yang sudah dewasa sudah merasa tidak pantas lagi menjadi Gepeng karena malu. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa mereka yang berusia remaja telah beralih fungsi pekerjaan menjadi buruh, kuli, pembantu rumah tangga, tukang, termasuk buruh tani, khususnya pada musim-musim panen cengkeh di Kabupaten Buleleng.

            Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan juga bahwa kaum perempuan berumur lebih dari 40 tahun sepertinya memberikan peluang yang lebih besar untuk memperoleh ”belas kasihan” dari penduduk kota. Kondisi tersebut sangat wajar jika dikaji lebih lanjut dimana mereka akan mendapat beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut: (i) calon pemberi uang akan iba melihat seorang ibu dengan anak kecil yang digendongnya; (ii) uang yang diperoleh akan lebih banyak, selain terkadang mereka diberikan juga makanan, khususnya untuk anak yang digendongnya.

4.1.3 Pendidikan Formal

Berkenaan dengan faktor umur tersebut di atas, ternyata faktor pendidikan juga turut mempengaruhi responden untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis. Pada tingkat umur yang masih terkategori anak-anak, semestinya mereka sedang mengikuti kegiatan pendidikan formal di sekolah. Namun, mereka memilih menjadi Gepeng dibandingkan bersekolah karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk kebutuhan sekolah sebagai akibat dari kemiskinan orang tua. Tidak berpendidikannya responden menyebabkan mereka tidak memperoleh pengetahuan atau pemahaman tentang budi pekerti, agama dan ilmu pengetahuan lainnya yang mampu menggugah hati mereka untuk tidak melakukan kegiatan sebagai Gepeng.

4.1. 4 Ijin Orang Tua

            Seluruh anak-anak yang melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka telah mendapat ijin dari orang tuanya dan bahkan disuruh oleh orang tuanya. Melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di desa, alasan tersebut di atas juga dibenarkan mengingat kondisi sosial ekonomi orang tua anak-anak yang menjadi Gepeng di dusun tergolong sangat miskin. Sehingga pada musim kemarau, mereka ”terpaksa” membiarkan anaknya dan ”menyuruh” anaknya untuk ikut mencari penghasilan guna membantu memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

4.1.5 Rendahnya Ketrampilan

            Hasil wawancara terhadap seluruh Gepeng yang beroperasi di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja tidak memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kondisi ini sangat wajar terjadi karena sebagian terbesar dari mereka adalah masih berusia yang belia atau muda. Semestinya mereka sedang menikmati kegiatan akademik atau di dunia pendidikan. Sementara mereka yang tergolong umur relatif lebih tua dan berjenis kelamin perempuan sejak muda tidak pernah memperoleh pendidikan ketrampilan di desa. Oleh karena itu, kegiatan menggelandang dan mengemis adalah pilihan yang paling gampang untuk dilaksanakan guna memperoleh penghasilan secara mudah. Tetapi menurut mereka, mengemis itu terkadang agak sulit untuk memperoleh uang karena harus berkeliling dan mencoba serta mencoba untuk meinta-minta, dimana tidak semua calon pemberi sedekah langsung memberikannya, dan bahkan tidak memperdulikannya.

4.1.6 Sikap Mental

            Kondisi ini terjadi karena di pikiran para Gepeng muncul kecendrungan bahwa pekerjaan yang dilakukannya tersebut adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, selayaknya pekerjaan lain yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan. Ketiadaan sumber-sumber penghasilan dan keterbatasan penguasaan prasarana dan sarana produktif, serta terbatasnya ketrampilan menyebabkan mereka menjadikan mengemis sebagai suatu pekerjaan. Atau dengan kata lain, mereka mengatakan juga bahwa tiada jalan lain selain mengemis untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.  

Selain itu, sikap mental yang malas ini juga didorong oleh lemahnya kontrol warga masyarakat lainnya atau adanya kesan permisif terhadap kegiatan menggelandang dan mengemis yang dilakukan oleh warga karena keadaan ekonomi mereka yang sangat terbatas. Sementara di sisi lain, belum dimilikinya solusi yang tepat dalam jangka pendek bagi mereka yang menjadi Gepeng. Keadaan yang demikian ini juga turut memunculkan dan sedikit menjaga adanya budaya mengemis yang terjadi.

4.2 Faktor Eksternal/Lingkungan

Pada penelitian ini, faktor lingkungan yang dimaksudkan adalah beberapa faktor yang berada di sekeliling atau sekitar responden baik yang di daerah asal maupun di daerah tujuan. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

4.2.1 Kondisi Hidrologis

 

Mempersoalkan kondisi hidrologis di Dusun Munti Gunung, sepertinya tidak dapat dilepaskan juga dari kondisi yang sama di desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Kubu, dimana faktor air merupakan faktor utama sebagai pembatas dalam aktivitas warga. Hanya beberapa wilayah yang berada di dekat pesisir yang dapat memperoleh air sepanjang tahun karena pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum telah membangun sumur-sumur bor dan dilengkapi dengan prasarananya, seperti mesin pompa dan instalasi pipa-pipa.

 

Secara alamiah Dusun Munti Gunung termasuk daerah yang sangat gersang dan tandus sebagai akibat dari keterbatasan ketersediaan air. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena fakta membuktikan curah hujan yang rendah dan musim kemarau yang panjang. Pada musim ini, mereka yang tergolong miskin sangat kesulitan untuk memperoleh air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi inilah yang kemudian mendorong bagi warga masyarakat yang miskin dengan ”terpaksa” harus keluar dari dusunnya untuk mencari penghasilan karena pada periode musim kemarau tersebut mereka tidak dapat melakukan aktivitas ekonomis. Perlu diketahui juga bahwa, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah pertanian. 

 

4.2.2 Kondisi Pertanian

 

Secara topografis, Dusun Munti Gunung memiliki kondisi yang kurang mendukung jika dihubungkan dengan pengelolaan usahatani atau pembangunan pertanian (termasuk ternak) di lahan kering. Topografinya adalah berbukit atau bergunung ditambah dengan ketiadaan teknologi budidaya pertanian menjadikan penduduk termasuk Gepeng dan keluarganya tidak mampu mengelola lahannya. Apalagi keadaan hidrologisnya sangat tidak mendukung untuk kegiatan pertanian.

 

Penguasaan teknologi pertanian yang terbatas sangat memperparah pengelolaan usahatani di desa. Mereka umumnya menanam tanaman palawija (kacang-kacangan dan umbi-umbian) yang tidak memerlukan banyak air irigasi. Pengunaan bibit, pemupupukan termasuk penanganan hama dan penyakit dapat dikatakan sangat rendah kualitasnya sehingga produktivitas yang dihasilkan juga menjadi rendah. Kondisi yang demikian inilah selanjutnya mengakibatkan mereka memperoleh penghasilan/pendapatan yang rendah, sementara kebutuhan hidup keluarga Gepeng termasuk penduduk lainnya semakin tinggi. Oleh karena itu, terbatasnya sumber dan besarnya pendapatan mendorong mereka untuk keluar dari dusun guna mencari penghasilan di kota.

 

4.2.3 Kondisi Prasarana Fisik

 

Keadaan topografis Dusun Munti Gunung yang berbukit dan secara geografis termasuk terisolasi mengakibatkan pembangunan prasarana fisik seperti jalan, pasar, sekolah, air bersih adalah sangat terbatas. Prasarana transportasi sebagai salah satu prasarana yang pokok, seperti  jalan darat baik yang menghubungkan antar dusun maupun di dalam dusun relatif belum bagus, yaitu sebagian besar merupakan jalan yang tidak beraspal atau merupakan jalan “geladag” (yang hanya diperkeras) atau jalan tanah. Seperti telah disebutkan di depan bahwa sebesar 70 % dari panjang jalan sekitar 18,50 km jalan yang ada di wilayah Dusun Munti Gunung merupakan jalan tanah. Rendahnya kualitas jalan menyebabkan terjadinya inefisiensi di dalam kegiatan transportasi sehingga mengakibatkan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan ekonomis menjadi relatif rendah. Penghasilan yang kecil ini tampaknya juga mendorong mereka meninggalkan dusunnya untuk mencari pekerjaan di luar desa, seperti menggelandang dan mengemis.

 

Prasarana lainnya yang terbatas adalah prasarana air bersih, dimana mereka hanya membangun bak-bak penampungan air yang disebut dengan cubang baik yang dikelola secara kolektif selain secara individual yang berfungsi untuk menampung air hujan. Sebagai penduduk di bawah garis kemiskinan di desa, mereka tertarik mendapatkan uang di kota. ”Kota sebagai tempat mengadu nasib dianggap sebagai faktor penarik hijrahnya orang dari desa ke kota.

 

4.2.4 Terbatasnya Akses Informasi dan Modal Usaha

 

Warga Dusun Munti Gunung memiliki keterbatasan di dalam mengakses informasi baik yang berkenaan dengan berbagai aspek ekonomi produktif, sosial maupun aspek lainnya. Keterbatasan dalam mengakses informasi ini juga diperparah oleh keterbatasan pemilikan prasarana media, seperti televisi, koran dan lain sebagainya. Ternyata, keterbatasan ini diakibatkan juga oleh belum masuknya jaringan listrik secara meluas di Dusun Munti Gunung.

 

Akses lainnya yang sulit untuk diperoleh adalah modal usaha. Kesulitan ini diakibatkan karena perolehan modal usaha memerlukan berberapa syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh warga dusun, termausk keluarga Gepeng. Syarat utama yang dibutuhkan adalah adanya agunan yang berupa sertifikat tanah. Warga dusun dan keluarga Gepeng tidak berani menyerahkan sertifikat tanahnya sebagai agunan karena mereka tidak mau mengambil resko terburuk, yaitu tanahnya disita jika usahanya tidak berhasil.

 

4.2.5 Kondisi Permisif di Kota Tujuan

 

Sikap permisif masyarakat di Kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) terlihat dari adanya sikap yang memberi bila ada Gepeng yang mendekatinya, baik yang ke rumah, di pinggir jalan, di warung dan lain sebagainya. Rasa kasihan, kepedulian dan berbagi antar sesama umat yang merupakan ajaran moralitas mengakibatkan warga kota memberikan sedekahnya kepada Gepeng. Sementara di sisi lain, pandangan tersebut dimanfaatkannya secara baik guna terus berlaku dengan cara menunjukkan kondisi yang layak untuk mendapatkan rasa welas asih. Selain itu, sikap permisif masih terlihat juga dari dibiarkannya Gepeng melintasi wilayah-wilayah tertentu, seperti di sekitar rumahnya atau di tempat umum. Hasil survai dan observasi menunjukkan juga bahwa terdapat kesulitan bagi warga untuk melarangnya karena mereka hanya melintas. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa warga tidak memiliki hak atau kewajiban untuk menegur apalagi menangkap Gepeng. 

 

4.2.6 Kelemahan Penanganan Gepeng di Kota

 

Walaupun pemerintah di (Kota Denapasar, Kabupaten Gianyar, Tabanan dan Buleleng) telah berupaya secara maksimal di dalam menangani Gepeng di wilayahnya masing-masing, namun hasilnya belum maksimal. Kondisi ini terlihat dari adanya Gepeng yang telah ditangkap dan dikembalikan ke desa akan selalu balik kembali untuk melakukan kegiatannya. Malahan selain ditangkap, Gepeng juga dibina, tetapi ternyata setelah dipulangkan mereka balik kembali. Oleh karena itu, terlihat bahwa penanganan Gepeng belum efektif. Selain itu, meskipun pemerintah seperti di Kota Denpasar telah memasang spanduk yang berisikan agar warga tidak memberikan sedekah kepada Gepeng, namun tetap saja terjadi pemberian sedekah kepada Gepeng.

 

 Upaya yang menimbulkan efek jera  pada Gepeng belum terwujud secara baik, sehingga para Gepeng akan kembali dna kembali lagi setelah tertangkap dan dipulangkan.

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan seperti yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bebrapa hal, di antaranya adalah sebagai berikut

  1. Beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal, yaitu  individu dan keluarga Gepeng serta masyarakat , dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya;
  2. Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut ádalah : (i) kemiskinan individu dan keluarga; yang mencakup penguasaan lahan yang terbatas dan tidak produktif, keterbatasan penguasaan aset produktif, keterbatasan penguasaan modal usaha; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan (“life skill”) untuk kegiatan produktif; (vi) sikap mental; dan
  3. Faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

5.2 Saran dan Rekomendasi

 

            Penanganan masalah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) di Bali tidak dapat dilepaskan dari penanganan kemiskinan itu sendiri, terutama jika dilihat dari sudut pandang daerah asal Gepeng. Memang, kemiskinan bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kegiatan menggelandangan dan mengemis tetapi bisa juga menjadi akar penyebab. Oleh karena itu, beberapa alternatif pemecahan masalah yang berkenaan dengan penanganan Gepeng dapat ditinjau dari dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi di luar daerah asal. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara mengemis. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan (di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja). Gepeng yang beroperasi di empat kota tersebut “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Marpuji, dkk. (1990). “Gelandangan di Kertasura”. Surakarta: Monografi 3 Lembaga Penelitian Universitas Muhamadiyah.

 

Alkotsar, Artidjo (1984). Advokasi Anak Jalanan”. Jakarta: Rajawali.

 

Anonimus (1980). “Peraturan Pemerintah No. 31/1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Jakarta.

 

Breeman, Jan C (1980). “The Informal Sector in Research, Theory and Practice Comparative Asian Studies”. Rotterdam: Program Publication No. III.

 

Chambers, Robert, (1983). “Rural Development: Putting the Last First”.

 

Friedmann, John. (1979). “Urban Poverty in Latin America, Some Theoretical Considerations”. Upsala: Development Dialogue, Vol. I

 

Hart, Keith (1973). “ Informal Income Opportunities and Urban Employment in Ghana”. Journal of Modern Africana Studies.

 

Humaidy, M.Ali Al (?). “Pergeseran Budaya Mengemis di Masyarakat Desa Pragaan Daya Sumenep Madura”. Pamekasan: STAIN.

 

Iqbali, Saptono. (2005). “Gelandangan-Pengemis (GEPENG) di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem”. Denpasar: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Udayana.

 

Rajab, Budi, (1996). “Persoalan Kemiskinan dalam orientasi Kebijaksanaan Pembangunan”, Bandung: Majalah  Ilmiah PDP Unpad Prakarsa

 

Suparlan, Parsudi (1984). “Gelandangan: Sebuah Konsekuensi Perkembangan Kota, dalam Gelandangan pandangan Ilmu Sosial”. Jakarta: LP3ES.

 

 

 

 

 

 

 

 
Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

Fakultas Pertanian Univ. Dwijendra Denpasar

Ir.      Sosek Fak. Pertanian UNUD, 1987

M.Sc.Social Development, Dept. of

          Sociology and Anthropology,

          Ateneo de Manila Univ. 1994

MMA. Manajemen Agribisnis

          Pascasarjana UNUD, 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS:

Kasus di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja

 

Oleh Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

 

ABSTRAKSI

 

Arus urbanisasi ke Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal sehingga menimbulkan salah satu masalah yaitu terjadinya gelandangan dan pengemis.

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya. Faktor internal meliputi : (i) kemiskinan; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan; (vi) sikap mental. Sedangkan faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

            Oleh karena itu, pemecahan masalahnya harus mencakup dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi daerah tujuan. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara membuka pekerjaan di desa. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

ABSTRACTS

 

Urbanization has been rapidly increased to the cities, such as Denpasar, Gianyar, Tabanan and Singaraja. In the other hand, the job opportunities in the cited cities  have not fully fitted those who urbanize, thus bring them to be beggar.  

 

The research pointed out that there are some reasons of being beggar, namely internal and external factors. These factors could be partially and mutually influenced the beggar. Internal factors consist of (i) poverty; (ii) age; (iii) formal education; (iv) permittance of their parents; (v) low life skill; and (vi) attitude. Meanwhile, the external factors are : (i) hydrologic conditions; (ii) bad agricultural conditions; (iii) poor infrastructures; (iv) limited access to information and capital; and (v) permisiveness of urban people; and (vi) weaknesess of handling.

 

            The alternative solutions should be comprehensively paid attention to the two aspects, namely the village condition and destination cities conditions. It is principally that the solutions should be able to protect them leaving their village to look for job in the cities by opening job opportunities in the village itself. Meanwhile, the beggars in the cities should be handled by making them have no chance to gain money as beggar.

 

 

 

I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Hakekatnya, pembangunan ekonomi di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan peluang berusaha, meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat serta meningkatkan hubungan antar daerah. Secara konsepsional, pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan  bermuara pada manusia sebagai insan yang harus dibangun kehidupannya dan sekaligus merupakan sumberdaya pembangunan yang harus terus ditingkatkan kualitas dan kemampuannya untuk mengangkat harkat dan martabatnya (Chambers, 1983).

 

Kota Denpasar dan kota-kota lainnya di Bali tumbuh juga secara baik dan bahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Salah satu persoalan yang muncul adalah kesenjangan atau ketimpangan yang semakin besar dalam pembagian pendapatan antara berbagai golongan pendapatan, antara daerah perkotaan dan pedesaan. Ini berarti juga bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat belum berhasil untuk menanggulangi masalah kemiskinan, seperti pengangguran dan masalah sosial-ekonomi lainnya, seperti gelandangan dan pengemis.

           

Tetapi, arus urbanisasi, khususnya yang menuju Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Kota Denpasar yang sebagai Ibukota Provinsi Bali menjadi daerah yang “subur” bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal. Apalagi mereka yang melakukan urbanisasi tidak memiliki keterampilan tertentu yang dibutuhkan dan sengaja untuk melakukan kegiatan sebagai gelandangan dan pengemis.

 

Akibatnya, mereka yang dengan sengaja untuk menjadi gelandangan dan pengemis (Gepeng) di kota-kota seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja akan semakin menjadi ”sosok” yang sangat tidak dibutuhkan karena dirasakan mengganggu ketertiban dan keamanan di jalanan termasuk dibeberapa permukiman. Secara umum, mereka yang menjadi Gepeng di ke empat kota seperti yang disebutkan di atas hampir seluruhnya berasal dari Dusun Munti Gunung di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Oleh karena itu, pada penelitian ini juga akan melihat faktor-faktor apa yang menyebabkan mereka menjadi Gepeng?

 

 

1.2 Tujuan Penelitian

 

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi berbagai masalah atau faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai Gepeng baik yang ditemui di daerah asal maupun di daerah tujuan (kota-kota). Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengatasi masalah Gepeng yang ada di kota-kota, seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja.

 

 

II KERANGKA DASAR TEORI

 

2.1 Pengertian Gelandangan dan Pengemis

 

Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum. Sedangkan, pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. (Anon., 1980). Humaidi, (2003) menyatakan bahwa gelandangan berasal dari kata gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana).

 

Menurut Muthalib dan Sudjarwo (dalam IqBali, 2005) diberikan tiga gambaran umum gelandangan, yaitu (1) sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh masyaratnya, (2) orang yang disingkirkan dari kehidupan khalayak ramai, dan (3) orang yang berpola hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan. Ali, dkk., (1990) juga menggambarkan mata pencaharian gelandangan di Kartasura seperti pemulung, peminta-minta, tukang semir sepatu, tukang becak, penjaja makanan, dan pengamen.

 

Harth (1973) mengemukakan bahwa dari kesempatan memperoleh penghasilan yang sah, pengemis dan gelandangan termasuk pekerja sektor informal. Sementara itu, Breman (1980) mengusulkan agar dibedakan tiga kelompok pekerja dalam analisis terhadap kelas sosial di kota, yaitu (1) kelompok yang berusaha sendiri dengan modal dan memiliki ketrampilan; (2) kelompok buruh pada usaha kecil dan kelompok yang berusaha sendiri dengan modal sangat sedikit atau bahkan tanpa modal; dan (3) kelompok miskin yang kegiatannya mirip gelandangan dan pengemis.

 

Sementara itu Alkostar (1984) dalam penelitiannya tentang kehidupan gelandangan melihat bahwa terjadinya gelandangan dan pengemis dapat dibedakan menjadi dua faktor penyebab, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat-sifat malas, tidak mau bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama dan letak geografis.

 

2.2 Kemiskinan

 

Hall dan Midgley (2004), menyatakan kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kondisi  deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi  di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat. Juga, kemiskinan didefenisikan sebagai  ketidaksamaan  kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial (Friedmann, 1979).

 

Kemiskinan merupakan suatu ketidaksanggupan seseorang untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan keperluan-keperluan materialnya (Oscar, dalam Suparlan, 1984). Dalam proses dinamikanya, budaya kemiskinan ini selanjutnya menjadi kondisi yang memperkuat kemiskinan itu sendiri. Keadaan tersebut di atas memberikan indikasi bahwa kemiskinan merupakan penyebab dan sekaligus dampak, dimana masing-masing faktor penyebab sekaligus dampak untuk dan dari faktor-faktor lainnya atau penyebab sirkuler (Rajab, 1996). Sementara itu, Harris (1984) mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan karena keterbatasan faktor-faktor geografis (daerahnya terpencil atau terisolasi, dan terbatasanya prasarana dan sarana), ekologi (keadaan sumber daya tanah/lahan, dan air serta cuaca yang tidak mendukung), teknologi (kesederhanaan sistem teknologi untuk berproduksi), dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan tingkat penghasilannya. Chambers (1983) mengemukakan bahwa sebenarnya orang-orang miskin tidaklah malas, fatalistik, boros, dungu dan bodoh, tetapi mereka sebenarnya adalah pekerja keras, cerdik dan ulet. Argumennya dilandasi bahwa mereka memiliki sifat-sifat tersebut karena untuk dapat mempertahankan hidupnya dan melepaskan diri dari belenggu rantai kemiskinan.

 

 

III METODE PENELITIAN

 

3.1 Lokasi Penelitian

 

Lokasi penelitian ini adalah di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja, dimana pemilihan lokasi ini dilakukan secara “purposive sampling” yaitu pemilihan lokasi atau obyek penelitian secara sengaja dengan beberapa pertimbangan tertentu. Salah satu pertimbangan dipilihnya lokasi penelitian tersebut adalah di kota-kota tersebut memiliki jumlah Gepeng yang cukup besar dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang ada di lima kabupaten lainnya yang  ada di Provinsi Bali (berdasarkan survai awal peneliti dkk. 2007).

 

 

3.2 Populasi dan Responden

 

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Gepeng yang tersebar di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja dimana jumlahnya tidak tercatat karena adanya mobilitas yang tinggi. Guna memudahkan analisis dan memperhatikan keterbatasan waktu, tenaga dan dana yang tersedia, sampel yang ditentukan adalah sebanyak 74 orang yang dipilih secara “incidental sampling” yaitu memberikan sejumlah sampel pada masing-masing kota, dengan rincian sebagai berikut.

1. Kota Denpasar sebanyak   27 orang

2. Kota Gianyar sebanyak  16 orang

3. Kota Tabanan sebanyak  15 orang

4. Kota Singaraja sebanyak  16  orang

 

Selain itu, dilakukan wawancara terhadap responden lainnya yang bersentuhan dengan kegiatan GEPENG, seperti Instansi Pemerintah yang terkait, pengguna jalan tempat GEPENG beroperasi, warga masyarakat di daerah operasi GEPENG, sehubungan dengan masalah yang dihadapinya.

 

3.3 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

 

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosial, ekonomi, demografi dan teknis dan data lainnya dari sampel yang berkenaan dengan tujuan penelitian ini. Misalnya mengenai umur, lama pendidikan formal, jenis kelamin, saat memulai menjadi Gepeng, dsb.  Sedangkan data sekunder mencakup kondisi geografis, demografis daerah asal, daerah tujuan Gepeng, dan informasi lainnya yang mendukung tujuan penelitian ini.

Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi langsung dan dokumentasi.

 

3.4 Analisis Data

           

Data yang terkumpul lebih dahulu ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel. Analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan menginterprestasikan sesuai dengan tujuan penelitian.

 

IV. PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS

Berdasarkan pada hasil survai dan pengamatan langsung di lokasi penelitian, yaitu  di empat kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja), serta observasi di lokasi daerah asal, yaitu Munti Gunung dan sekitarnya, diperoleh beberapa faktor penyebab terjadinya Gelandangan dan Pengemis (Gepeng). Beberapa faktor penyebab tersebut di antaranya ádalah  faktor yang ada di internal individu dan keluarga Gepeng, internal masyarakat, dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya.

 

4.1 Faktor Internal

 

Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut diuraikan secara ringkas berikut ini.

 

4.1.1 Kemiskinan Individu dan Keluarga  

 

Melalui penelitian yang dilakukan ternyata kemiskinan individu termasuk salah satu faktor yang menentukan terjadinya kegiatan menggelandang dan mengemis. Kondisi ini tercermin dari informasi yang diperoleh bahwa rata-rata penguasaan lahan Gepeng dan keluarganya adalah relatif sempit, yaitu 38,23 are, dengan interval antara 20-60 are. Terbatasnya penguasaan lahan diperburuk lagi oleh kondisi lahan yang tandus, kritis dan kurangnya ketersediaan air, kecuali saat musim hujan mengakibatkan mereka tidak dapat mengusahakan lahannya sepanjang tahun. Oleh karena itu, pada saat musim kemarau Gepeng dan keluarganya mencari penghasilan ke kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) hanya untu memenuhi kebutuhan yang paling mendasar, yaitu kebutuhan pangan.

 

Dengan demikian, kesulitan memperoleh penghasilan dari lahan pertanian yang dikuasainya mendorong mereka untuk meninggalkan desanya dan terpaksa harus mencari penghasilan dengan cara-cara yang mudah dan tanpa memerlukan ketrampilan, yaitu menjadi Gepeng.

4.1.2 Umur

            Ternyata faktor umur memberikan pengaruh yang cukup signifikan, dimana sebagian terbesar (sekitar 74,32 %) dari gelandangan dan pengemis yang ditemui adalah berusia yang masih sangat muda, yaitu kurang dari 13 tahun. Berdasarkan pada wawancara dengan mereka diketahui bahwa faktor umur yang masih muda ini memberikan peluang bagi mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis karena tiadanya memikirkan rasa malu yang terlalu kuat. Bahkan mereka (anak-anak) terlihat riang berlari-lari dan bercanda dengan temannya saat menggepeng. Kondisi ini sangat berbeda atau berbanding terbalik dengan mereka yang telah menginjak usia remaja. Hal ini, tercermin dari hasil penelitian bahwa Gepeng yang berusia antara 15 – 40 tahun tidak ditemukan di empat kota yang menjadi lokasi studi. Hal yang menarik juga terlihat dari penelitian ini, yaitu tidak ditemukannya Gepeng yang berusia  15-40 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa laki-laki yang sudah dewasa sudah merasa tidak pantas lagi menjadi Gepeng karena malu. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa mereka yang berusia remaja telah beralih fungsi pekerjaan menjadi buruh, kuli, pembantu rumah tangga, tukang, termasuk buruh tani, khususnya pada musim-musim panen cengkeh di Kabupaten Buleleng.

            Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan juga bahwa kaum perempuan berumur lebih dari 40 tahun sepertinya memberikan peluang yang lebih besar untuk memperoleh ”belas kasihan” dari penduduk kota. Kondisi tersebut sangat wajar jika dikaji lebih lanjut dimana mereka akan mendapat beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut: (i) calon pemberi uang akan iba melihat seorang ibu dengan anak kecil yang digendongnya; (ii) uang yang diperoleh akan lebih banyak, selain terkadang mereka diberikan juga makanan, khususnya untuk anak yang digendongnya.

4.1.3 Pendidikan Formal

Berkenaan dengan faktor umur tersebut di atas, ternyata faktor pendidikan juga turut mempengaruhi responden untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis. Pada tingkat umur yang masih terkategori anak-anak, semestinya mereka sedang mengikuti kegiatan pendidikan formal di sekolah. Namun, mereka memilih menjadi Gepeng dibandingkan bersekolah karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk kebutuhan sekolah sebagai akibat dari kemiskinan orang tua. Tidak berpendidikannya responden menyebabkan mereka tidak memperoleh pengetahuan atau pemahaman tentang budi pekerti, agama dan ilmu pengetahuan lainnya yang mampu menggugah hati mereka untuk tidak melakukan kegiatan sebagai Gepeng.

4.1. 4 Ijin Orang Tua

            Seluruh anak-anak yang melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka telah mendapat ijin dari orang tuanya dan bahkan disuruh oleh orang tuanya. Melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di desa, alasan tersebut di atas juga dibenarkan mengingat kondisi sosial ekonomi orang tua anak-anak yang menjadi Gepeng di dusun tergolong sangat miskin. Sehingga pada musim kemarau, mereka ”terpaksa” membiarkan anaknya dan ”menyuruh” anaknya untuk ikut mencari penghasilan guna membantu memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

4.1.5 Rendahnya Ketrampilan

            Hasil wawancara terhadap seluruh Gepeng yang beroperasi di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja tidak memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kondisi ini sangat wajar terjadi karena sebagian terbesar dari mereka adalah masih berusia yang belia atau muda. Semestinya mereka sedang menikmati kegiatan akademik atau di dunia pendidikan. Sementara mereka yang tergolong umur relatif lebih tua dan berjenis kelamin perempuan sejak muda tidak pernah memperoleh pendidikan ketrampilan di desa. Oleh karena itu, kegiatan menggelandang dan mengemis adalah pilihan yang paling gampang untuk dilaksanakan guna memperoleh penghasilan secara mudah. Tetapi menurut mereka, mengemis itu terkadang agak sulit untuk memperoleh uang karena harus berkeliling dan mencoba serta mencoba untuk meinta-minta, dimana tidak semua calon pemberi sedekah langsung memberikannya, dan bahkan tidak memperdulikannya.

4.1.6 Sikap Mental

            Kondisi ini terjadi karena di pikiran para Gepeng muncul kecendrungan bahwa pekerjaan yang dilakukannya tersebut adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, selayaknya pekerjaan lain yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan. Ketiadaan sumber-sumber penghasilan dan keterbatasan penguasaan prasarana dan sarana produktif, serta terbatasnya ketrampilan menyebabkan mereka menjadikan mengemis sebagai suatu pekerjaan. Atau dengan kata lain, mereka mengatakan juga bahwa tiada jalan lain selain mengemis untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.  

Selain itu, sikap mental yang malas ini juga didorong oleh lemahnya kontrol warga masyarakat lainnya atau adanya kesan permisif terhadap kegiatan menggelandang dan mengemis yang dilakukan oleh warga karena keadaan ekonomi mereka yang sangat terbatas. Sementara di sisi lain, belum dimilikinya solusi yang tepat dalam jangka pendek bagi mereka yang menjadi Gepeng. Keadaan yang demikian ini juga turut memunculkan dan sedikit menjaga adanya budaya mengemis yang terjadi.

4.2 Faktor Eksternal/Lingkungan

Pada penelitian ini, faktor lingkungan yang dimaksudkan adalah beberapa faktor yang berada di sekeliling atau sekitar responden baik yang di daerah asal maupun di daerah tujuan. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

4.2.1 Kondisi Hidrologis

 

Mempersoalkan kondisi hidrologis di Dusun Munti Gunung, sepertinya tidak dapat dilepaskan juga dari kondisi yang sama di desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Kubu, dimana faktor air merupakan faktor utama sebagai pembatas dalam aktivitas warga. Hanya beberapa wilayah yang berada di dekat pesisir yang dapat memperoleh air sepanjang tahun karena pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum telah membangun sumur-sumur bor dan dilengkapi dengan prasarananya, seperti mesin pompa dan instalasi pipa-pipa.

 

Secara alamiah Dusun Munti Gunung termasuk daerah yang sangat gersang dan tandus sebagai akibat dari keterbatasan ketersediaan air. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena fakta membuktikan curah hujan yang rendah dan musim kemarau yang panjang. Pada musim ini, mereka yang tergolong miskin sangat kesulitan untuk memperoleh air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi inilah yang kemudian mendorong bagi warga masyarakat yang miskin dengan ”terpaksa” harus keluar dari dusunnya untuk mencari penghasilan karena pada periode musim kemarau tersebut mereka tidak dapat melakukan aktivitas ekonomis. Perlu diketahui juga bahwa, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah pertanian. 

 

4.2.2 Kondisi Pertanian

 

Secara topografis, Dusun Munti Gunung memiliki kondisi yang kurang mendukung jika dihubungkan dengan pengelolaan usahatani atau pembangunan pertanian (termasuk ternak) di lahan kering. Topografinya adalah berbukit atau bergunung ditambah dengan ketiadaan teknologi budidaya pertanian menjadikan penduduk termasuk Gepeng dan keluarganya tidak mampu mengelola lahannya. Apalagi keadaan hidrologisnya sangat tidak mendukung untuk kegiatan pertanian.

 

Penguasaan teknologi pertanian yang terbatas sangat memperparah pengelolaan usahatani di desa. Mereka umumnya menanam tanaman palawija (kacang-kacangan dan umbi-umbian) yang tidak memerlukan banyak air irigasi. Pengunaan bibit, pemupupukan termasuk penanganan hama dan penyakit dapat dikatakan sangat rendah kualitasnya sehingga produktivitas yang dihasilkan juga menjadi rendah. Kondisi yang demikian inilah selanjutnya mengakibatkan mereka memperoleh penghasilan/pendapatan yang rendah, sementara kebutuhan hidup keluarga Gepeng termasuk penduduk lainnya semakin tinggi. Oleh karena itu, terbatasnya sumber dan besarnya pendapatan mendorong mereka untuk keluar dari dusun guna mencari penghasilan di kota.

 

4.2.3 Kondisi Prasarana Fisik

 

Keadaan topografis Dusun Munti Gunung yang berbukit dan secara geografis termasuk terisolasi mengakibatkan pembangunan prasarana fisik seperti jalan, pasar, sekolah, air bersih adalah sangat terbatas. Prasarana transportasi sebagai salah satu prasarana yang pokok, seperti  jalan darat baik yang menghubungkan antar dusun maupun di dalam dusun relatif belum bagus, yaitu sebagian besar merupakan jalan yang tidak beraspal atau merupakan jalan “geladag” (yang hanya diperkeras) atau jalan tanah. Seperti telah disebutkan di depan bahwa sebesar 70 % dari panjang jalan sekitar 18,50 km jalan yang ada di wilayah Dusun Munti Gunung merupakan jalan tanah. Rendahnya kualitas jalan menyebabkan terjadinya inefisiensi di dalam kegiatan transportasi sehingga mengakibatkan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan ekonomis menjadi relatif rendah. Penghasilan yang kecil ini tampaknya juga mendorong mereka meninggalkan dusunnya untuk mencari pekerjaan di luar desa, seperti menggelandang dan mengemis.

 

Prasarana lainnya yang terbatas adalah prasarana air bersih, dimana mereka hanya membangun bak-bak penampungan air yang disebut dengan cubang baik yang dikelola secara kolektif selain secara individual yang berfungsi untuk menampung air hujan. Sebagai penduduk di bawah garis kemiskinan di desa, mereka tertarik mendapatkan uang di kota. ”Kota sebagai tempat mengadu nasib dianggap sebagai faktor penarik hijrahnya orang dari desa ke kota.

 

4.2.4 Terbatasnya Akses Informasi dan Modal Usaha

 

Warga Dusun Munti Gunung memiliki keterbatasan di dalam mengakses informasi baik yang berkenaan dengan berbagai aspek ekonomi produktif, sosial maupun aspek lainnya. Keterbatasan dalam mengakses informasi ini juga diperparah oleh keterbatasan pemilikan prasarana media, seperti televisi, koran dan lain sebagainya. Ternyata, keterbatasan ini diakibatkan juga oleh belum masuknya jaringan listrik secara meluas di Dusun Munti Gunung.

 

Akses lainnya yang sulit untuk diperoleh adalah modal usaha. Kesulitan ini diakibatkan karena perolehan modal usaha memerlukan berberapa syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh warga dusun, termausk keluarga Gepeng. Syarat utama yang dibutuhkan adalah adanya agunan yang berupa sertifikat tanah. Warga dusun dan keluarga Gepeng tidak berani menyerahkan sertifikat tanahnya sebagai agunan karena mereka tidak mau mengambil resko terburuk, yaitu tanahnya disita jika usahanya tidak berhasil.

 

4.2.5 Kondisi Permisif di Kota Tujuan

 

Sikap permisif masyarakat di Kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) terlihat dari adanya sikap yang memberi bila ada Gepeng yang mendekatinya, baik yang ke rumah, di pinggir jalan, di warung dan lain sebagainya. Rasa kasihan, kepedulian dan berbagi antar sesama umat yang merupakan ajaran moralitas mengakibatkan warga kota memberikan sedekahnya kepada Gepeng. Sementara di sisi lain, pandangan tersebut dimanfaatkannya secara baik guna terus berlaku dengan cara menunjukkan kondisi yang layak untuk mendapatkan rasa welas asih. Selain itu, sikap permisif masih terlihat juga dari dibiarkannya Gepeng melintasi wilayah-wilayah tertentu, seperti di sekitar rumahnya atau di tempat umum. Hasil survai dan observasi menunjukkan juga bahwa terdapat kesulitan bagi warga untuk melarangnya karena mereka hanya melintas. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa warga tidak memiliki hak atau kewajiban untuk menegur apalagi menangkap Gepeng. 

 

4.2.6 Kelemahan Penanganan Gepeng di Kota

 

Walaupun pemerintah di (Kota Denapasar, Kabupaten Gianyar, Tabanan dan Buleleng) telah berupaya secara maksimal di dalam menangani Gepeng di wilayahnya masing-masing, namun hasilnya belum maksimal. Kondisi ini terlihat dari adanya Gepeng yang telah ditangkap dan dikembalikan ke desa akan selalu balik kembali untuk melakukan kegiatannya. Malahan selain ditangkap, Gepeng juga dibina, tetapi ternyata setelah dipulangkan mereka balik kembali. Oleh karena itu, terlihat bahwa penanganan Gepeng belum efektif. Selain itu, meskipun pemerintah seperti di Kota Denpasar telah memasang spanduk yang berisikan agar warga tidak memberikan sedekah kepada Gepeng, namun tetap saja terjadi pemberian sedekah kepada Gepeng.

 

 Upaya yang menimbulkan efek jera  pada Gepeng belum terwujud secara baik, sehingga para Gepeng akan kembali dna kembali lagi setelah tertangkap dan dipulangkan.

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan seperti yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bebrapa hal, di antaranya adalah sebagai berikut

  1. Beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal, yaitu  individu dan keluarga Gepeng serta masyarakat , dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya;
  2. Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut ádalah : (i) kemiskinan individu dan keluarga; yang mencakup penguasaan lahan yang terbatas dan tidak produktif, keterbatasan penguasaan aset produktif, keterbatasan penguasaan modal usaha; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan (“life skill”) untuk kegiatan produktif; (vi) sikap mental; dan
  3. Faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

5.2 Saran dan Rekomendasi

 

            Penanganan masalah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) di Bali tidak dapat dilepaskan dari penanganan kemiskinan itu sendiri, terutama jika dilihat dari sudut pandang daerah asal Gepeng. Memang, kemiskinan bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kegiatan menggelandangan dan mengemis tetapi bisa juga menjadi akar penyebab. Oleh karena itu, beberapa alternatif pemecahan masalah yang berkenaan dengan penanganan Gepeng dapat ditinjau dari dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi di luar daerah asal. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara mengemis. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan (di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja). Gepeng yang beroperasi di empat kota tersebut “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Marpuji, dkk. (1990). “Gelandangan di Kertasura”. Surakarta: Monografi 3 Lembaga Penelitian Universitas Muhamadiyah.

 

Alkotsar, Artidjo (1984). Advokasi Anak Jalanan”. Jakarta: Rajawali.

 

Anonimus (1980). “Peraturan Pemerintah No. 31/1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Jakarta.

 

Breeman, Jan C (1980). “The Informal Sector in Research, Theory and Practice Comparative Asian Studies”. Rotterdam: Program Publication No. III.

 

Chambers, Robert, (1983). “Rural Development: Putting the Last First”.

 

Friedmann, John. (1979). “Urban Poverty in Latin America, Some Theoretical Considerations”. Upsala: Development Dialogue, Vol. I

 

Hart, Keith (1973). “ Informal Income Opportunities and Urban Employment in Ghana”. Journal of Modern Africana Studies.

 

Humaidy, M.Ali Al (?). “Pergeseran Budaya Mengemis di Masyarakat Desa Pragaan Daya Sumenep Madura”. Pamekasan: STAIN.

 

Iqbali, Saptono. (2005). “Gelandangan-Pengemis (GEPENG) di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem”. Denpasar: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Udayana.

 

Rajab, Budi, (1996). “Persoalan Kemiskinan dalam orientasi Kebijaksanaan Pembangunan”, Bandung: Majalah  Ilmiah PDP Unpad Prakarsa

 

Suparlan, Parsudi (1984). “Gelandangan: Sebuah Konsekuensi Perkembangan Kota, dalam Gelandangan pandangan Ilmu Sosial”. Jakarta: LP3ES.

 

 

 

 

 

 

 

 
Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

Fakultas Pertanian Univ. Dwijendra Denpasar

Ir.      Sosek Fak. Pertanian UNUD, 1987

M.Sc.Social Development, Dept. of

          Sociology and Anthropology,

          Ateneo de Manila Univ. 1994

MMA. Manajemen Agribisnis

          Pascasarjana UNUD, 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS:

Kasus di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja

 

Oleh Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

 

ABSTRAKSI

 

Arus urbanisasi ke Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal sehingga menimbulkan salah satu masalah yaitu terjadinya gelandangan dan pengemis.

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya. Faktor internal meliputi : (i) kemiskinan; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan; (vi) sikap mental. Sedangkan faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

            Oleh karena itu, pemecahan masalahnya harus mencakup dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi daerah tujuan. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara membuka pekerjaan di desa. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

ABSTRACTS

 

Urbanization has been rapidly increased to the cities, such as Denpasar, Gianyar, Tabanan and Singaraja. In the other hand, the job opportunities in the cited cities  have not fully fitted those who urbanize, thus bring them to be beggar.  

 

The research pointed out that there are some reasons of being beggar, namely internal and external factors. These factors could be partially and mutually influenced the beggar. Internal factors consist of (i) poverty; (ii) age; (iii) formal education; (iv) permittance of their parents; (v) low life skill; and (vi) attitude. Meanwhile, the external factors are : (i) hydrologic conditions; (ii) bad agricultural conditions; (iii) poor infrastructures; (iv) limited access to information and capital; and (v) permisiveness of urban people; and (vi) weaknesess of handling.

 

            The alternative solutions should be comprehensively paid attention to the two aspects, namely the village condition and destination cities conditions. It is principally that the solutions should be able to protect them leaving their village to look for job in the cities by opening job opportunities in the village itself. Meanwhile, the beggars in the cities should be handled by making them have no chance to gain money as beggar.

 

 

 

I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Hakekatnya, pembangunan ekonomi di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan peluang berusaha, meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat serta meningkatkan hubungan antar daerah. Secara konsepsional, pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan  bermuara pada manusia sebagai insan yang harus dibangun kehidupannya dan sekaligus merupakan sumberdaya pembangunan yang harus terus ditingkatkan kualitas dan kemampuannya untuk mengangkat harkat dan martabatnya (Chambers, 1983).

 

Kota Denpasar dan kota-kota lainnya di Bali tumbuh juga secara baik dan bahkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Salah satu persoalan yang muncul adalah kesenjangan atau ketimpangan yang semakin besar dalam pembagian pendapatan antara berbagai golongan pendapatan, antara daerah perkotaan dan pedesaan. Ini berarti juga bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat belum berhasil untuk menanggulangi masalah kemiskinan, seperti pengangguran dan masalah sosial-ekonomi lainnya, seperti gelandangan dan pengemis.

           

Tetapi, arus urbanisasi, khususnya yang menuju Kota Denpasar dan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional. Kota Denpasar yang sebagai Ibukota Provinsi Bali menjadi daerah yang “subur” bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota Denpasar termasuk kota-kota lainnya di Bali (seperti Gianyar, Tabanan dan Singaraja) ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki di daerah asal. Apalagi mereka yang melakukan urbanisasi tidak memiliki keterampilan tertentu yang dibutuhkan dan sengaja untuk melakukan kegiatan sebagai gelandangan dan pengemis.

 

Akibatnya, mereka yang dengan sengaja untuk menjadi gelandangan dan pengemis (Gepeng) di kota-kota seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja akan semakin menjadi ”sosok” yang sangat tidak dibutuhkan karena dirasakan mengganggu ketertiban dan keamanan di jalanan termasuk dibeberapa permukiman. Secara umum, mereka yang menjadi Gepeng di ke empat kota seperti yang disebutkan di atas hampir seluruhnya berasal dari Dusun Munti Gunung di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Oleh karena itu, pada penelitian ini juga akan melihat faktor-faktor apa yang menyebabkan mereka menjadi Gepeng?

 

 

1.2 Tujuan Penelitian

 

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi berbagai masalah atau faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai Gepeng baik yang ditemui di daerah asal maupun di daerah tujuan (kota-kota). Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengatasi masalah Gepeng yang ada di kota-kota, seperti Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja.

 

 

II KERANGKA DASAR TEORI

 

2.1 Pengertian Gelandangan dan Pengemis

 

Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum. Sedangkan, pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. (Anon., 1980). Humaidi, (2003) menyatakan bahwa gelandangan berasal dari kata gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana).

 

Menurut Muthalib dan Sudjarwo (dalam IqBali, 2005) diberikan tiga gambaran umum gelandangan, yaitu (1) sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh masyaratnya, (2) orang yang disingkirkan dari kehidupan khalayak ramai, dan (3) orang yang berpola hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan. Ali, dkk., (1990) juga menggambarkan mata pencaharian gelandangan di Kartasura seperti pemulung, peminta-minta, tukang semir sepatu, tukang becak, penjaja makanan, dan pengamen.

 

Harth (1973) mengemukakan bahwa dari kesempatan memperoleh penghasilan yang sah, pengemis dan gelandangan termasuk pekerja sektor informal. Sementara itu, Breman (1980) mengusulkan agar dibedakan tiga kelompok pekerja dalam analisis terhadap kelas sosial di kota, yaitu (1) kelompok yang berusaha sendiri dengan modal dan memiliki ketrampilan; (2) kelompok buruh pada usaha kecil dan kelompok yang berusaha sendiri dengan modal sangat sedikit atau bahkan tanpa modal; dan (3) kelompok miskin yang kegiatannya mirip gelandangan dan pengemis.

 

Sementara itu Alkostar (1984) dalam penelitiannya tentang kehidupan gelandangan melihat bahwa terjadinya gelandangan dan pengemis dapat dibedakan menjadi dua faktor penyebab, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat-sifat malas, tidak mau bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama dan letak geografis.

 

2.2 Kemiskinan

 

Hall dan Midgley (2004), menyatakan kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kondisi  deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi  di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat. Juga, kemiskinan didefenisikan sebagai  ketidaksamaan  kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial (Friedmann, 1979).

 

Kemiskinan merupakan suatu ketidaksanggupan seseorang untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan keperluan-keperluan materialnya (Oscar, dalam Suparlan, 1984). Dalam proses dinamikanya, budaya kemiskinan ini selanjutnya menjadi kondisi yang memperkuat kemiskinan itu sendiri. Keadaan tersebut di atas memberikan indikasi bahwa kemiskinan merupakan penyebab dan sekaligus dampak, dimana masing-masing faktor penyebab sekaligus dampak untuk dan dari faktor-faktor lainnya atau penyebab sirkuler (Rajab, 1996). Sementara itu, Harris (1984) mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan karena keterbatasan faktor-faktor geografis (daerahnya terpencil atau terisolasi, dan terbatasanya prasarana dan sarana), ekologi (keadaan sumber daya tanah/lahan, dan air serta cuaca yang tidak mendukung), teknologi (kesederhanaan sistem teknologi untuk berproduksi), dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan tingkat penghasilannya. Chambers (1983) mengemukakan bahwa sebenarnya orang-orang miskin tidaklah malas, fatalistik, boros, dungu dan bodoh, tetapi mereka sebenarnya adalah pekerja keras, cerdik dan ulet. Argumennya dilandasi bahwa mereka memiliki sifat-sifat tersebut karena untuk dapat mempertahankan hidupnya dan melepaskan diri dari belenggu rantai kemiskinan.

 

 

III METODE PENELITIAN

 

3.1 Lokasi Penelitian

 

Lokasi penelitian ini adalah di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja, dimana pemilihan lokasi ini dilakukan secara “purposive sampling” yaitu pemilihan lokasi atau obyek penelitian secara sengaja dengan beberapa pertimbangan tertentu. Salah satu pertimbangan dipilihnya lokasi penelitian tersebut adalah di kota-kota tersebut memiliki jumlah Gepeng yang cukup besar dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang ada di lima kabupaten lainnya yang  ada di Provinsi Bali (berdasarkan survai awal peneliti dkk. 2007).

 

 

3.2 Populasi dan Responden

 

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Gepeng yang tersebar di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja dimana jumlahnya tidak tercatat karena adanya mobilitas yang tinggi. Guna memudahkan analisis dan memperhatikan keterbatasan waktu, tenaga dan dana yang tersedia, sampel yang ditentukan adalah sebanyak 74 orang yang dipilih secara “incidental sampling” yaitu memberikan sejumlah sampel pada masing-masing kota, dengan rincian sebagai berikut.

1. Kota Denpasar sebanyak   27 orang

2. Kota Gianyar sebanyak  16 orang

3. Kota Tabanan sebanyak  15 orang

4. Kota Singaraja sebanyak  16  orang

 

Selain itu, dilakukan wawancara terhadap responden lainnya yang bersentuhan dengan kegiatan GEPENG, seperti Instansi Pemerintah yang terkait, pengguna jalan tempat GEPENG beroperasi, warga masyarakat di daerah operasi GEPENG, sehubungan dengan masalah yang dihadapinya.

 

3.3 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

 

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik sosial, ekonomi, demografi dan teknis dan data lainnya dari sampel yang berkenaan dengan tujuan penelitian ini. Misalnya mengenai umur, lama pendidikan formal, jenis kelamin, saat memulai menjadi Gepeng, dsb.  Sedangkan data sekunder mencakup kondisi geografis, demografis daerah asal, daerah tujuan Gepeng, dan informasi lainnya yang mendukung tujuan penelitian ini.

Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi langsung dan dokumentasi.

 

3.4 Analisis Data

           

Data yang terkumpul lebih dahulu ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel. Analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan menginterprestasikan sesuai dengan tujuan penelitian.

 

IV. PENYEBAB TERJADINYA GELANDANGAN DAN PENGEMIS

Berdasarkan pada hasil survai dan pengamatan langsung di lokasi penelitian, yaitu  di empat kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja), serta observasi di lokasi daerah asal, yaitu Munti Gunung dan sekitarnya, diperoleh beberapa faktor penyebab terjadinya Gelandangan dan Pengemis (Gepeng). Beberapa faktor penyebab tersebut di antaranya ádalah  faktor yang ada di internal individu dan keluarga Gepeng, internal masyarakat, dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya.

 

4.1 Faktor Internal

 

Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut diuraikan secara ringkas berikut ini.

 

4.1.1 Kemiskinan Individu dan Keluarga  

 

Melalui penelitian yang dilakukan ternyata kemiskinan individu termasuk salah satu faktor yang menentukan terjadinya kegiatan menggelandang dan mengemis. Kondisi ini tercermin dari informasi yang diperoleh bahwa rata-rata penguasaan lahan Gepeng dan keluarganya adalah relatif sempit, yaitu 38,23 are, dengan interval antara 20-60 are. Terbatasnya penguasaan lahan diperburuk lagi oleh kondisi lahan yang tandus, kritis dan kurangnya ketersediaan air, kecuali saat musim hujan mengakibatkan mereka tidak dapat mengusahakan lahannya sepanjang tahun. Oleh karena itu, pada saat musim kemarau Gepeng dan keluarganya mencari penghasilan ke kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) hanya untu memenuhi kebutuhan yang paling mendasar, yaitu kebutuhan pangan.

 

Dengan demikian, kesulitan memperoleh penghasilan dari lahan pertanian yang dikuasainya mendorong mereka untuk meninggalkan desanya dan terpaksa harus mencari penghasilan dengan cara-cara yang mudah dan tanpa memerlukan ketrampilan, yaitu menjadi Gepeng.

4.1.2 Umur

            Ternyata faktor umur memberikan pengaruh yang cukup signifikan, dimana sebagian terbesar (sekitar 74,32 %) dari gelandangan dan pengemis yang ditemui adalah berusia yang masih sangat muda, yaitu kurang dari 13 tahun. Berdasarkan pada wawancara dengan mereka diketahui bahwa faktor umur yang masih muda ini memberikan peluang bagi mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis karena tiadanya memikirkan rasa malu yang terlalu kuat. Bahkan mereka (anak-anak) terlihat riang berlari-lari dan bercanda dengan temannya saat menggepeng. Kondisi ini sangat berbeda atau berbanding terbalik dengan mereka yang telah menginjak usia remaja. Hal ini, tercermin dari hasil penelitian bahwa Gepeng yang berusia antara 15 – 40 tahun tidak ditemukan di empat kota yang menjadi lokasi studi. Hal yang menarik juga terlihat dari penelitian ini, yaitu tidak ditemukannya Gepeng yang berusia  15-40 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa laki-laki yang sudah dewasa sudah merasa tidak pantas lagi menjadi Gepeng karena malu. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa mereka yang berusia remaja telah beralih fungsi pekerjaan menjadi buruh, kuli, pembantu rumah tangga, tukang, termasuk buruh tani, khususnya pada musim-musim panen cengkeh di Kabupaten Buleleng.

            Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan juga bahwa kaum perempuan berumur lebih dari 40 tahun sepertinya memberikan peluang yang lebih besar untuk memperoleh ”belas kasihan” dari penduduk kota. Kondisi tersebut sangat wajar jika dikaji lebih lanjut dimana mereka akan mendapat beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut: (i) calon pemberi uang akan iba melihat seorang ibu dengan anak kecil yang digendongnya; (ii) uang yang diperoleh akan lebih banyak, selain terkadang mereka diberikan juga makanan, khususnya untuk anak yang digendongnya.

4.1.3 Pendidikan Formal

Berkenaan dengan faktor umur tersebut di atas, ternyata faktor pendidikan juga turut mempengaruhi responden untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis. Pada tingkat umur yang masih terkategori anak-anak, semestinya mereka sedang mengikuti kegiatan pendidikan formal di sekolah. Namun, mereka memilih menjadi Gepeng dibandingkan bersekolah karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk kebutuhan sekolah sebagai akibat dari kemiskinan orang tua. Tidak berpendidikannya responden menyebabkan mereka tidak memperoleh pengetahuan atau pemahaman tentang budi pekerti, agama dan ilmu pengetahuan lainnya yang mampu menggugah hati mereka untuk tidak melakukan kegiatan sebagai Gepeng.

4.1. 4 Ijin Orang Tua

            Seluruh anak-anak yang melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka telah mendapat ijin dari orang tuanya dan bahkan disuruh oleh orang tuanya. Melalui wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di desa, alasan tersebut di atas juga dibenarkan mengingat kondisi sosial ekonomi orang tua anak-anak yang menjadi Gepeng di dusun tergolong sangat miskin. Sehingga pada musim kemarau, mereka ”terpaksa” membiarkan anaknya dan ”menyuruh” anaknya untuk ikut mencari penghasilan guna membantu memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

4.1.5 Rendahnya Ketrampilan

            Hasil wawancara terhadap seluruh Gepeng yang beroperasi di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja tidak memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kondisi ini sangat wajar terjadi karena sebagian terbesar dari mereka adalah masih berusia yang belia atau muda. Semestinya mereka sedang menikmati kegiatan akademik atau di dunia pendidikan. Sementara mereka yang tergolong umur relatif lebih tua dan berjenis kelamin perempuan sejak muda tidak pernah memperoleh pendidikan ketrampilan di desa. Oleh karena itu, kegiatan menggelandang dan mengemis adalah pilihan yang paling gampang untuk dilaksanakan guna memperoleh penghasilan secara mudah. Tetapi menurut mereka, mengemis itu terkadang agak sulit untuk memperoleh uang karena harus berkeliling dan mencoba serta mencoba untuk meinta-minta, dimana tidak semua calon pemberi sedekah langsung memberikannya, dan bahkan tidak memperdulikannya.

4.1.6 Sikap Mental

            Kondisi ini terjadi karena di pikiran para Gepeng muncul kecendrungan bahwa pekerjaan yang dilakukannya tersebut adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, selayaknya pekerjaan lain yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan. Ketiadaan sumber-sumber penghasilan dan keterbatasan penguasaan prasarana dan sarana produktif, serta terbatasnya ketrampilan menyebabkan mereka menjadikan mengemis sebagai suatu pekerjaan. Atau dengan kata lain, mereka mengatakan juga bahwa tiada jalan lain selain mengemis untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.  

Selain itu, sikap mental yang malas ini juga didorong oleh lemahnya kontrol warga masyarakat lainnya atau adanya kesan permisif terhadap kegiatan menggelandang dan mengemis yang dilakukan oleh warga karena keadaan ekonomi mereka yang sangat terbatas. Sementara di sisi lain, belum dimilikinya solusi yang tepat dalam jangka pendek bagi mereka yang menjadi Gepeng. Keadaan yang demikian ini juga turut memunculkan dan sedikit menjaga adanya budaya mengemis yang terjadi.

4.2 Faktor Eksternal/Lingkungan

Pada penelitian ini, faktor lingkungan yang dimaksudkan adalah beberapa faktor yang berada di sekeliling atau sekitar responden baik yang di daerah asal maupun di daerah tujuan. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

4.2.1 Kondisi Hidrologis

 

Mempersoalkan kondisi hidrologis di Dusun Munti Gunung, sepertinya tidak dapat dilepaskan juga dari kondisi yang sama di desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Kubu, dimana faktor air merupakan faktor utama sebagai pembatas dalam aktivitas warga. Hanya beberapa wilayah yang berada di dekat pesisir yang dapat memperoleh air sepanjang tahun karena pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum telah membangun sumur-sumur bor dan dilengkapi dengan prasarananya, seperti mesin pompa dan instalasi pipa-pipa.

 

Secara alamiah Dusun Munti Gunung termasuk daerah yang sangat gersang dan tandus sebagai akibat dari keterbatasan ketersediaan air. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena fakta membuktikan curah hujan yang rendah dan musim kemarau yang panjang. Pada musim ini, mereka yang tergolong miskin sangat kesulitan untuk memperoleh air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi inilah yang kemudian mendorong bagi warga masyarakat yang miskin dengan ”terpaksa” harus keluar dari dusunnya untuk mencari penghasilan karena pada periode musim kemarau tersebut mereka tidak dapat melakukan aktivitas ekonomis. Perlu diketahui juga bahwa, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah pertanian. 

 

4.2.2 Kondisi Pertanian

 

Secara topografis, Dusun Munti Gunung memiliki kondisi yang kurang mendukung jika dihubungkan dengan pengelolaan usahatani atau pembangunan pertanian (termasuk ternak) di lahan kering. Topografinya adalah berbukit atau bergunung ditambah dengan ketiadaan teknologi budidaya pertanian menjadikan penduduk termasuk Gepeng dan keluarganya tidak mampu mengelola lahannya. Apalagi keadaan hidrologisnya sangat tidak mendukung untuk kegiatan pertanian.

 

Penguasaan teknologi pertanian yang terbatas sangat memperparah pengelolaan usahatani di desa. Mereka umumnya menanam tanaman palawija (kacang-kacangan dan umbi-umbian) yang tidak memerlukan banyak air irigasi. Pengunaan bibit, pemupupukan termasuk penanganan hama dan penyakit dapat dikatakan sangat rendah kualitasnya sehingga produktivitas yang dihasilkan juga menjadi rendah. Kondisi yang demikian inilah selanjutnya mengakibatkan mereka memperoleh penghasilan/pendapatan yang rendah, sementara kebutuhan hidup keluarga Gepeng termasuk penduduk lainnya semakin tinggi. Oleh karena itu, terbatasnya sumber dan besarnya pendapatan mendorong mereka untuk keluar dari dusun guna mencari penghasilan di kota.

 

4.2.3 Kondisi Prasarana Fisik

 

Keadaan topografis Dusun Munti Gunung yang berbukit dan secara geografis termasuk terisolasi mengakibatkan pembangunan prasarana fisik seperti jalan, pasar, sekolah, air bersih adalah sangat terbatas. Prasarana transportasi sebagai salah satu prasarana yang pokok, seperti  jalan darat baik yang menghubungkan antar dusun maupun di dalam dusun relatif belum bagus, yaitu sebagian besar merupakan jalan yang tidak beraspal atau merupakan jalan “geladag” (yang hanya diperkeras) atau jalan tanah. Seperti telah disebutkan di depan bahwa sebesar 70 % dari panjang jalan sekitar 18,50 km jalan yang ada di wilayah Dusun Munti Gunung merupakan jalan tanah. Rendahnya kualitas jalan menyebabkan terjadinya inefisiensi di dalam kegiatan transportasi sehingga mengakibatkan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan ekonomis menjadi relatif rendah. Penghasilan yang kecil ini tampaknya juga mendorong mereka meninggalkan dusunnya untuk mencari pekerjaan di luar desa, seperti menggelandang dan mengemis.

 

Prasarana lainnya yang terbatas adalah prasarana air bersih, dimana mereka hanya membangun bak-bak penampungan air yang disebut dengan cubang baik yang dikelola secara kolektif selain secara individual yang berfungsi untuk menampung air hujan. Sebagai penduduk di bawah garis kemiskinan di desa, mereka tertarik mendapatkan uang di kota. ”Kota sebagai tempat mengadu nasib dianggap sebagai faktor penarik hijrahnya orang dari desa ke kota.

 

4.2.4 Terbatasnya Akses Informasi dan Modal Usaha

 

Warga Dusun Munti Gunung memiliki keterbatasan di dalam mengakses informasi baik yang berkenaan dengan berbagai aspek ekonomi produktif, sosial maupun aspek lainnya. Keterbatasan dalam mengakses informasi ini juga diperparah oleh keterbatasan pemilikan prasarana media, seperti televisi, koran dan lain sebagainya. Ternyata, keterbatasan ini diakibatkan juga oleh belum masuknya jaringan listrik secara meluas di Dusun Munti Gunung.

 

Akses lainnya yang sulit untuk diperoleh adalah modal usaha. Kesulitan ini diakibatkan karena perolehan modal usaha memerlukan berberapa syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh warga dusun, termausk keluarga Gepeng. Syarat utama yang dibutuhkan adalah adanya agunan yang berupa sertifikat tanah. Warga dusun dan keluarga Gepeng tidak berani menyerahkan sertifikat tanahnya sebagai agunan karena mereka tidak mau mengambil resko terburuk, yaitu tanahnya disita jika usahanya tidak berhasil.

 

4.2.5 Kondisi Permisif di Kota Tujuan

 

Sikap permisif masyarakat di Kota (Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja) terlihat dari adanya sikap yang memberi bila ada Gepeng yang mendekatinya, baik yang ke rumah, di pinggir jalan, di warung dan lain sebagainya. Rasa kasihan, kepedulian dan berbagi antar sesama umat yang merupakan ajaran moralitas mengakibatkan warga kota memberikan sedekahnya kepada Gepeng. Sementara di sisi lain, pandangan tersebut dimanfaatkannya secara baik guna terus berlaku dengan cara menunjukkan kondisi yang layak untuk mendapatkan rasa welas asih. Selain itu, sikap permisif masih terlihat juga dari dibiarkannya Gepeng melintasi wilayah-wilayah tertentu, seperti di sekitar rumahnya atau di tempat umum. Hasil survai dan observasi menunjukkan juga bahwa terdapat kesulitan bagi warga untuk melarangnya karena mereka hanya melintas. Selain itu, diperoleh informasi juga bahwa warga tidak memiliki hak atau kewajiban untuk menegur apalagi menangkap Gepeng. 

 

4.2.6 Kelemahan Penanganan Gepeng di Kota

 

Walaupun pemerintah di (Kota Denapasar, Kabupaten Gianyar, Tabanan dan Buleleng) telah berupaya secara maksimal di dalam menangani Gepeng di wilayahnya masing-masing, namun hasilnya belum maksimal. Kondisi ini terlihat dari adanya Gepeng yang telah ditangkap dan dikembalikan ke desa akan selalu balik kembali untuk melakukan kegiatannya. Malahan selain ditangkap, Gepeng juga dibina, tetapi ternyata setelah dipulangkan mereka balik kembali. Oleh karena itu, terlihat bahwa penanganan Gepeng belum efektif. Selain itu, meskipun pemerintah seperti di Kota Denpasar telah memasang spanduk yang berisikan agar warga tidak memberikan sedekah kepada Gepeng, namun tetap saja terjadi pemberian sedekah kepada Gepeng.

 

 Upaya yang menimbulkan efek jera  pada Gepeng belum terwujud secara baik, sehingga para Gepeng akan kembali dna kembali lagi setelah tertangkap dan dipulangkan.

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan seperti yang diuraikan di atas dapat disimpulkan bebrapa hal, di antaranya adalah sebagai berikut

  1. Beberapa faktor penyebab terjadinya Gepeng ádalah  faktor internal, yaitu  individu dan keluarga Gepeng serta masyarakat , dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas Gepeng. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya;
  2. Faktor internal dan keluarga yang dimaksudkan ádalah suatu keadaan di dalam diri individu dan keluarga Gepeng yang mendorong mereka untuk melakukan kegiatan menggelandang dan mengemis.  Faktor-faktor tersebut ádalah : (i) kemiskinan individu dan keluarga; yang mencakup penguasaan lahan yang terbatas dan tidak produktif, keterbatasan penguasaan aset produktif, keterbatasan penguasaan modal usaha; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin orang tua; (v) rendahnya tingkat ketrampilan (“life skill”) untuk kegiatan produktif; (vi) sikap mental; dan
  3. Faktor-faktor eksternal mencakup: (i) kondisi hidrologis; (ii) kondisi pertanian; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemahan pananganan Gepeng di kota.

 

5.2 Saran dan Rekomendasi

 

            Penanganan masalah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) di Bali tidak dapat dilepaskan dari penanganan kemiskinan itu sendiri, terutama jika dilihat dari sudut pandang daerah asal Gepeng. Memang, kemiskinan bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kegiatan menggelandangan dan mengemis tetapi bisa juga menjadi akar penyebab. Oleh karena itu, beberapa alternatif pemecahan masalah yang berkenaan dengan penanganan Gepeng dapat ditinjau dari dua aspek yaitu: (i) kondisi di daerah asal; (ii) kondisi di luar daerah asal. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara mengemis. Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan (di Kota Denpasar, Gianyar, Tabanan dan Singaraja). Gepeng yang beroperasi di empat kota tersebut “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi Gepeng di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Marpuji, dkk. (1990). “Gelandangan di Kertasura”. Surakarta: Monografi 3 Lembaga Penelitian Universitas Muhamadiyah.

 

Alkotsar, Artidjo (1984). Advokasi Anak Jalanan”. Jakarta: Rajawali.

 

Anonimus (1980). “Peraturan Pemerintah No. 31/1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Jakarta.

 

Breeman, Jan C (1980). “The Informal Sector in Research, Theory and Practice Comparative Asian Studies”. Rotterdam: Program Publication No. III.

 

Chambers, Robert, (1983). “Rural Development: Putting the Last First”.

 

Friedmann, John. (1979). “Urban Poverty in Latin America, Some Theoretical Considerations”. Upsala: Development Dialogue, Vol. I

 

Hart, Keith (1973). “ Informal Income Opportunities and Urban Employment in Ghana”. Journal of Modern Africana Studies.

 

Humaidy, M.Ali Al (?). “Pergeseran Budaya Mengemis di Masyarakat Desa Pragaan Daya Sumenep Madura”. Pamekasan: STAIN.

 

Iqbali, Saptono. (2005). “Gelandangan-Pengemis (GEPENG) di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem”. Denpasar: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Udayana.

 

Rajab, Budi, (1996). “Persoalan Kemiskinan dalam orientasi Kebijaksanaan Pembangunan”, Bandung: Majalah  Ilmiah PDP Unpad Prakarsa

 

Suparlan, Parsudi (1984). “Gelandangan: Sebuah Konsekuensi Perkembangan Kota, dalam Gelandangan pandangan Ilmu Sosial”. Jakarta: LP3ES.

 

 

 

 

 

 

 

 
Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA

Fakultas Pertanian Univ. Dwijendra Denpasar

Ir.      Sosek Fak. Pertanian UNUD, 1987

M.Sc.Social Development, Dept. of

          Sociology and Anthropology,

          Ateneo de Manila Univ. 1994

MMA. Manajemen Agribisnis

          Pascasarjana UNUD, 2006

July 28, 2009

HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN PENGETAHUAN PETANI MENGENAI FERMENTASI BIJI KAKAO:

Kasus di Subak-abian Asagan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan

 

Oleh Gede Sedana

Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

 

ABSTRACTS

 

            Cocoa is one of the prime comodities in Indonesia including in Bali and Tabanan district. Development of cocoa industry has good potential in supporting the growth of rural development. The production of cocoa beans in Indonesia has been increased, but the quality is very low, such as non-fermented, not proper moisture, high variance of cocoa beans size, high acidity and unqualified taste. The objectives of this research are to know farmers’ attitude and  knowledge, and correlation between their attitude and knowledge, and to describe the reasons of farmers who have not conducted fermentation yet of cocoa beans.

 

            The research was purposively done in Subak-abian Asagan, Sub-district of Selemadeg Timur, Tabanan district. Samples selected were 50 farmers by using simple random sampling. Data were collected by employing quetionaire, interview, observation and documentation. The analysis employed in this research was chi square.

 

            The results of this research pointed out that farmers’ attitude toward cocoa beans fermentation were agreed with the average score 72,50% and its interval was between 62,40% to 89, 40%. Farmers’ knowledge about cocoa beans fermentation were relatively high, 78,20%, in which its interval was between 51,20% to 86,40%. Based on the Chi Square Analysis, there was significant relationship between farmers’ attitude and knowlegde toward cocoa beans fermentation. Some reasons that caused farmers have not done yet the fermentation were nonsignificant prices between fermented cocoa beans and nonfermented one, take longer time, limited equipment for fermentation, get easier to sell non-fermented beans, and lack of farm capital.

 

ABSTRAKSI

 

Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang utama Indonesia termasuk di Provinsi Bali dan Kabupaten Tabanan. Potensi pengembangan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan pembangunan di perdesaan. Produksi biji kakao di Indonesia terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan masih beragam  seperti:   kurang terfermentasi; tidak cukup kering;  ukuran biji tidak seragam;    keasaman tinggi; dan cita rasa sangat beragam seperti terjadi juga di Kabupaten Tabanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap dan pengetahuan petani serta hubungannya mengenai fermentasi biji kakao, dan mengetahui alasan-alasan petani belum melakukan fermentasi.

 

Penelitian ini dilakukan di Subak-abian Asagan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan yang dipilih secara purposif. Jumlah sampel yang diambil secara “simple random sampling” adalah sebanyak 50 petani. Data dikumpulkan dengan teknik kuesioner, wawancara, observasi dan dokumentasi, dimana selanjutnya dianalisis dengan Khi Kuadrat.

 

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi adalah tergolong setuju dengan rata-rata pencapaian skornya sebesar 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%.  Tingkat pengetahuan petani mengenai pengolahan biji kakao secara fermentasi tergolong tinggi yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %.  Berdasarkan pada analisis Khi Kuadrat diperoleh bahwa terdapat hubungan yang nyata antara sikap dengan pengetahuan petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi.  Beberapa alasan yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi adalah perbedaan harga yang tidak signifikan antara biji kakao yang fermentasi dengan yang tidak fermentasi, membutuhkan waktu yang lama, keterbatasan prasarana pengolahan, mudahnya menjual biji kakao asalan dan lemahnya modal usahatani.

 


I. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

Kakao di Indonesia merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang memiliki peranan cukup penting bagi perekonomian nasional secara keseluruhan (Goenadi, dkk., 2005). Beberapa peranan komoditas kakao di antaranya adalah sebagai berikut: (i) sebagai penyedia lapangan kerja bagi warga masyarakat khususnya di perdesaan, (ii) sumber pendapatan dan menambah devisa negara dari hasil non-Migas, dan (iii) mendorong pertumbuhan perekonomian wilayah dan pengembangan agroindustri baik yang sektor hulu maupun hilir.

 

Lebih lanjut Goenadi, dkk., (2005) menyebutkan juga bahwa kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending, sehingga dari sisi kualitas kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia,  dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor selain memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, potensi pengembangan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan adalah sangat terbuka. Produksi biji kakao di Indonesia terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan masih beragam  seperti:   kurang terfermentasi; tidak cukup kering;  ukuran biji tidak seragam;  kadar kulit tingi;  keasaman tinggi; dan cita rasa sangat beragam.

 

Kondisi tersebut di atas disebabkan karena agribisnis kakao di Indonesia termasuk di Bali masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao.

 

Sentra kakao di Bali adalah di Kabupaten Tabanan dan Jembrana, dimana kakao juga merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan selain kopi, cengkeh dan kelapa. Kebijaksanaan Dinas Perkebunan terhadap pengembangan kakao adalah mencakup beberapa hal, yaitu: (i) peningkatan produktivitas; (ii) peningkatan mutu olahan dan mendorong proporsi kakao fermentasi; (iii) mendorong tumbuhnya usaha diversifikasi produk menuju produk yang lebih hilir; (iv) mendorong pemanfaatn limbah dan tumbuhnya pola integrasi; (v) penguatan kelembagaan dan SDM; dan (vi) pemantapan dan memperluas akses pasar.

 

 Dewasa ini, perkembangan kakao di Bali cukup pesat, khususnya pada sentra-sentra pengembangan yaitu di di Kabupaten Tabanan dan Jembrana. Perkembangan produksi kakao di Provinsi Bali belum diikuti oleh adanya perbaikan mutu biji kakao sehingga biji kakao yang dihasilkan masih bermutu rendah. Akibatnya adalah harga yang diterima petani masih relatif rendah jika dibandingkan dengan harga di daerah lain seperti Sulawesi, apalagi dibandingkan dengan harga terminal dunia (Sedana, 2008).  Mutu biji kakao yang rendah ini disebabkan oleh cara pengolahan yang masih sederhana, yaitu langsung dijemur dan tidak memeperhatikan kualitas biji yang akan dijual baik kadar air, keasaman, warna, jamur, dan lain sebagainya. Selain itu, para petani belum sepenuhnya melakukan fermentasi secara baik padahal fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao.  Proses fermentasi ini memiliki tujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp dan mematikan biji; memperbaiki dan membentuk citarasa coklat yang enak dan menyenangkan, serta mengurangi rasa sepat dan pahit pada biji (Putra, 2008). 

 

Guna mewujudkan pencapaian tujuan terhadap biji kakao fermentasi, Pemerintah Provinsi Bali telah menginstruksikan kepada Bupati se Bali, instansi terkait, para pengusaha, pedagang pengumpul, pedagang antar pulau, pengurus asosiasi petani kakao indonesia, pengurus subak-abian yang mengusahakan kakao untuk melakukan pengolahan dan pemasaran kakao secara fermentasi. Instruksi ini dituangkan melalui Instruksi Gubernur Nomor 1 tahun 2008 mengenai Pengolahan dan Pemasaran kakao secara Fermentasi (Anon., 2008a). Namun, belum banyak subak-abian yang melakukan fermentasi kakao karena berbagai alasannya. Salah satu subak-abian yang belum melakukan fermentasi padahal telah memperoleh penyuluhan mengenai teknologinya adalah Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Oleh karena itu, penelitian mengenai aspek sosial yang berkenaan dengan pengolahan kakao secara fermentasi perlu dilakukan.

 

1.2 Rumusan Masalah

           

Memperhatikan Latar Belakang Masalah yang disebut di atas, yaitu belum banyak subak-abian yang melakukan pengolahan kakao secara fermentasi, maka masalah yangd irumuskan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah karakteristik petani kakao di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan?;
  2. Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan sikap petani mengenai proses fermentasi biji kakao di Subak-abian Asagan?;
  3. Bagaimanakah hubungan antara pengetahuan dengan sikap petani dengan tingkat pengetahuannya mengenai proses fermentasi biji kakao?; dan
  4. Alasan-alasan apakah yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi akkao?

 

1.3 Tujuan Penelitian

           

Sejalan dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani mengenai proses fermentasi biji kakao di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan;
  2. Untuk mengetahui sikap petani terhadap proses pengolahan kakao melalui fermentasi;
  3. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap petani dengan tingkat pengetahuannya mengenai proses fermentasi biji kakao; dan
  4. Untuk menggambarkan alasan petani belum melakukan fermentasi kako.

 

 

 

1.4 Manfaat Penelitian

 

            Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang memiliki manfaat ganda, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Pada sisi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi input penting bagi pemerintah (pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten) yang hendak mengambil kebijakan yang berkenaan dengan perbaikan kualitas biji kakao melalui proses proses fermentasi. Sementara dari sisi teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan khasanah pengetahuan mengenai aspek sosial petani yang melakukan pengolahan fermentasi terhadap biji kakaonya yang dikaitkan dengan karakteristiknya.

 

II. KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Pengetahuan Petani

 

Pengetahuan merupakan salah satu komponen prilaku petani yang turut menjadi faktor dalam adopsi inovasi. Tingkat pengetahuan petani mempengaruhi petani dalam mengadopsi teknologi baru dan kelanggengan usahataninya. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa dalam mengadopsi pembaharuan atau perubahan, petani memerlukan pengetahuan mengenai aspek teoritis dan pengetahuan praktis. Sebagai salah satu aspek dari prilaku, pengetahuan merupakan suatu kemampuan individu (petani) untuk mengingat-ingat segala  materi yang dipelajari dan kemampuan untuk mengembangkan intelegensi (Soedijanto, 1978).

 

Ancok (dalam Saefudin, 1989) menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan tahap awal terjadinya persepsi yang kemudian melahirkan sikap dan pada gilirannya melahirkan perbuatan atau tindakan.  Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal, akan mendorong terjadinya perubahan perilaku pada diri individu, dimana pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan seseorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya.  Adanya niat yang sungguh-sungguh untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya dapat menentukan apakah kegiatan itu betul-betul dilakukan. Mar’at (1984) mengatakan bahwa pengetahuan memiliki peranan dalam memunculkan sikap dan persepsi seseorang terhadap suatu objek tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya.

 

2.2 Sikap Petani

 

Soediyanto (1978) menyebutkan bahwa sikap petani diartikan sebagai suatu kecenderungan petani untuk bertindak, seperti tidak berprasangka terhadap hal-hal yang belum dikenal, ingin mencoba sesuatu yang baru, mau bergotong royong secara swadaya. Sikap (“attitude”) adalah suatu kecendrungan yang agak stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu didalam situasi tertentu. Senada dengan pendapat tersebut Sarwono (1976) juga menyebutkan bahwa sikap merupakan suatu kesiapan individu untuk mengambil tindakan secara tertentu terhadap objek tertentu yang sedang dihadapinya. Sikap juga diartikan sebagai suatu pandangan atau sikap perasaan, dimana sikap itu diikuti oleh kecenderungan untuk bersikap sesuai dengan objek itu sendiri (Gerungan, 1986).

 

Disebutkan bahwa sikap positif akan terjadi apabila terdapat suatu kecendrungan untuk menerima perilaku yang dianjurkan, dan sebaliknya sikap negatif terjadi jika terdapat kecendrungan yang menolak terhadap suatu objek tertentu. Diantara sikap yang positif dan negatif tersebut terdapat sikap yang ragu-ragu (Nuraini dan Sudarta, 1991).

 

2.3 Fermentasi Kakao

 

Fermentasi kakao merupakan salah satu tahapan penting dalam pasca-panen kakao yaitu sebagai perlakuan pada biji kakao basah untuk memperoleh cita rasa khas cokelat dan memperoleh mutu biji kakao yang baik karena melalui fermentasi biji akan dapat dengan mudah terjadinya pelepasan zat lendir dari permukaan kulit biji dan membentuk cita rasa khas cokelat serta mengurangi rasa pahit dan sepat yang ada dalam biji kakao sehingga menghasilkan biji dengan mutu dan aroma yang baik, serta warna coklat cerah dan bersih (Anon., 2004). 

Wahyudi, dkk., (2008) mengatakan bahwa selama proses berlangsungnya fermentasi biji kakao akan mengalami beberapa perubahan pada aspek fisik, kimia, dan biologi. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi meliputi perubahan pada pulp, kulit biji dan kotiledon (bagian dalam biji). Selain itu, fermentasi yang dilakukan kurang lama akan menghasilkan biji dengan lebih banyak berwarna ungu serta memiliki cita rasa pahit dan sepat yang dominan pada produk akhirnya. Sebaliknya, waktu fermentasi yang berlebihan akan menghasilkan biji dengan warna cokelat gelap, cita rasa kurang, kondisi fisik jauh lebih gelap dari pada hasil fermentasi normal, dan terjadi perubahan pembusukan yang ditandai dengan adanya bau tidak enak pada massa biji. Pada fermentasi yang sempurna terhadap biji kakao akan sangat menentukan citarasa biji kakao dan produk olahannya, selain karena diperoleh dari buah yang masak dan sehat serta proses pengeringan yang baik. Yang dimaksudkan dengan fermentasi sempurna adalah proses fermentasi yang dilakukan selama 5 hari sesuai dengan penelitian Sime-Cadbury (Putra, 2008).

Berdasarkan pada pengalaman petani kakao, pengolahan fermentasi masih enggan dilakukan karena beberapa alasan seperti adanya pedagang pengumpul yang membeli bibi kakao asalan (non-fermentasi), harga biji kakao fermentasi dan non-fermentasi tidak berbeda secara signifikan, pengolahan secara fermentasi merepotkan, keterbatasan prasarana fermentasi (Anon., 2003).     

 

Proses fermentasi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yaitu fermentasi dengan kotak kayu fermentasi dan fermentasi dengan keranjang bambu (Anon., 2008b). Pada proses fermentasi yang menggunakan kotak kayu, pada awalnya biji kakao basah dimasukkan ke dalam peti pertama (tingkat atas) sampai pada ketinggian 40 cm. Permukaan kakao kemudian ditutup dengan karung goni atau daun pisang selama 48 jam (2 hari). Selanjutnya, dilakukan proses pembalikan dan pengadukan biji kakao dengan cara memindahkannya ke peti kedua. Setelah 4-5 hari, biji kakao dikeluarkan dari peti fermentasi dan siap untuk proses selanjutnya, yaitu pengeringan. Proses fermentasi yang menggunakan kotak-kotak kayu inilah yang diterapkan oleh Subak-abian Asagan. 

 

III. METODE PENELITIAN

 

 

3.1. Pemilihan Lokasi Penelitian 

 

            Penelitian ini dilakukan di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Penentuan lokasi ini dilakukan secara ”purposive sampling” atau secara sengaja sebagai lokasi penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

1.   Lokasi Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan  menjadi salah satu binaan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan di dalam pengembangan kakao melalui pengolahan fermentasi;

2.   Secara teknis yaitu agroklimat, pengembangan kakao di wilayah Subak-abian Asagan sangat mendukung sehingga terdapat potensi yang tinggi untuk pengembangannya; dan

3.    Petani-petani di wilayah Subak-abian Asagan belum melakukan fermentasi secara baik dan bahkan tidak ada yang melakukan secara khusus.

 

3.2.  Populasi dan Pemilihan Petani Sampel

 

Pada penelitian ini, populasinya adalah seluruh petani di Subak-abian Asagan yang mengusahakan tanaman kakao yang berjumlah sebanyak  79 KK petani. Berkenaan dengan adanya keterbatasan dana, waktu dan tenaga pada peneliti, maka pada penelitian ini dilakukan teknik sampling untuk memperoleh sampel, sehingga tidak seluruh unit populasi dijadikan sebagai unit penelitian. Oleh karena itu, sebanyak 50 orang diambil sebagai sampel dengan menggunakan teknik “simple random sampling” yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana.

 

3.3. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data 

 

            Terdapat dua jenis data yang diperlukan pada penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun bersifat kuantitatif. Secara umum, pengumpulan data primer dilakukan dengan metode survai yaitu dengan melakukan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau dokumentasi/inventarisasi subak, dan dari buku-buku/laporan-laporan penelitian dan sebagainya yang berkenaan dengan penelitian ini. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, survai, observasi langsung dan dokumentasi (Hadi, 1984).

 

3.4. Metode Pengukuran Variabel

 

Pada penelitian ini, variabel-variabel yang diukur dalam kaitannya dengan tujuan ini adalah variabel sosial, yaitu variabel tingkat sikap, pengetahuan yang berkenaan dengan pengolahan biji kakao secara fermentasi. Skor data sikap dan pengetahuan petani terhadap pengolahan kakao secara fermentasi diukur dengan menggunakan teknik skala likert (Newcomb, et.al., 1978). Skala ini terbentuk dalam lima alternatif jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan. Masing-masing skor tersebut menggambarkan derajat responden terhadap pertanyaan yang diajukan dan skor tersebut dinyatakan dalam bilangan bulat yaitu 1,2,3,4, dan 5 untuk setiap jawaban pertanyaan. Berdasarkan nilai pencapaian skor tersebut dan kategori skornya, sikap petani dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu dari sikap sangat setuju sampai dengan sikap yang sangat tidak setuju. Secara lebih rinci dapat dijelaskan seperti pada Tabel 1. Demikian juga halnya dengan pengukuran variabel pengetahuan. Skor tertinggi diberikan nilai lima terhadap jawaban yang sangat diharapkan dan terendah (1) untuk jawaban yang sangat tidak diharapkan.

 

Tabel 1. Kategori sikap dan pengetahuan berdasarkan persentase pencapaian skor

 

No Kategori sikap % ase Skor Kategori pengetahuan
1 Sangat setuju > 84 – 100 Sangat tinggi
2 Setuju > 68 – 84 Tinggi
3 Ragus-ragu > 52 – 68 Sedang
4 Tidak setuju > 36 – 52 Rendah
5 Sangat tidak setuju    20 < 36 Sangat rendah

 

 

3.5. Analisis Data

 

            Seluruh data yang terkumpul selanjutnya ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel, seperti sikap dan pengetahuan petani. Metode analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dan analisis statistika. Metode deskriptif yang dimaksudkan adalah metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan memberikan interprestasinya sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Sedangkan metode analisis statistika dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara sikap petani dengan pengetahuan. Sesuai dengan tujuan penelitian, metode analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis ”chi square” atau khi kwadrat dengan formula sebagai berikut:

X2 =

 

Keterangan:                 n                      = jumlah sampel

                                    a b, c, d           = frekwensi tabel 2 x 2, seperti pada tabel

             (Djarwanto, 1982).

                        

Tabel 2. Tabel 2 x 2 dengan derajatbebas 1 antara 2 variabel, yaitu dengan koreksi yates

 

 

Variabel I

Vaiabel I

Jumlah

Variabel II

a

b

(a + b)

Variabel II

c

d

(c +d)

Jumlah

(a + c)

(b + d)

n

 

            Penggunaan formulasi dilakukan karena terdapat nilai frekwensi pada satu sel atau lebih yang kurang dari 10 atai dikenal dengan “chi square” dengan koreksi yates. Hipotesis yang dipakai adalah:

Ho = tidak ada hubungannya antara ke dua variabel yang diteliti.

Ha = ada hubungan antara kedua variabel yang diteliti.

 

            Nilai “chi square” hitung (yang diperoleh)selanjutnya dibandingkan dengan nilai x2 tabel dengan probalititas lima persen. Adapun kriteria pengambilan keputusan terhadap kedua nilai tersebut adalah sebagai berikut:

Ho. diterima apabila nilai x2 hitung lebih kecil atau sama dengan nilai x2 tabel.

Ho. ditolak apabila nilai x2 hitung lebih besar daripada nilai x2 tabel.

 

 

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Gambaran Umum Lokasi Penelitian

 

Subak-abian Asagan terletak di Dusun Pondok Kelod Desa gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Secara teknis, pengembangan kakao di wilayah subak-abian ini sangat cocok yaitu dengan ketinggian 0-600 m dpl. Rata-rata temperatur udara yang dibutuhkan untuk tanaman kakao juga mendukung yaitu temperatur  rata-rata bulanan 24 0C – 29 0C, serta  curah hujan antara 1500-2000 mm/th. Selain itu, kondisi fisik tanahnya adalah  gembur dengan pH antara 6-7,5. Kelembaban udara dan sinar matahari merupakan faktor yang juga perlu diperhatikan dan dapat diatur dengan pemangkasan tanaman pelindung dan tanaman kakaonya sendiri.

 

Luas keseluruhan Subak-abian Asagan adalah 41,75 ha dengan luasan tanaman kakao adalah mencapai 25 ha. Selain tanaman kakao yang diusahakan, para petani anggota Subak-abian Asagan juga menanam tanaman kelapa yang sekaligus sebagai tanaman pelindung, selain tanaman lainnya seperti pisang, cengkeh, vanili, dan kopi. Tanaman kakao merupakan tanaman utama bagi petani, yaitu sebagai sumber penghasilan pokok selain dari usahatani lainnya termasuk ternak sapi dan babi.

 

4.2  Karakteristik Petani Sampel

 

Pada penelitian ini, karakteristik sampel yang diukur adalah tingkat umur, lama pendidikan formal, besar anggota keluarga, luas garapan, umur tanaman, banyaknya pohon yang ditanam, produktivitas dan status petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata umur petani sampel adalah 43,26 tahun dengan interval antara 26 tahun sampai dengan 61 tahun, seperti ditunjukkan pada Tabel 3. Kondisi ini mengindikasikan bahwa rata-rata umur petani sampel berada pada usia produktif (15-64 tahun).

 

Tabel 3. Karakteristik petani sampel

 

No Item Rata-rata Interval
1 Umur (tahun)

43,26

26-61

2 Lama pendidikan formal (tahun)

10,20

3-12

3 Besar anggota keluarga (orang)

4,58

3-7

4 Luas garapan (ha)

0,50

0,3-1,2

5 Banyaknya pohon

156

40-600

6 Umur tanaman (th)

14,15

12-20

7 Produktivtas (ton/ha)

500,80

340-650

   

Frekuensi

Prosentase

8 Status petani

  1. Pemilik penggarap
  2. Penyakap

 

46

4

 

92

8

            Sumber: Olahan data primer, 2008

 

 

            Rata-rata lama pendidikan formal petani sampel anggota Subak-abian Asagan adalah 10,20 tahun, dengan kisaran antara 3 tahun sampai dengan 12 tahun. Hal ini berarti bahwa pendidikan formal petani sampel adalah setara dengan tingkat SMP (sekolah Menengah Pertama). Hasil penelitian menunjukkan juga bahwa tidaka da petani sampel yang pernah mengikuti pendidikan pada tingkat perguruan tinggi atau yang sederajat.

 

            Rata-rata besar anggota keluarga petani sampel adalah 4,58 orang dengan kisaran antara 3 orang sampai dengan 7 orang. Berdasarkan pada data yang diperoleh, angka ketergantungan (“dependency ratio”) dalam keluarga petani sampel adalah sebesar 1,2. Ini berarti bahwa dari 100 orang yang berada pada usia produktif menanggung sejumlah     120 orang yang berada pada usia tidak produktif (kurang dari 15 tahun dan lebih dari 65 tahun).

 

            Luas penguasaan lahan yang digarap petani sampel rata-ratanya adalah 0,50 ha dengan kisaran luas antara 0,30 ha sampai dengan 1,20 ha. Luasan lahan yag dikuasai petani menunjukkan bahwa garapan petani untuk mengelola usahatani kakao termasuk relatif sempit, sehingga jumlah tanaman yang dikembangkan masih dibawah jumlah tanaman yang optimum, yaitu sekitar 1.200 pohon/ha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar petani sampel (92 %) merupakan petani pemilik penggarap, dan sebanyak 8% adalah petani penyakap.

 

            Rata-rata jumlah pohon yang ditanam petani sampel adalah tergolong sedikit yaitu 156 pohon per 0,50 ha dengan interval antara 40 pohon sampai dengan 600 pohon. Sedikit jumlah tanaman kakao yang diusahakan disebabkan karena petani juga menanam jenis tanaman lainnya, seperti kelapa, pisang dan cengkeh. Pola diversifikasi usahatani dilakukan petani di atas lahan yang relatif sempit. Tujuannya adalah untuk memperoleh hasil sepanjang tahun dari berbagai jenis tanaman yang disuahakan, jika dibandingkan dengan pengusahaan yang monokultur.

 

            Rata-rato produktivitas kakao yang dihasilkan petani adalah relatif rendah yaitu sekitar 500,8 kg/ha. Rendahnya produktivitas ini disebabkan karena pengusahaan tanaman kakao belum mengaplikasikan teknologi budidaya yang baik (“Good Agricultural Practices”). Hasil penelitian yang mendalam menunjukkan bahwa kondisi ini diakibatkan karena keterbatasan modal usahatani yang dimiliki petani untuk membeli sarana produksi, selain belum dilakukannya teknologi PsPSP (Panen Sering, Pemupukan, Sanitasi dan Pemangkasan) secara baik.

             

4.3  Sikap Petani terhadap Fermentasi Biji Kakao

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa rata-rata pencapaian skor petani sampel terhadap sikapnya adalah 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%. Ini berarti bahwa sikap petani berada pada kategori setuju. Secara lebih rinci, distribusi frekuensi petani berdasarkan pada sikapnya terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi dapat dilihat pada Tabel 4.

 

Tabel 4. Distribusi frekuensi petani berdasarkan sikapnya

 

No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Sangat setuju

8

16

2 Setuju

36

72

3 Ragu-ragu

6

12

4 Tidak setuju

0

0

5 Sangat tidak setuju

0

0

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

Data yang ditunjukan pada Tabel 4 diatas menggambarkan bahwa tidak ada petani sampel yang memiliki sikap tidak setujua dan sangat tidak setuju, meskipun terlihat ada 12 % petani sampel yang mengatakan ragu-ragu terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi. Beberapa komponen yang diukur pada sikap petani ini meliputi manfaat ekonomis fermentasi biji kakao, teknologi fermentasi biji kakao dan prasarana dan sarana pengolahan, mutu biji fermentasi, serta  pemasaran biji kakao fermentasi. Satu hal yang menarik pada penelitian ini adalah adanya sikap petani yang setuju atau positif terhadap fermentasi biji kakao tetapi mereka masih belum melakukan fermentasi secara maksimal.

 

4.4 Pengetahuan Petani terhadap Fermentasi Biji Kakao

 

            Berdasarkan pada hasil survai, diperoleh bahwa rata-rata tingkat pengetahuan petani mengenai fermentasi biji kakao adalah tergolong tinggi, yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %. Seperti halnya pada variabel sikap, komponen yang diukur pada pengetahuan petani ini adalah juga meliputi manfaat ekonomis fermentasi biji kakao, teknologi fermentasi biji kakao dan prasarana dan sarana pengolahan, mutu biji fermentasi, serta  pemasaran biji kakao fermentasi. Secara lebih rinci, distribusi frekuensi petani yang didasarkan pada tingkat pengetahuannya dapat dilihat pada Tabel 5.

 

Tabel 4. Distribusi frekuensi petani berdasarkan pengetahuannya

 

No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Sangat tinggi

6

12

2 Tinggi

28

56

3 Sedang

12

24

4 Rendah

4

8

5 Sangat rendah

0

0

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

            Memperhatikan data yang ditampilkan pada Tabel 5 di atas, terlihat bahwa sebagian besar petani yaitu 56 % memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan hanya sebesar 12 % petani sampel yang memiliki pengetahuan sangat tinggi. Terlihat pula bahwa sebanyak 32 % petani sampel memiliki tingkat pengetahuan yang sedang dan rendah, dan ternyata tidak ada petani yang memiliki tingkat pengethauan sangat rendah. Kondisi ini tampak wajar terjadi karena pemerintah melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan dan Dinas Perkebunan Provinsi Bali sering melakukan penyuluhan mengenai fermentasi dan sekaligus memperkenalkan beberapa eksporter kepada para petani. Selain itu, lembaga AMARTA yang dibiayai oleh USAID secara intensif memberikan pelatihan-pelatihan mengenai teknologi budidaya dan paska-panen untuk komoditas kakao sejak tahun 2007.

 

4.5 Hubungan antara Sikap dan Pengetahuan Petani

 

            Berdasarkan pada hasil penelitian dapat dilakukan analisis statistika yaitu menggunakan Uji Khi Kuadrat terhadap variabel sikap dan pengetahuan. Dengan menggunakan formulasi seperti disebutkan di Bab III, dapat dianalisa hubungan antara sikap dengan pengetahuan melalui data frekuensi yang ditujukkan pada Tabel 6.

 

 

            Tabel 6 Frekuensi petani dalam setiap kategori sikap dan pengetahuan

Variabel

Sikap

Jumlah

Pengetahuan

< 72,50

> 72,50

< 78,20

6

12

18

> 78,20

4

28

32

Jumlah

10

40

50

 

Berdasarkan dengan rumus Khi Kuadrat, diperoleh bahwa :

X2 =

 

            50(6×28 – 12×4)625

     =  ———————————

            10 x 40 x 18 x 32

 

      =   16,28

 

Jika dibandingkan antara X2 hitung yang besarnya 16,28 dengan nilai X2 tabel 5 % yaitu sebesar 3,841, maka nilai Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan yang nyata antara variabel sikap dengan pengetahuan petani mengenai pengolahn biji kakao secara fermentasi. Kondisi ini mendukung pendapat Ancok (dalam Saefudin, 1989) bahwa pengetahuan merupakan tahap awal terjadinya persepsi yang kemudian melahirkan sikap dan pada gilirannya melahirkan perbuatan atau tindakan. Meskipun pada penelitian ini belum ditemukan tindakan petani untuk melakukan fermentasi. Tentunya hal ini dapat diterangkan dengan melihat beberapa alasannya.

 

4.6 Alasan Petani Belum Melakukan Fermentasi

 

            Berdasarkan pada survai yang dilakukan, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan petani sampel belum melakukan fermentasi meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuannya tingi dan sikapnya positif terhadap fermentasi biji kakao. Beberapa alasan yang diungkapkan petani sampel adalah seperti yang disajikan pada Tabel 7.

 

            Tabel 7. Alasan-alasan petani (utama) tidak melakukan fermentasi biji kakao

 

No Alasan Frekuensi Prosentase
1 Perbedaan harga yang tidak signifikan

10

20

2 Membutuhkan waktu yang lama

10

20

3 Keterbatasan prasarana pengolahan

8

16

4 Mudahnya menjual biji kakao asalan

16

32

5 Lemahnya modal usahatani

6

12

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

            Berdasarkan pada data yang disajikan pada Tabel 7 terlihat bahwa alasan utama yang paling banyak diungkapkan oleh petani adalah karena mudahnya menjual biji kakao dalam bentuk asalan, yaitu diungkapkan oleh 32 % petani sampel. Perlu dicatat, sebenarnya alasan-alasan yang dimiliki oleh setiap petani adalah lebih dari satu alasan. Ini berarti bahwa terdapat beberapa alasan yang saling terkait antara satu alasan dengan alasan yang lainnya.

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

 

            Memperhatikan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu sebagai berikut.

1. Sikap petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi adalah tergolong setuju dengan rata-rata pencapaian skornya sebesar 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%.

2. Tingkat pengetahuan petani mengenai pengolahan biji kakao secara fermentasi tergolong tinggi yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %.

3. Berdasarkan pada analisis Khi Kuadrat diperoleh bahwa terdapat hubungan yang nyata antara sikap dengan pengetahuan petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi.

4. Beberapa alasan yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi adalah perbedaan harga yang tidak signifikan antara biji kakao yang fermentasi dengan yang tidak fermentasi, membutuhkan waktu yang lama, keterbatasan prasarana pengolahan, mudahnya menjual biji kakao asalan dan lemahnya modal usahatani.

 

5.2 Saran

 

            Berdasarkan pada simpulan diatas dapat disarankan kepada pemerintah khususnya Dinas Perkebunan Provinsi Bali dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan agar memberikan bantuan prasarana pengolahan secara fermentasi yang diikuti dengan kegiatan lainnya seperti penyediaan modal usaha serta penyuluhan-penyuluhan mengenai kualitas biji kakao yang berstandar internasional guna dapat memperoleh harga yang lebih tinggi. Oleh karena itu, terlihat adanya perbedaan yang nyata antara harga biji kakao yang fermentasi dengan tidak fermentasi (asalan).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimus (2003). “Tak Mau Repot dengan Fermentasi”. Kompas, 16 Juni 2003. Jakarta.

Anonimus. 2004. ”Standard Prosedur Operasional Kakao Penanganan Biji Kakao di Tingkat Petani”.  Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian.

Anonimus. 2008a. ”Instruksi Gubernur Bali, Nomor 1 tahun 2008 tentang Pengolahan dan Pemasaran Kakao secara Fermentasi”.

Anonimus. 2008b. ”Fermentasi pada Kakao”. http://www.primatani.litbang.deptan.go.id

Djarwanto. 1982. “Statistik Non Paramertrik”, Jogjakarta : BPFE.

 

Gerungan. 1986. “Psikologi Sosial”. Bandung: PT. Erosco Bandung.

 

Goenadi, Didiek, John Bako Baon, Herman dan A.Purwoto (2005). “Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao Di Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

 

Hadi, Sutrisno. 1984.  “ Metode  Statistik “, Jakarta Gunung Agung. 1982.

 

Mar’at. 1984. “Sikap Manusia, Perubahan serta Pengukurannya:. Jakarta: Ghalia Indonesia.

 

Newcomb, Tuner, Converse. 1978. “Psikologi Sosial”. Terjemahan Team Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: CV. Diponegoro.

 

Nuraini, Ni Ketut dan Sudarta, Wayan, 1991. Perilaku Petani Terhadap Pemakaian Insektisida dalam Pengendalian Hama Tanaman Padi di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali. Denpasar: Universitas Udayana.

 

Putra, Adetiya Prananda. 2008. “Fermentasi Biji Kakao”. Http://adetiyapolije.wordpress.com/2008/04/08/fermentasi-biji-kakao.

 

Sedana, Gede. 2008. ”Meningkatkan Daya Saing Usahati Kakao”. Makalah yang disampaikan pada Workshop “Regulations and Policies for the Improvement of Tabanan Cacao Competitiveness”, Tabanan, Bali, 23 May 2008

 

Singarimbun, Masri, Sofian Effendi. 1982. “Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.

 

Soedijanto, 1978. “Beberapa Konsep Proses Belajar dan Implikasinya. Bogor: Institut Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian Ciawi.

 

Saefudin, Azwar. 1989. Sikap Manusia Teori dan Pengalaman. Liberty, Yogyakarta.

 

Wahyudi T, TR Panggabean, Pujiyanto (2008). “Kakao: manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir”. Jakarta: PT. Niaga Swadaya.

 

 

RIWAYAT HIDUP

 

Dilahirkan di Singaraja pada tanggal 1 Desember 1964. Memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana pada tahun 1987. Gelar M.Sc. diperoleh pada Department of Sociology and Anthropology, Ateneo de Manila University pada tahun 1994. Selanjutnya pada tahun 2006 memeperoleh gelar MMA pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Pascasarjana Universitas Udayana.

 

 

HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN PENGETAHUAN PETANI MENGENAI FERMENTASI BIJI KAKAO:

July 28, 2009

HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN PENGETAHUAN PETANI MENGENAI FERMENTASI BIJI KAKAO:

Kasus di Subak-abian Asagan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan

 

Oleh Gede Sedana

Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

 

ABSTRACTS

 

            Cocoa is one of the prime comodities in Indonesia including in Bali and Tabanan district. Development of cocoa industry has good potential in supporting the growth of rural development. The production of cocoa beans in Indonesia has been increased, but the quality is very low, such as non-fermented, not proper moisture, high variance of cocoa beans size, high acidity and unqualified taste. The objectives of this research are to know farmers’ attitude and  knowledge, and correlation between their attitude and knowledge, and to describe the reasons of farmers who have not conducted fermentation yet of cocoa beans.

 

            The research was purposively done in Subak-abian Asagan, Sub-district of Selemadeg Timur, Tabanan district. Samples selected were 50 farmers by using simple random sampling. Data were collected by employing quetionaire, interview, observation and documentation. The analysis employed in this research was chi square.

 

            The results of this research pointed out that farmers’ attitude toward cocoa beans fermentation were agreed with the average score 72,50% and its interval was between 62,40% to 89, 40%. Farmers’ knowledge about cocoa beans fermentation were relatively high, 78,20%, in which its interval was between 51,20% to 86,40%. Based on the Chi Square Analysis, there was significant relationship between farmers’ attitude and knowlegde toward cocoa beans fermentation. Some reasons that caused farmers have not done yet the fermentation were nonsignificant prices between fermented cocoa beans and nonfermented one, take longer time, limited equipment for fermentation, get easier to sell non-fermented beans, and lack of farm capital.

 

ABSTRAKSI

 

Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang utama Indonesia termasuk di Provinsi Bali dan Kabupaten Tabanan. Potensi pengembangan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan pembangunan di perdesaan. Produksi biji kakao di Indonesia terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan masih beragam  seperti:   kurang terfermentasi; tidak cukup kering;  ukuran biji tidak seragam;    keasaman tinggi; dan cita rasa sangat beragam seperti terjadi juga di Kabupaten Tabanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap dan pengetahuan petani serta hubungannya mengenai fermentasi biji kakao, dan mengetahui alasan-alasan petani belum melakukan fermentasi.

 

Penelitian ini dilakukan di Subak-abian Asagan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan yang dipilih secara purposif. Jumlah sampel yang diambil secara “simple random sampling” adalah sebanyak 50 petani. Data dikumpulkan dengan teknik kuesioner, wawancara, observasi dan dokumentasi, dimana selanjutnya dianalisis dengan Khi Kuadrat.

 

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi adalah tergolong setuju dengan rata-rata pencapaian skornya sebesar 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%.  Tingkat pengetahuan petani mengenai pengolahan biji kakao secara fermentasi tergolong tinggi yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %.  Berdasarkan pada analisis Khi Kuadrat diperoleh bahwa terdapat hubungan yang nyata antara sikap dengan pengetahuan petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi.  Beberapa alasan yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi adalah perbedaan harga yang tidak signifikan antara biji kakao yang fermentasi dengan yang tidak fermentasi, membutuhkan waktu yang lama, keterbatasan prasarana pengolahan, mudahnya menjual biji kakao asalan dan lemahnya modal usahatani.

 


I. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

Kakao di Indonesia merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang memiliki peranan cukup penting bagi perekonomian nasional secara keseluruhan (Goenadi, dkk., 2005). Beberapa peranan komoditas kakao di antaranya adalah sebagai berikut: (i) sebagai penyedia lapangan kerja bagi warga masyarakat khususnya di perdesaan, (ii) sumber pendapatan dan menambah devisa negara dari hasil non-Migas, dan (iii) mendorong pertumbuhan perekonomian wilayah dan pengembangan agroindustri baik yang sektor hulu maupun hilir.

 

Lebih lanjut Goenadi, dkk., (2005) menyebutkan juga bahwa kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending, sehingga dari sisi kualitas kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia,  dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor selain memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, potensi pengembangan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan adalah sangat terbuka. Produksi biji kakao di Indonesia terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan masih beragam  seperti:   kurang terfermentasi; tidak cukup kering;  ukuran biji tidak seragam;  kadar kulit tingi;  keasaman tinggi; dan cita rasa sangat beragam.

 

Kondisi tersebut di atas disebabkan karena agribisnis kakao di Indonesia termasuk di Bali masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao.

 

Sentra kakao di Bali adalah di Kabupaten Tabanan dan Jembrana, dimana kakao juga merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan selain kopi, cengkeh dan kelapa. Kebijaksanaan Dinas Perkebunan terhadap pengembangan kakao adalah mencakup beberapa hal, yaitu: (i) peningkatan produktivitas; (ii) peningkatan mutu olahan dan mendorong proporsi kakao fermentasi; (iii) mendorong tumbuhnya usaha diversifikasi produk menuju produk yang lebih hilir; (iv) mendorong pemanfaatn limbah dan tumbuhnya pola integrasi; (v) penguatan kelembagaan dan SDM; dan (vi) pemantapan dan memperluas akses pasar.

 

 Dewasa ini, perkembangan kakao di Bali cukup pesat, khususnya pada sentra-sentra pengembangan yaitu di di Kabupaten Tabanan dan Jembrana. Perkembangan produksi kakao di Provinsi Bali belum diikuti oleh adanya perbaikan mutu biji kakao sehingga biji kakao yang dihasilkan masih bermutu rendah. Akibatnya adalah harga yang diterima petani masih relatif rendah jika dibandingkan dengan harga di daerah lain seperti Sulawesi, apalagi dibandingkan dengan harga terminal dunia (Sedana, 2008).  Mutu biji kakao yang rendah ini disebabkan oleh cara pengolahan yang masih sederhana, yaitu langsung dijemur dan tidak memeperhatikan kualitas biji yang akan dijual baik kadar air, keasaman, warna, jamur, dan lain sebagainya. Selain itu, para petani belum sepenuhnya melakukan fermentasi secara baik padahal fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao.  Proses fermentasi ini memiliki tujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp dan mematikan biji; memperbaiki dan membentuk citarasa coklat yang enak dan menyenangkan, serta mengurangi rasa sepat dan pahit pada biji (Putra, 2008). 

 

Guna mewujudkan pencapaian tujuan terhadap biji kakao fermentasi, Pemerintah Provinsi Bali telah menginstruksikan kepada Bupati se Bali, instansi terkait, para pengusaha, pedagang pengumpul, pedagang antar pulau, pengurus asosiasi petani kakao indonesia, pengurus subak-abian yang mengusahakan kakao untuk melakukan pengolahan dan pemasaran kakao secara fermentasi. Instruksi ini dituangkan melalui Instruksi Gubernur Nomor 1 tahun 2008 mengenai Pengolahan dan Pemasaran kakao secara Fermentasi (Anon., 2008a). Namun, belum banyak subak-abian yang melakukan fermentasi kakao karena berbagai alasannya. Salah satu subak-abian yang belum melakukan fermentasi padahal telah memperoleh penyuluhan mengenai teknologinya adalah Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Oleh karena itu, penelitian mengenai aspek sosial yang berkenaan dengan pengolahan kakao secara fermentasi perlu dilakukan.

 

1.2 Rumusan Masalah

           

Memperhatikan Latar Belakang Masalah yang disebut di atas, yaitu belum banyak subak-abian yang melakukan pengolahan kakao secara fermentasi, maka masalah yangd irumuskan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah karakteristik petani kakao di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan?;
  2. Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan sikap petani mengenai proses fermentasi biji kakao di Subak-abian Asagan?;
  3. Bagaimanakah hubungan antara pengetahuan dengan sikap petani dengan tingkat pengetahuannya mengenai proses fermentasi biji kakao?; dan
  4. Alasan-alasan apakah yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi akkao?

 

1.3 Tujuan Penelitian

           

Sejalan dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani mengenai proses fermentasi biji kakao di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan;
  2. Untuk mengetahui sikap petani terhadap proses pengolahan kakao melalui fermentasi;
  3. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap petani dengan tingkat pengetahuannya mengenai proses fermentasi biji kakao; dan
  4. Untuk menggambarkan alasan petani belum melakukan fermentasi kako.

 

 

 

1.4 Manfaat Penelitian

 

            Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang memiliki manfaat ganda, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Pada sisi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi input penting bagi pemerintah (pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten) yang hendak mengambil kebijakan yang berkenaan dengan perbaikan kualitas biji kakao melalui proses proses fermentasi. Sementara dari sisi teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan khasanah pengetahuan mengenai aspek sosial petani yang melakukan pengolahan fermentasi terhadap biji kakaonya yang dikaitkan dengan karakteristiknya.

 

II. KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Pengetahuan Petani

 

Pengetahuan merupakan salah satu komponen prilaku petani yang turut menjadi faktor dalam adopsi inovasi. Tingkat pengetahuan petani mempengaruhi petani dalam mengadopsi teknologi baru dan kelanggengan usahataninya. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa dalam mengadopsi pembaharuan atau perubahan, petani memerlukan pengetahuan mengenai aspek teoritis dan pengetahuan praktis. Sebagai salah satu aspek dari prilaku, pengetahuan merupakan suatu kemampuan individu (petani) untuk mengingat-ingat segala  materi yang dipelajari dan kemampuan untuk mengembangkan intelegensi (Soedijanto, 1978).

 

Ancok (dalam Saefudin, 1989) menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan tahap awal terjadinya persepsi yang kemudian melahirkan sikap dan pada gilirannya melahirkan perbuatan atau tindakan.  Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal, akan mendorong terjadinya perubahan perilaku pada diri individu, dimana pengetahuan tentang manfaat suatu hal akan menyebabkan seseorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya.  Adanya niat yang sungguh-sungguh untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya dapat menentukan apakah kegiatan itu betul-betul dilakukan. Mar’at (1984) mengatakan bahwa pengetahuan memiliki peranan dalam memunculkan sikap dan persepsi seseorang terhadap suatu objek tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuannya.

 

2.2 Sikap Petani

 

Soediyanto (1978) menyebutkan bahwa sikap petani diartikan sebagai suatu kecenderungan petani untuk bertindak, seperti tidak berprasangka terhadap hal-hal yang belum dikenal, ingin mencoba sesuatu yang baru, mau bergotong royong secara swadaya. Sikap (“attitude”) adalah suatu kecendrungan yang agak stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu didalam situasi tertentu. Senada dengan pendapat tersebut Sarwono (1976) juga menyebutkan bahwa sikap merupakan suatu kesiapan individu untuk mengambil tindakan secara tertentu terhadap objek tertentu yang sedang dihadapinya. Sikap juga diartikan sebagai suatu pandangan atau sikap perasaan, dimana sikap itu diikuti oleh kecenderungan untuk bersikap sesuai dengan objek itu sendiri (Gerungan, 1986).

 

Disebutkan bahwa sikap positif akan terjadi apabila terdapat suatu kecendrungan untuk menerima perilaku yang dianjurkan, dan sebaliknya sikap negatif terjadi jika terdapat kecendrungan yang menolak terhadap suatu objek tertentu. Diantara sikap yang positif dan negatif tersebut terdapat sikap yang ragu-ragu (Nuraini dan Sudarta, 1991).

 

2.3 Fermentasi Kakao

 

Fermentasi kakao merupakan salah satu tahapan penting dalam pasca-panen kakao yaitu sebagai perlakuan pada biji kakao basah untuk memperoleh cita rasa khas cokelat dan memperoleh mutu biji kakao yang baik karena melalui fermentasi biji akan dapat dengan mudah terjadinya pelepasan zat lendir dari permukaan kulit biji dan membentuk cita rasa khas cokelat serta mengurangi rasa pahit dan sepat yang ada dalam biji kakao sehingga menghasilkan biji dengan mutu dan aroma yang baik, serta warna coklat cerah dan bersih (Anon., 2004). 

Wahyudi, dkk., (2008) mengatakan bahwa selama proses berlangsungnya fermentasi biji kakao akan mengalami beberapa perubahan pada aspek fisik, kimia, dan biologi. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi meliputi perubahan pada pulp, kulit biji dan kotiledon (bagian dalam biji). Selain itu, fermentasi yang dilakukan kurang lama akan menghasilkan biji dengan lebih banyak berwarna ungu serta memiliki cita rasa pahit dan sepat yang dominan pada produk akhirnya. Sebaliknya, waktu fermentasi yang berlebihan akan menghasilkan biji dengan warna cokelat gelap, cita rasa kurang, kondisi fisik jauh lebih gelap dari pada hasil fermentasi normal, dan terjadi perubahan pembusukan yang ditandai dengan adanya bau tidak enak pada massa biji. Pada fermentasi yang sempurna terhadap biji kakao akan sangat menentukan citarasa biji kakao dan produk olahannya, selain karena diperoleh dari buah yang masak dan sehat serta proses pengeringan yang baik. Yang dimaksudkan dengan fermentasi sempurna adalah proses fermentasi yang dilakukan selama 5 hari sesuai dengan penelitian Sime-Cadbury (Putra, 2008).

Berdasarkan pada pengalaman petani kakao, pengolahan fermentasi masih enggan dilakukan karena beberapa alasan seperti adanya pedagang pengumpul yang membeli bibi kakao asalan (non-fermentasi), harga biji kakao fermentasi dan non-fermentasi tidak berbeda secara signifikan, pengolahan secara fermentasi merepotkan, keterbatasan prasarana fermentasi (Anon., 2003).     

 

Proses fermentasi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yaitu fermentasi dengan kotak kayu fermentasi dan fermentasi dengan keranjang bambu (Anon., 2008b). Pada proses fermentasi yang menggunakan kotak kayu, pada awalnya biji kakao basah dimasukkan ke dalam peti pertama (tingkat atas) sampai pada ketinggian 40 cm. Permukaan kakao kemudian ditutup dengan karung goni atau daun pisang selama 48 jam (2 hari). Selanjutnya, dilakukan proses pembalikan dan pengadukan biji kakao dengan cara memindahkannya ke peti kedua. Setelah 4-5 hari, biji kakao dikeluarkan dari peti fermentasi dan siap untuk proses selanjutnya, yaitu pengeringan. Proses fermentasi yang menggunakan kotak-kotak kayu inilah yang diterapkan oleh Subak-abian Asagan. 

 

III. METODE PENELITIAN

 

 

3.1. Pemilihan Lokasi Penelitian 

 

            Penelitian ini dilakukan di Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Penentuan lokasi ini dilakukan secara ”purposive sampling” atau secara sengaja sebagai lokasi penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

1.   Lokasi Subak-abian Asagan, di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan  menjadi salah satu binaan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan di dalam pengembangan kakao melalui pengolahan fermentasi;

2.   Secara teknis yaitu agroklimat, pengembangan kakao di wilayah Subak-abian Asagan sangat mendukung sehingga terdapat potensi yang tinggi untuk pengembangannya; dan

3.    Petani-petani di wilayah Subak-abian Asagan belum melakukan fermentasi secara baik dan bahkan tidak ada yang melakukan secara khusus.

 

3.2.  Populasi dan Pemilihan Petani Sampel

 

Pada penelitian ini, populasinya adalah seluruh petani di Subak-abian Asagan yang mengusahakan tanaman kakao yang berjumlah sebanyak  79 KK petani. Berkenaan dengan adanya keterbatasan dana, waktu dan tenaga pada peneliti, maka pada penelitian ini dilakukan teknik sampling untuk memperoleh sampel, sehingga tidak seluruh unit populasi dijadikan sebagai unit penelitian. Oleh karena itu, sebanyak 50 orang diambil sebagai sampel dengan menggunakan teknik “simple random sampling” yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana.

 

3.3. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data 

 

            Terdapat dua jenis data yang diperlukan pada penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun bersifat kuantitatif. Secara umum, pengumpulan data primer dilakukan dengan metode survai yaitu dengan melakukan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau dokumentasi/inventarisasi subak, dan dari buku-buku/laporan-laporan penelitian dan sebagainya yang berkenaan dengan penelitian ini. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, survai, observasi langsung dan dokumentasi (Hadi, 1984).

 

3.4. Metode Pengukuran Variabel

 

Pada penelitian ini, variabel-variabel yang diukur dalam kaitannya dengan tujuan ini adalah variabel sosial, yaitu variabel tingkat sikap, pengetahuan yang berkenaan dengan pengolahan biji kakao secara fermentasi. Skor data sikap dan pengetahuan petani terhadap pengolahan kakao secara fermentasi diukur dengan menggunakan teknik skala likert (Newcomb, et.al., 1978). Skala ini terbentuk dalam lima alternatif jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan. Masing-masing skor tersebut menggambarkan derajat responden terhadap pertanyaan yang diajukan dan skor tersebut dinyatakan dalam bilangan bulat yaitu 1,2,3,4, dan 5 untuk setiap jawaban pertanyaan. Berdasarkan nilai pencapaian skor tersebut dan kategori skornya, sikap petani dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu dari sikap sangat setuju sampai dengan sikap yang sangat tidak setuju. Secara lebih rinci dapat dijelaskan seperti pada Tabel 1. Demikian juga halnya dengan pengukuran variabel pengetahuan. Skor tertinggi diberikan nilai lima terhadap jawaban yang sangat diharapkan dan terendah (1) untuk jawaban yang sangat tidak diharapkan.

 

Tabel 1. Kategori sikap dan pengetahuan berdasarkan persentase pencapaian skor

 

No Kategori sikap % ase Skor Kategori pengetahuan
1 Sangat setuju > 84 – 100 Sangat tinggi
2 Setuju > 68 – 84 Tinggi
3 Ragus-ragu > 52 – 68 Sedang
4 Tidak setuju > 36 – 52 Rendah
5 Sangat tidak setuju    20 < 36 Sangat rendah

 

 

3.5. Analisis Data

 

            Seluruh data yang terkumpul selanjutnya ditabulasi yang didasarkan pada masing-masing variabel, seperti sikap dan pengetahuan petani. Metode analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dan analisis statistika. Metode deskriptif yang dimaksudkan adalah metode yang dipergunakan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) terhadap variabel-variabel yang diteliti dan memberikan interprestasinya sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Sedangkan metode analisis statistika dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara sikap petani dengan pengetahuan. Sesuai dengan tujuan penelitian, metode analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis ”chi square” atau khi kwadrat dengan formula sebagai berikut:

X2 =

 

Keterangan:                 n                      = jumlah sampel

                                    a b, c, d           = frekwensi tabel 2 x 2, seperti pada tabel

             (Djarwanto, 1982).

                        

Tabel 2. Tabel 2 x 2 dengan derajatbebas 1 antara 2 variabel, yaitu dengan koreksi yates

 

 

Variabel I

Vaiabel I

Jumlah

Variabel II

a

b

(a + b)

Variabel II

c

d

(c +d)

Jumlah

(a + c)

(b + d)

n

 

            Penggunaan formulasi dilakukan karena terdapat nilai frekwensi pada satu sel atau lebih yang kurang dari 10 atai dikenal dengan “chi square” dengan koreksi yates. Hipotesis yang dipakai adalah:

Ho = tidak ada hubungannya antara ke dua variabel yang diteliti.

Ha = ada hubungan antara kedua variabel yang diteliti.

 

            Nilai “chi square” hitung (yang diperoleh)selanjutnya dibandingkan dengan nilai x2 tabel dengan probalititas lima persen. Adapun kriteria pengambilan keputusan terhadap kedua nilai tersebut adalah sebagai berikut:

Ho. diterima apabila nilai x2 hitung lebih kecil atau sama dengan nilai x2 tabel.

Ho. ditolak apabila nilai x2 hitung lebih besar daripada nilai x2 tabel.

 

 

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Gambaran Umum Lokasi Penelitian

 

Subak-abian Asagan terletak di Dusun Pondok Kelod Desa gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Secara teknis, pengembangan kakao di wilayah subak-abian ini sangat cocok yaitu dengan ketinggian 0-600 m dpl. Rata-rata temperatur udara yang dibutuhkan untuk tanaman kakao juga mendukung yaitu temperatur  rata-rata bulanan 24 0C – 29 0C, serta  curah hujan antara 1500-2000 mm/th. Selain itu, kondisi fisik tanahnya adalah  gembur dengan pH antara 6-7,5. Kelembaban udara dan sinar matahari merupakan faktor yang juga perlu diperhatikan dan dapat diatur dengan pemangkasan tanaman pelindung dan tanaman kakaonya sendiri.

 

Luas keseluruhan Subak-abian Asagan adalah 41,75 ha dengan luasan tanaman kakao adalah mencapai 25 ha. Selain tanaman kakao yang diusahakan, para petani anggota Subak-abian Asagan juga menanam tanaman kelapa yang sekaligus sebagai tanaman pelindung, selain tanaman lainnya seperti pisang, cengkeh, vanili, dan kopi. Tanaman kakao merupakan tanaman utama bagi petani, yaitu sebagai sumber penghasilan pokok selain dari usahatani lainnya termasuk ternak sapi dan babi.

 

4.2  Karakteristik Petani Sampel

 

Pada penelitian ini, karakteristik sampel yang diukur adalah tingkat umur, lama pendidikan formal, besar anggota keluarga, luas garapan, umur tanaman, banyaknya pohon yang ditanam, produktivitas dan status petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata umur petani sampel adalah 43,26 tahun dengan interval antara 26 tahun sampai dengan 61 tahun, seperti ditunjukkan pada Tabel 3. Kondisi ini mengindikasikan bahwa rata-rata umur petani sampel berada pada usia produktif (15-64 tahun).

 

Tabel 3. Karakteristik petani sampel

 

No Item Rata-rata Interval
1 Umur (tahun)

43,26

26-61

2 Lama pendidikan formal (tahun)

10,20

3-12

3 Besar anggota keluarga (orang)

4,58

3-7

4 Luas garapan (ha)

0,50

0,3-1,2

5 Banyaknya pohon

156

40-600

6 Umur tanaman (th)

14,15

12-20

7 Produktivtas (ton/ha)

500,80

340-650

   

Frekuensi

Prosentase

8 Status petani

  1. Pemilik penggarap
  2. Penyakap

 

46

4

 

92

8

            Sumber: Olahan data primer, 2008

 

 

            Rata-rata lama pendidikan formal petani sampel anggota Subak-abian Asagan adalah 10,20 tahun, dengan kisaran antara 3 tahun sampai dengan 12 tahun. Hal ini berarti bahwa pendidikan formal petani sampel adalah setara dengan tingkat SMP (sekolah Menengah Pertama). Hasil penelitian menunjukkan juga bahwa tidaka da petani sampel yang pernah mengikuti pendidikan pada tingkat perguruan tinggi atau yang sederajat.

 

            Rata-rata besar anggota keluarga petani sampel adalah 4,58 orang dengan kisaran antara 3 orang sampai dengan 7 orang. Berdasarkan pada data yang diperoleh, angka ketergantungan (“dependency ratio”) dalam keluarga petani sampel adalah sebesar 1,2. Ini berarti bahwa dari 100 orang yang berada pada usia produktif menanggung sejumlah     120 orang yang berada pada usia tidak produktif (kurang dari 15 tahun dan lebih dari 65 tahun).

 

            Luas penguasaan lahan yang digarap petani sampel rata-ratanya adalah 0,50 ha dengan kisaran luas antara 0,30 ha sampai dengan 1,20 ha. Luasan lahan yag dikuasai petani menunjukkan bahwa garapan petani untuk mengelola usahatani kakao termasuk relatif sempit, sehingga jumlah tanaman yang dikembangkan masih dibawah jumlah tanaman yang optimum, yaitu sekitar 1.200 pohon/ha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar petani sampel (92 %) merupakan petani pemilik penggarap, dan sebanyak 8% adalah petani penyakap.

 

            Rata-rata jumlah pohon yang ditanam petani sampel adalah tergolong sedikit yaitu 156 pohon per 0,50 ha dengan interval antara 40 pohon sampai dengan 600 pohon. Sedikit jumlah tanaman kakao yang diusahakan disebabkan karena petani juga menanam jenis tanaman lainnya, seperti kelapa, pisang dan cengkeh. Pola diversifikasi usahatani dilakukan petani di atas lahan yang relatif sempit. Tujuannya adalah untuk memperoleh hasil sepanjang tahun dari berbagai jenis tanaman yang disuahakan, jika dibandingkan dengan pengusahaan yang monokultur.

 

            Rata-rato produktivitas kakao yang dihasilkan petani adalah relatif rendah yaitu sekitar 500,8 kg/ha. Rendahnya produktivitas ini disebabkan karena pengusahaan tanaman kakao belum mengaplikasikan teknologi budidaya yang baik (“Good Agricultural Practices”). Hasil penelitian yang mendalam menunjukkan bahwa kondisi ini diakibatkan karena keterbatasan modal usahatani yang dimiliki petani untuk membeli sarana produksi, selain belum dilakukannya teknologi PsPSP (Panen Sering, Pemupukan, Sanitasi dan Pemangkasan) secara baik.

             

4.3  Sikap Petani terhadap Fermentasi Biji Kakao

 

Berdasarkan pada hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa rata-rata pencapaian skor petani sampel terhadap sikapnya adalah 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%. Ini berarti bahwa sikap petani berada pada kategori setuju. Secara lebih rinci, distribusi frekuensi petani berdasarkan pada sikapnya terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi dapat dilihat pada Tabel 4.

 

Tabel 4. Distribusi frekuensi petani berdasarkan sikapnya

 

No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Sangat setuju

8

16

2 Setuju

36

72

3 Ragu-ragu

6

12

4 Tidak setuju

0

0

5 Sangat tidak setuju

0

0

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

Data yang ditunjukan pada Tabel 4 diatas menggambarkan bahwa tidak ada petani sampel yang memiliki sikap tidak setujua dan sangat tidak setuju, meskipun terlihat ada 12 % petani sampel yang mengatakan ragu-ragu terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi. Beberapa komponen yang diukur pada sikap petani ini meliputi manfaat ekonomis fermentasi biji kakao, teknologi fermentasi biji kakao dan prasarana dan sarana pengolahan, mutu biji fermentasi, serta  pemasaran biji kakao fermentasi. Satu hal yang menarik pada penelitian ini adalah adanya sikap petani yang setuju atau positif terhadap fermentasi biji kakao tetapi mereka masih belum melakukan fermentasi secara maksimal.

 

4.4 Pengetahuan Petani terhadap Fermentasi Biji Kakao

 

            Berdasarkan pada hasil survai, diperoleh bahwa rata-rata tingkat pengetahuan petani mengenai fermentasi biji kakao adalah tergolong tinggi, yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %. Seperti halnya pada variabel sikap, komponen yang diukur pada pengetahuan petani ini adalah juga meliputi manfaat ekonomis fermentasi biji kakao, teknologi fermentasi biji kakao dan prasarana dan sarana pengolahan, mutu biji fermentasi, serta  pemasaran biji kakao fermentasi. Secara lebih rinci, distribusi frekuensi petani yang didasarkan pada tingkat pengetahuannya dapat dilihat pada Tabel 5.

 

Tabel 4. Distribusi frekuensi petani berdasarkan pengetahuannya

 

No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Sangat tinggi

6

12

2 Tinggi

28

56

3 Sedang

12

24

4 Rendah

4

8

5 Sangat rendah

0

0

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

            Memperhatikan data yang ditampilkan pada Tabel 5 di atas, terlihat bahwa sebagian besar petani yaitu 56 % memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan hanya sebesar 12 % petani sampel yang memiliki pengetahuan sangat tinggi. Terlihat pula bahwa sebanyak 32 % petani sampel memiliki tingkat pengetahuan yang sedang dan rendah, dan ternyata tidak ada petani yang memiliki tingkat pengethauan sangat rendah. Kondisi ini tampak wajar terjadi karena pemerintah melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan dan Dinas Perkebunan Provinsi Bali sering melakukan penyuluhan mengenai fermentasi dan sekaligus memperkenalkan beberapa eksporter kepada para petani. Selain itu, lembaga AMARTA yang dibiayai oleh USAID secara intensif memberikan pelatihan-pelatihan mengenai teknologi budidaya dan paska-panen untuk komoditas kakao sejak tahun 2007.

 

4.5 Hubungan antara Sikap dan Pengetahuan Petani

 

            Berdasarkan pada hasil penelitian dapat dilakukan analisis statistika yaitu menggunakan Uji Khi Kuadrat terhadap variabel sikap dan pengetahuan. Dengan menggunakan formulasi seperti disebutkan di Bab III, dapat dianalisa hubungan antara sikap dengan pengetahuan melalui data frekuensi yang ditujukkan pada Tabel 6.

 

 

            Tabel 6 Frekuensi petani dalam setiap kategori sikap dan pengetahuan

Variabel

Sikap

Jumlah

Pengetahuan

< 72,50

> 72,50

< 78,20

6

12

18

> 78,20

4

28

32

Jumlah

10

40

50

 

Berdasarkan dengan rumus Khi Kuadrat, diperoleh bahwa :

X2 =

 

            50(6×28 – 12×4)625

     =  ———————————

            10 x 40 x 18 x 32

 

      =   16,28

 

Jika dibandingkan antara X2 hitung yang besarnya 16,28 dengan nilai X2 tabel 5 % yaitu sebesar 3,841, maka nilai Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan yang nyata antara variabel sikap dengan pengetahuan petani mengenai pengolahn biji kakao secara fermentasi. Kondisi ini mendukung pendapat Ancok (dalam Saefudin, 1989) bahwa pengetahuan merupakan tahap awal terjadinya persepsi yang kemudian melahirkan sikap dan pada gilirannya melahirkan perbuatan atau tindakan. Meskipun pada penelitian ini belum ditemukan tindakan petani untuk melakukan fermentasi. Tentunya hal ini dapat diterangkan dengan melihat beberapa alasannya.

 

4.6 Alasan Petani Belum Melakukan Fermentasi

 

            Berdasarkan pada survai yang dilakukan, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan petani sampel belum melakukan fermentasi meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuannya tingi dan sikapnya positif terhadap fermentasi biji kakao. Beberapa alasan yang diungkapkan petani sampel adalah seperti yang disajikan pada Tabel 7.

 

            Tabel 7. Alasan-alasan petani (utama) tidak melakukan fermentasi biji kakao

 

No Alasan Frekuensi Prosentase
1 Perbedaan harga yang tidak signifikan

10

20

2 Membutuhkan waktu yang lama

10

20

3 Keterbatasan prasarana pengolahan

8

16

4 Mudahnya menjual biji kakao asalan

16

32

5 Lemahnya modal usahatani

6

12

  Jumlah

50

100

Sumber: Olahan data primer, 2008

 

            Berdasarkan pada data yang disajikan pada Tabel 7 terlihat bahwa alasan utama yang paling banyak diungkapkan oleh petani adalah karena mudahnya menjual biji kakao dalam bentuk asalan, yaitu diungkapkan oleh 32 % petani sampel. Perlu dicatat, sebenarnya alasan-alasan yang dimiliki oleh setiap petani adalah lebih dari satu alasan. Ini berarti bahwa terdapat beberapa alasan yang saling terkait antara satu alasan dengan alasan yang lainnya.

 

V. PENUTUP

 

5.1 Simpulan

 

            Memperhatikan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik beberapa simpulan sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu sebagai berikut.

1. Sikap petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi adalah tergolong setuju dengan rata-rata pencapaian skornya sebesar 72,50 % dengan kisaran antara 62,40% sampai dengan 89,40%.

2. Tingkat pengetahuan petani mengenai pengolahan biji kakao secara fermentasi tergolong tinggi yaitu mencapai 78,20 % dengan kisaran antara 51,20% sampai dengan 86,40 %.

3. Berdasarkan pada analisis Khi Kuadrat diperoleh bahwa terdapat hubungan yang nyata antara sikap dengan pengetahuan petani terhadap pengolahan biji kakao secara fermentasi.

4. Beberapa alasan yang menyebabkan petani belum melakukan fermentasi adalah perbedaan harga yang tidak signifikan antara biji kakao yang fermentasi dengan yang tidak fermentasi, membutuhkan waktu yang lama, keterbatasan prasarana pengolahan, mudahnya menjual biji kakao asalan dan lemahnya modal usahatani.

 

5.2 Saran

 

            Berdasarkan pada simpulan diatas dapat disarankan kepada pemerintah khususnya Dinas Perkebunan Provinsi Bali dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tabanan agar memberikan bantuan prasarana pengolahan secara fermentasi yang diikuti dengan kegiatan lainnya seperti penyediaan modal usaha serta penyuluhan-penyuluhan mengenai kualitas biji kakao yang berstandar internasional guna dapat memperoleh harga yang lebih tinggi. Oleh karena itu, terlihat adanya perbedaan yang nyata antara harga biji kakao yang fermentasi dengan tidak fermentasi (asalan).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimus (2003). “Tak Mau Repot dengan Fermentasi”. Kompas, 16 Juni 2003. Jakarta.

Anonimus. 2004. ”Standard Prosedur Operasional Kakao Penanganan Biji Kakao di Tingkat Petani”.  Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian.

Anonimus. 2008a. ”Instruksi Gubernur Bali, Nomor 1 tahun 2008 tentang Pengolahan dan Pemasaran Kakao secara Fermentasi”.

Anonimus. 2008b. ”Fermentasi pada Kakao”. http://www.primatani.litbang.deptan.go.id

Djarwanto. 1982. “Statistik Non Paramertrik”, Jogjakarta : BPFE.

 

Gerungan. 1986. “Psikologi Sosial”. Bandung: PT. Erosco Bandung.

 

Goenadi, Didiek, John Bako Baon, Herman dan A.Purwoto (2005). “Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao Di Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

 

Hadi, Sutrisno. 1984.  “ Metode  Statistik “, Jakarta Gunung Agung. 1982.

 

Mar’at. 1984. “Sikap Manusia, Perubahan serta Pengukurannya:. Jakarta: Ghalia Indonesia.

 

Newcomb, Tuner, Converse. 1978. “Psikologi Sosial”. Terjemahan Team Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: CV. Diponegoro.

 

Nuraini, Ni Ketut dan Sudarta, Wayan, 1991. Perilaku Petani Terhadap Pemakaian Insektisida dalam Pengendalian Hama Tanaman Padi di Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali. Denpasar: Universitas Udayana.

 

Putra, Adetiya Prananda. 2008. “Fermentasi Biji Kakao”. Http://adetiyapolije.wordpress.com/2008/04/08/fermentasi-biji-kakao.

 

Sedana, Gede. 2008. ”Meningkatkan Daya Saing Usahati Kakao”. Makalah yang disampaikan pada Workshop “Regulations and Policies for the Improvement of Tabanan Cacao Competitiveness”, Tabanan, Bali, 23 May 2008

 

Singarimbun, Masri, Sofian Effendi. 1982. “Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.

 

Soedijanto, 1978. “Beberapa Konsep Proses Belajar dan Implikasinya. Bogor: Institut Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian Ciawi.

 

Saefudin, Azwar. 1989. Sikap Manusia Teori dan Pengalaman. Liberty, Yogyakarta.

 

Wahyudi T, TR Panggabean, Pujiyanto (2008). “Kakao: manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir”. Jakarta: PT. Niaga Swadaya.

 

 

RIWAYAT HIDUP

 

Dilahirkan di Singaraja pada tanggal 1 Desember 1964. Memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana pada tahun 1987. Gelar M.Sc. diperoleh pada Department of Sociology and Anthropology, Ateneo de Manila University pada tahun 1994. Selanjutnya pada tahun 2006 memeperoleh gelar MMA pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Pascasarjana Universitas Udayana.

 

 

WUJUDKAN 2009 SEBAGAI TAHUN KEBANGKITAN PERTANIAN MELALUI GERAKAN KASIH SAYANG

July 28, 2009

hello

July 27, 2009

Hello world!

July 27, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!